Contoh Naskah Drama Komedi 6 Orang (Buatan Sendiri)

Oke baiklah, Kali ini saya akan membagikan contoh naskah drama komedi yang melibatkan 6 orang pemain.

Sebagai catatan, saya menulis skenario ini menggunakan Font Courier dengan ukuran font 12. Saya menulis ini menghabiskan sekitar 5-6 halaman di microsoft word. Jika diasumsikan 1 lembar itu sekitar 1 menit durasi adegan, maka contoh naskah drama komedi 6 orang ini berdurasi sekitar kurang lebih 6 menitan.

Oiya, contoh skenario komedi ini sebenarnya lanjutan dari Contoh skenario pendek lucu 3 orang. Jika kamu ingin membaca artikel tersebut, klik saja link nya.

Baiklah, tak perlu panjang lebar, mari baca naskah drama komedi di bawah ini.
Contoh Naskah Drama Komedi 6 Orang (Buatan Sendiri)

Contoh Naskah Drama Komedi 6 Orang

KAMPUNG HOROK

oleh Jeffri Ardiyanto


2. EXT. DEPAN BALAIDESA KAMPUNG HOROK – PAGI
Cast : Junaedi, Adul, Pak RT,Pak Lurah, Bu Lurah, Asisten, dan warga

Balaidesa yang sangat sederhana. Di depannya ada dua buah meja dan kursi masing-masing disebelah kanan dan kiri pintu masuk ruangan balaidesa. Di depannya terdapat pendopo yang sedang dalam tahap pembangunan. Banyak karung semen berjejer, pasir yang masih menggunung. Dan peralatan tukang bangunan masih tergeletak agak rapi.

Sebagian besar warga desa sudah berkumpul di depan balai desa dengan sibuk berbicara satu sama lain. Ada ibu yang sedang menggendong bayinya sambil mengobrol dengan ibu lainnya, ada bapak-bapak merokok sambil berbicara dengan sesamanya, dan ada juga yang menunduk bermain hape.

Tiba-tiba lewat mobil yang berjualan tahu goreng dadakan.


OS SPEAKER
“Tahu tahu bulat, digoreng dadakan, lima ratusan, gurih-gurih nyoi...”

Serentak semua warga desa berhenti dari aktifitasnya masing-masing lalu melihat ke arah mobil tahu bulat yang berjalan pelan.

Setelah mobil itu pergi menjauh, warga kembali ke aktifitasnya masing-masing.

Junaedi dan Adul datang ke depan balaidesa. Junaedi mulai bingung melihat banyak warga kumpul. Lalu dia menghampiri Pak RT yang juga hadir.

JUNAEDI
(mengernyitkan dahi)
“Pak, Ini sebenarnya ada apa to?”

Pak RT memandang Junaedi yang berada di sebelah kirinya.

PAK RT
(senyum)
“Anu pak, aku juga tidak tahu ini. Tapi yang jelas ada informasi penting yang bakal disampaikan”

Pak RT lalu menghadapkan pandangannya ke arah depan melihat kerumunan warga.

PAK RT Cont’D
“Semoga sih, kabar baik ya pak Junaedi”

Lalu Pak RT menoleh ke kirinya, ternyata Junaedi tidak ada.

PAK RT Cont’D
“Loh?! Horok!”

JUNAEDI
“Saya disini pak”

Pak RT terperanjak kaget segera menoleh ke arah sumber suara.Ternyata Junaedi berada di sisi kanan sambil menepuk pundak Pak RT.

PAK RT
“Horok, ngagetin aja Pak Jun”

JUNAEDI
(ketawa)
“Maaf pak hehe”

Kemudian datang Pak Lurah didampingi Asisten dan Pegawai PNS lainnya di beranda Balaidesa. Warga serentak terdiam dan mulai fokus memandang Pak Lurah beserta jajarannya.

Pak Lurah membenarkan posisi kerahnya serta menyapu debu yang menempel di bagian pundak menggunakan tangan.

PAK LURAH
(tegas)
“Assalamualaikum warga kampung Horok. Hari ini saya akan memberikan kabar gembira. Apa itu? Yaitu...”

Pak Lurah merasa gatal dibagian tenggorokkannya. Lalu dia menyuruh asistennya untuk menngambilkan segelas air putih yang berada di atas meja sebelahnya.

Pak Lurah meminum seteguk demi seteguk lalu berdehem.

PAK LURAH
“Okey, baiklah, saya lanjutkan lagi”

Pak Lurah berpikir sejenak lalu menoleh ke asistennya.

PAK LURAH
(berbisik)
“Tadi sampe mana ya?”

ASISTEN
“Anu pak tadi saya sampe solo trus balik lagi ke sini. Jadi maaf kalo agak terlambat tadi datang”

Pak lurah mengernyitkan dahi sambil melototi asistennya. Kemudian dia melihat ke arah kerumunan warganya.

PAK LURAH
“Oya, jadi bapak ibu, mas mbak. Sesuai peraturan pemerintah pusat yang ingin membangun infrastuktur. Alhamdulillah kampung Horok terpilih untuk dibangun jalan tol”

Warga mulai panik dan resah, terlebih Junaedi.

JUNAEDI
“Semisal beneran dibangun jalan tol, banyak rumah warga bakal digusur dan ladang sawah akan semakin menyempit”

Semua warga mendukung dan menyetujui pendapat Junaedi.

PAK LURAH
“Tenang, tenang saudara-saudara. Memang itu...”

Kembali Pak Lurah merasa tenggorakannya gatal. Secara spontan asistennya mengambil gelas air minum lalu memberikan kepada Pak Lurah. Pak Lurah menghabiskan segelas air.

PAK LURAH
(berbisik)
“Tambah lagi”

Asistennya menuangkan air botol kemasan 1 liter ke gelas. Tetapi tiba-tiba, Pak Lurah mengambil sebotol air itu lalu meminumnya sampai habis.

Warga melihat itu agak terheran dan diantara mereka sedikit menelan air ludah masing-masing.

Pak Lurah menaruh botol itu di meja, lalu dia membersihkan sisa air yang menempel di mulutnya.

PAK LURAH
“Jadi gini, bapak ibu, mas mbak. Bukankah terbangunnya jalan tol, ekonomi desa kita akan lebih maju? Banyak yang akan lewat berdatangan. Maka disitu lah lahan emas bagi bapak ibu mas mbak, semisalnya...”

Tiba-tiba datang lagi mobil tahu bulat lewat sambil mengeluarkan suara speaker khasnya. Warga dan termasuk Pak Lurah memandangi mobil itu. Sambil sesekali Pak Lurah menirukan suara tahu bulat dengan sedikit lirih.

Setelah mobil itu pergi, warga kembali menyimak Pak Lurahnya.

PAK LURAH
“Bapak ibu mas mbak kan bisa jualan apa aja. Dijamin laku keras karena desa kita bakal banyak mobil melewati jalan tol. Otomatis banyak diantara itu yang akan mampir di desa kita. Mungkin sekedar makan minum atau mencari penginapan”

Beberapa warga mulai berpikir positif, tetapi tidak dengan Junaedi.

JUNAEDI
“Horok, Itu akal-akalanmu aja Pak Lurah. Memangnya bisa jualan di pinggir jalan tol? Ya gak mungkinlah. Paling juga yang bisa menyewa lahan buat jualan di area pinggir jalan tol itu orang-orang berduit doang Pak”

Warga menyetujui pendapat Junaedi karena dirasa logis.

Pak Lurah tidak mampu menjawab lalu meminta pendapat asistennya. Mereka berbisik-bisik sebentar, lalu kemudian Pak Lurah memandang Junaedi.

PAK LURAH
“Karena ini amanah dari pemerintah pusat, saya akan tetap melanjutkan menyetujui pembangunan jalan tol di sini. Mau atau tidak mau. Yang perlu diingat pak Junaedi. Saya yakin Jalan tol disini akan membawa dampak yang positif untuk masyarakat banyak. Terima Kasih”

Pak Lurah beserta jajarannya meninggalkan tempat.

Warga mulai gaduh sendiri, memikirkan nasib rumah dan ladang sawah akan hilang.

JUNAEDI
“Ini gak bisa dibiarkan, kita harus melakukan sesuatu”

PAK RT
“Apa itu pak Jun?”

Lalu Lewat lagi mobil tahu bulat sambil mengeluarkan suara khasnya.

Tiba-tiba mobil itu dilempar satu sendal dari warga. Si sopir menurunkan kaca mobilnya.

SUPIR
(marah)
“Woy! Tadi siapa yang ngelempar?!”

Mendengar bentakan itu, warga kesal lalu memandangi sopir itu dengan mata melotot. Sopir merubah wajahnya dari kesal menjadi tersenyum sambil menundukkan kepala.

SOPIR
“Te sate te sate, ini bukan tahu bulat, ini te sate te sate”

Mobil itu melaju agak cepat lalu pergi menghilang.

Junaedi menggaruk-garuk kepalanya lalu wajahnya mulai sumringah.

JUNAEDI
“Ah oiya, aku inget, pasti ini mimpi kan? Horok, tak kuduga selama ini, pasti ini mimpi kan? Hahaha”

Adul, Pak RT, dan warga terheran-heran melihat Junaedi.

JUNAEDI
(berpikir sejenak)
“Sebelumnya udah kali saya ngimpi aneh. Dan pasti ini juga mimpi. Haha horok, ketipu saya, bener-bener nyata banget mimpi yang satu ini”

Junaedi lalu menampar-nampar pipinya sambil tersenyum.

JUNAEDI
“Bangun.. bangun...bangunn”

Adul, Pak RT, dan warga melongo melihat itu.

JUNAEDI
“Dul, tampar aku, Dul”

Adul heran sekaligus ragu untuk melakukan itu. Tetapi Junaedi semakin menyuruh dia untuk melakukannya. Sedikit ragu dan ketakutan, Adul menampar pipi kiri Junaedi.

JUNAEDI
(tertawa)
“Yang satunya Dul, satunya, haha”

Adul semakin sedikit ketakutan dengan tangannya gemetaran. Lalu dia mencoba menampar Junaedi sedikit lebih keras dari sebelumnya.

Junaedi masih tertawa dan menyuruh Adul untuk menampar beberapa kali. Karena Adul merasa aman, maka Adul dengan berani menambar beberapa kali pipi Junaedi sambil tertawa.

Lama-kelamaan Junaedi merasa ada yang janggal. Dia menyadari ternyata dia tidak bermimpi. Dari tertawa berubah menjadi amarah emosi kepada Adul.

JUNAEDI
(kesal)
“Adul! Sialan kamu ya? Berani-beraninya nampar aku!”

ADUL
(heran)
“Horok, lah tadi kan anu... kabuuuuurrrr”

Adul melarikan diri lalu dikejar oleh Junaedi sambil teriak-teriak.

Pak RT dan Warga melongo memandangi kejar-kejaran antara Adul dan Junaedi.





Demikian artikel Contoh Naskah Drama Komedi 6 Orang, semoga bermanfaat untuk kamu.

Oiya, jika kamu masih bingung, silahkan berkomentar di kolom komentar, saya siap menjawab dan membantu.

Boleh kamu copas Contoh Naskah Drama Komedi 6 Orang, asalkan kamu sertakan sumber link ini.

Dan boleh kamu pergunakan skenario film ini untuk dibuatkan film, asalkan sertakan nama saya sebagai penulis skenario film nya. Terima Kasih.


0 Response to "Contoh Naskah Drama Komedi 6 Orang (Buatan Sendiri)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel