SIMPLISIA : Pengertian, Jenis, Nama Latin, Manfaat, dan Proses Pembuatan serta Hasil Pengolahannya

Dalam postingan kali ini, saya akan menjabarkan perihal artikel tentang Simplisia. Tidak hanya arti dari Simplisia itu sendiri, namun saya akan kupas tuntas mengenai apa yang dimaksud dengan simplisia, jenis-jenis simplisia, Nama Latin Simplisia, Kegunaan, Proses Pembuatan Simplisia, hasil Pengolahan.

Saya menulis artikel ini dengan menggunakan berbagai sumber referensi. Antara lain dari Departemen Kesehatan RI, Buku ilmu obat alam karya Gunawan, BPOM, Materia Medika Indonesia, ilmu Farmakognosi, Makalah Simplisia Farmakognosi, Simplisia Pdf, laporan farmakognosi / simplisia.

Anda juga dapat mendownload kumpulan makalah simplisia atau laporan simplisia dalam bentuk pdf di akhir artikel ini.

Oke, baiklah, kembali kepada pembahasan Simplisa. Silahkan membaca dengan fokus, karena artikel ini akan sangat panjang.



Informasi mengenai Simplisia sebenarnya masuk dalam ilmu pelajaran Farmakognosi.

Farmakognosi adalah atau merupakan bagian, biokimia, dan kimia sintesis sehingga ruang lingkupnya menjadi luas seperti yang didefinisikan sebagai fluduger, yaitu penggunakan secara serentak sebagai cabang ilmu pengetahuan untuk memperoleh segala segi yang perlu diketahui tentang obat.

Jadi, di bidang farmasi, mengenal sebagian tanaman dapat dimanfaatkan menjadi obat-obatan, sedangkan masyarakat umum, sebagian besar memanfaatkan tanamana sebagai makanan.

Oke, baiklah, kembali kepada pembahasan Simplisa. Silahkan membaca dengan fokus, karena artikel ini akan sangat panjang.


#1 APA ITU SIMPLISIA 


Ada beberapa arti atau pengertian dari simplisia itu sendiri. Maka dari itu, saya akan berikan penjelasan selengkap mungkin. Anda dapat memilihnya sendiri.

Sebenarnya, Simplisia itu adalah bentuk jamak dari Simpleks. Dan kata Simpleks itu berasal dari kata Simple, yang memiliki maksud satu atau sederhana.

Jadi istilah simplisia itu bisa dikatakan untuk penyebutan bahan-bahan obat alam yang masih berada dalam wujud aslinya atau sama sekali belum mengalami perubahan bentuk apapun, kecuali dikeringkan.

*Apa yang dimaksud dengan Simplisia, antara lain :
  • Menurut Departemen Kesehatan (DEPKES) RI Simplisia adalah bahan alami yang digunakan untuk obat dan belum mengalami perubahan proses apa pun, dan kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang telah dikeringkan.
  • Menurut Badan Pengawas obat dan Makanan Republik Indonesia, tahun 2005. Pengertian dari Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat tradisional yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain merupakan bahan yang dikeringkan.
  • Simplisia atau herbal adalah bahan alam yang telah dikeringkan yang digunakan untuk pengobatan dan belum mengalami pengolahan, kecuali dinyatakan lain suhu pengeringan simplisia tidak lebih dari 600C (Ditjen POM, 2008).
  • Simplisia merupakan bahan awal pembuatan sediaan herbal. Mutu sediaan herbal sangat dipengaruhi oleh mutu simplisia yang digunakan. Oleh karena itu, sumber simplisia, cara pengolahan, dan penyimpanan harus dapat dilakukan dengan cara yang baik. Simplisia adalah bahan alam yang digunakan sebagai bahan sediaan herbal yang belum mengalami pengolahan apapun dan kecuali dinyatakan lain simplisia merupakan bahan yang telah dikeringkan (Ditjen POM, 2005).
  • Simplisia merupakan bahan alami yang digunakan sebagi bahan baku obat yang mengalami pengolahan atau baru dirajang saja, tetapi sudah dikeringkan.
  • Pengertian simplisia menurut farmakope indonesia edisi III adalah bahan alam yang digunakan sebagai obat alam yang belum mengalami pengolahan apapun juga kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan.
  • Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan.
  • Secara umum simplisia dapat didefinisikan sebagai sample yang digunakan sebelum memasuki proses yang lebih lanjut seperti ekstraksi, isolasi dan formulasi.

Simplisia juga berkaitan erat dengan Materia Medika Indonesia.

Pengertian Materia Medika Indonesia adalah pedoman bagi simplisia yang akan digunakan untuk keperluan pengobatan, tetapi tidak berlaku bagi bahan yang dipergunakan untuk keperluan lainnya yang dijual dengan nama yang sama. 

Yang akan saya jelaskan disini adalah simplisia nabati yang secara umum merupakan produk hasil pertanian tumbuhan obat setelah melalui proses paska panen dan proses preparasi secara sederhana menjadi bentuk produk kefarmasian yang siap dipakai atau siap diproses selanjutnya, yaitu.
  • Siap dipakai dalam bentuk serbuk halus untuk diseduh sebelum diminum (jamu)
  • Siap dipakai untuk dicacah dan digodok sebagai jamu godokan (infus)
  • Diproses selanjutnya untuk dijadikan produk sediaan farmasi lain yang umumnya melalui proses ekstraksi, separasi dan pemurnian.
Standarisasi simplisia mempunyai pengertian bahwa simplisia yang akan digunakan untuk obat sebagai bahan baku harus memenuhi persyaratan yang tercantum dalam monografi terbitan resmi Departemen Kesehatan (Materia Medika Indonesia). Sedangkan sebagai produk yang langsung dikonsumsi (serbuk jamu dan lain-lain) masih harus memenuhi persyaratan produk kefarmasian sesuai dengan peraturan yang berlaku. Standarisasi suatu simplisia tidak lain merupakan pemenuhan terhadap persyaratan sebagai bahan dan penetapan nilai berbagai parameter dari produk seperti yang ditetapkan sebelumnya.


Nah, jadi sekarang anda sudah tahu arti dari Simplisia, ya kan?


Tentu saja, pengetahuan tentang Simplisia yang bisa disebut juga sebagai tanaman obat yang berkhasiat, sudah menjadi barang komoditi yang populer, misalnya jamu gendong tradisional.

Di Indonesia, negara yang termasuk sebagai pusat dari keaneragaman hayati. Lebih dari 30.000 spesies tumbuhan, ada di Negara yang memiliki nama lain, yakni Nusantara. Setidaknya 9.600 spesies tumbuhan berkhasiat untuk obat dan kurang lebih yakni 300 spesies telah dipergunakan untuk obat tradisional, baik industri maupun obat tradisional.

Tidak kurang dari 1.650 spesies tumbuhan di Semenanjung Malaya mempunyai khasiat sebagai obat dan Indonesia mempunyai 9.606 spesies tumbuhan yang berfungsi sebagai obat serta terdapat 1.260 spesies tumbuhan obat yang secara pasti berasal dari hutan tropika Indonesia (Zuhud et al.1994).

Jadi jangan heran, jika nenek moyang kita memiliki badan yang kuat serta sehat, karena mereka sering menggunakan simplisia untuk dijadikan obat jamu tradisional. Bahkan untuk jaman modern sekarang ini, obat tradisional tidak pernah kalah dengan obat kimia. Karena obat tradisional sudah terbukti berkhasiat secara ilmiah.


#2 JENIS-JENIS atau Penggolongan SIMPLISIA

Berbicara mengenai Simplisia, tentunya Simplisia dibagi atau dibedakan menjadi tiga golongan / macam, yakni : simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia pelikan (mineral).

Simplisia Nabati

Simplisia yang dapat berupa tanaman utuh, bagian tanaman, eksudat tanaman, atau gabungan antara ketiganya, misalnya Datura Folium dan Piperis nigri Fructus.

Simplisia nabati sering berasal dan berupa seluruh bagian tumbuhan, tetapi sering berupa bagian atau organ tumbuhan seperti akar, kulit akar, batang, kulit batang, kayu, bagian bunga dan sebagainya. Di samping itu, terdapat eksudat seperti gom, lateks, tragakanta, oleoresin, dan sebagainya.

Menurut Departemen Kesehatan (Depkes) RI, tahun 2000,

Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu sengaja dikeluarkan dari selnya atau senyawa nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tumbuhannya dan belum berupa senyawa kimia murni.

Eksudat tanaman dapat berupa zat-zat atau bahan-bahan nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan atau diisolasi dari tanamannya.

Contoh bahan nabati yang sering digunakan sebagai obat antara lain dapat berasal dari kulit tumbuhan. Kulit buah delima atau Punica granatum yang berkhasiat sebagai obat cacing. Akar tapak dara yang berkhasiat sebagai obat diabetes, obat kanker. Daun saga yang berkhasiat sebagai obat sariawan, obat batuk. Bunga cengkeh yang berkhasiat untuk menghilangkan mual dan muntah. Buah mahkota dewa yang berkhasiat untuk obat asam urat. Biji kopi yang berkhasiat sebagi penawar racun dan lain lain.

Biasanya, simplisia dijadikan obat-obatan tradisional dalam bentuk larutan, serbuk, tablet, maupun kapsul.

Pada umumnya jenis-jenis yang dapat dimanfaatkan sebagai simplisia nabati dapat berasal dari dua sumber, yaitu :
  • Yang berasal dari hasil alami dengan cara mengumpulkan jenis-jenis tumbuhan obat dari hutan-hutan, tepi sungai, kebun, gunung atau di tempat terbuka lainnya 
  • Yang berasal dari hasil penanaman atau budidaya baik secara kecil-kecilan oleh petani ataupun besar-besaran oleh perkebunan (Bank Sentral Republik Indonesia, 2005).

Simplisia Hewani

Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni, misalnya minyak ikan (Oleum iecoris asselli) dan madu (Mel depuratum).

Simplisia hewani merupakan simplisia atau bahan yang berasal dari hewan meliputi kulit, daging ataupun tulang. Contoh pemanfaatan simplisia dari hewan adalah pembuatan kapsul yang berasal dari tulang ikan lele.

Untuk mendapatkan simplisia berkualitas bagus, biasanya menggunakan hewan piaraan seperti misalnya tawon untuk menghasilkan madu yang memiliki kualitas premium.

Sebagai contoh lagi, bahan obat seperti lanolin, produk susu, hormon, produk endokrin dan beberapa enzim diperoleh dari hewan peliharaan seperti domba, sapi, babi dan lain-lain. Sumber produk kelenjar hewan dan enzim biasanya berasal dari rumah penjagalan atau tempat pemotongan hewan, dan dalam jumlah besar dapat dijadikan bahan obat dalam farmasi.


Simplisia Pelikan atau Mineral.

Simplisia berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa bahan kimia murni, contoh serbuk seng dan serbuk tembaga. (DepKes RI 1989).

Contoh simplisia yang berasal dari mineral antara lain Paraffinum liquidum, paraffinum solidum dan vaselin. Cara memperoleh simplisia mineral biasanya melakukan teknik penyulingan sebagai contoh untuk mendapatkan paraffinum solidum adalah dengan menyuling residu minyak kasar hingga menjadi destilat dan diolah dengan bantuan asam sulfat dan natrium hidroksida.


Nah, untuk pemberian nama atau penyebutan simplisia, biasanya didasarkan atas gabungan nama spesies diikuti dengan nama bagian tanaman. Misalnya, merica dengan nama spesies Piperis albi maka nama simplisianya disebut Piperis albi fructus. Fructus menunjukkan nama bagian tanaman yang digunakan yaitu buahnya.

Khusus untuk Simplisia tanaman obat termasuk dalam golongan simplisia nabati.


#3 TATA NAMA LATIN SIMPLISIA

Nama Latin dari Bagian Tanaman Yang digunakan dalam Tata Nama Simplisia.

Nama Latin
Bagian Tanaman
Radix
Akar
Rhizome
Rimpang
Tubera
Umbi
Flos
Bunga
Fructus
Buah
Semen
Biji
Lignum
Kayu
Cortex
Kulit kayu
Caulis
Batang
Folia
Daun
Herba
Seluruh tanaman
Amylum
Pati
Thallus
Bagian dari tanaman rendah
Bulbus
Umbi lapis



Di bawah ini penjelasan lengkapnya:
  • Kulit (Cortex) adalah kulit bagian terluar dari tanaman tingkat tinggi yang berkayu
  • Kayu (lignum) merupakan pemanfaatan bagian dari batang atau cabang
  • Daun (folium) merupakan jenis simplisia yang paling umum digunakan sebagai bahan baku ramuan obat tradisional maupun minyak atsiri. Sebagai contoh adalah daun kumis kucing, daun tabat barito, daun kemuning, daun keji.
  • Herba umumnya berupa produk tanaman obat dari jenis herba yang bersifat herbaceous
  • Bunga (flos) dapat berupa bunga tungga atau majemuk, bagian bunga majemuk serta komponen penyusun bunga
  • Akar (radix) yang sering dimanfaatkan untuk bahan obat dapat berasal dari jenis tanaman yang umumnya berbatang lunak dan memiliki kandungan air yang tinggi. Sebagai contoh akar alang-alang, akar wangi, gandapura.
  • Umbi (bulbus) adalah produk berupa potongan eajangan umbi lapis, umbi akar, atau umbi batang. Bentuk ukutan umbi bermacam-macam tergantung dari jenis tanamannya.
  • Rimpang (rhizoma) atau Empon-empon adalah produk tanaman obat berupa potongan-potongan atau irisan rimpang. Sebagai contoh adalah dari jenis jahe-jahean seperti : jahe, kencur, lengkuas, kunyit, lempuyang, temulawak, temu putih dan lain-lain.
  • Buah (fructus) ada yang lunak dan ada pula yang keras. Buah yang lunak akan menghasilkan simplisia dengan bentuk dan warna yang sangat berbeda, khususnya bila buah masih dalam keadaan segar.
  • Kulit buah (perikarpium) ada yang lunka, keras bahkan ada pula yang ulet dengan bentuk bervariasi
  • Biji (semen) diambil dari buah yang telah masak sehingga umumnnya sangat keras. Bentuk dan ukuran simplisia biji pun bermacam-macam tergantung dari jenis tanaman. Sebagai contoh adalah biji kapulaga, jintan, mrica, kedawung, kecipir (botor), senggani dan lain-lain.
  • Simplisia batang, bagian yang dimanfaatkan sebagai obat adalah batangnya. Sebagai contoh adalah cendana, pule, pasak bumi dan lain-lain.


Nama Latin Simplisia Tanaman Obat dan Kegunaannya
RHIZOMA

1. Nama latin : BOESENBERGIAE RHIZOMA
Nama lain : Temu kunci
Kegunaan : antidiare
2. Nama latin : CALAMI RHIZOMA
Nama lain : dlingo, jaringau
Kegunaan : bahan pewangi, karminativa, insektisida, demam nifas
3. Nama latin : CURCUMAE RHIZOMA
Nama lain : temu lawak, koneng gede
Kegunaan : kolagoga. Antispasmodik, amara
4. Nama latin : CURCUMAE AERUGINOSAE RHIZOMA
Nama lain : temu hitam
Kegunaan : bagian dari jamu, antirematika, karminativa
5. Nama latin : CURCUMAE DOMESTICAE RHIZOMA
Nama lain : kunyit
Kegunaan : karminativa, antidiare, kolagoga, skabisida
6. Nama latin : CURCUMAE HEYNEANAE RHIZOMA
Nama lain : rimpang temu giring
Kegunaan : antiseptika kulit, anthelmintika
7. Nama latin : CYPERI RHIZOMA
Nama lain : rimpang teki
Kegunaan : diuretika, stomakika
8. Nama latin : IMPERATAE RHIZOMA
Nama lain : akar alang-alang
Kegunaan : diuretika, antipiretika
9. Nama latin : KAEMPFERIAE RHIZOMA
Nama lain : kencur
Kegunaan ; ekspetransia, diaforetika, karminativa, stimulansia, roboransia
10. Nama latin : LANGUATIS RHIZOMA
Nama lain : lengkuas
Kegunaan : bumbu, karminativa, antifungi
11. Nama latin : ZINGIBERIS RHIZOMA
Nama lain : jahe
Kegunaan : karminativa, stimulansia, diaforetika
12. Nama latin : ZINGIBERIS AROMATICAE RHIZOMA
Nama lain : lempuyang wangi
Kegunaan : karminativa, stomakika
13. Nama latin : ZINGIBERIS LITTORALIS RHIZOMA
Nama lain : lempuyang pahit
Kegunaan : stomakika
14. Nama latin : ZINGIBERIS PURPUREI RHIZOMA
Nama lain : panglay
Kegunaan : karminativa, menghangatkan badan
15. Nama latin : ZINGIBERIS ZERUMBETI RHIZOMA
Nama lain : lenpuyang gajah
Kegunaan : karminativa, stomakika

RADIX

1. Nama latin : CATHARANTHI RADIX
Nama lain : akar tapak dara
Kegunaan : peluruh kemih (emenagoga), obat diabetes, obat kanker
2. Nama latin : DERRIDIS RADIX
Nama lain : akar tuba
Kegunaan : racun panah, racun ikan, skabisida, insektisida
3. Nama latin : ELEPHANTOPI RADIX
Nama lain : akar tapak liman
Kegunaan : anti demam
4. Nama latin : EURYCOMAE RADIX
Nama lain : akar pasak bumi
Kegunaan : diuretia, antipiretika, aprodisiaka
5. Nama latin : GLYCYRRHIZAE RADIX
Nama lain : akar manis
Kegunaan : antitusiv
6. Nama latin ; IPECACUANHAE RADIX
Nama lain : akar ipeka
Kegunaan : – dalam jumlah kecil untuk penambah nafsu makan, -dalam jumlah sedang untuk diaforetika dan ekspetoransia, -dalam jumlah banyak sebagai emetika
7. Nama latin : PANACIS RADIX
Nama lain : ginseng
Kegunaan : amara dan stimulansia
8. Nama latin : RAUWOLFIAE SERPERTINAE RADIX
Nama lain : akar pulepandak
Kegunaan : antihipertensi, dan gangguan neuropsikhiatrik
9. Nama latin : RHEI RADIX
Nama lain : kelembak
Kegunaan : laksantiva
10. Nama latin : VALERIANAE RADIX
Nama lain :akar valerian
Kegunaan : sedativa
11. Nama latin : VETIVERIAE RADIX
Nama lain : akar wangi
Kegunaan : bahan pewangi,diafotertika

CORTEX

1. Nama latin : ALSTONIAE CORTEX
Nama lain : kulit pule
Kegunaan : antipiretika, antimalaria, stomakika, antidiabetika, anthelmintika
2. Nama latin : ALYXIAE CORTEX
Nama lain : pulasari
Kegunaan : bahan pewangi, karminativa, antidemam
3. Nama latin : BURMANI CORTEX
Nama lain : kulit manis jangan
Kegunaan : diaforetika, karminativa, antiiritansia, bahan pewangi, bumbu masak
4. Nama latin : CINCHONAE CORTEX
Nama lain : kulit kina
Kegunaan : antipiretika, antimalaria, amara
5. Nama latin : CINNAMOMI CORTEX
Nama lain : kulit kayu manis
Kegunaan : karminativa, menghangatkan lambung, dicampur dengan adstringensia lainnya untuk obat mencret
6. Nama latin :GRANATI CORTEX
Nama lain : kulit batang delima
Kegunaan : pengelat(astringensia), antelmintika
7. Nama latin : GRANATI FRUCTUS CORTEX
Nama lain : kulit buah dlima
Kegunaan : pengelat usus(adstringensia), obat cacing
8. Nama latin : LITSEAE CORTEX
Nama lain : kulit krangean
Kegunaan : karminativa, spasmolitika, stomakika
9. Nama latin : PARAMERIAE CORTEX
Nama lain : kulit kayu rapat, pegatsih
Kegunaan : pengelat ( atsringensia)
10. Nama latin : SIMPLOCI CORTEX
Nama lain : kulit sariawan
Kegunaan : antisariawan
11. Nama latin : SYZYGII CORTEX
Nama lain : kulit jamblang
Kegunaan : astringensia, obat kencing manis

BULBUS, CORMUS, LIGNUM, CAULIS, TUBER

1. Nama latin : ALII SATIVI BULBUS
Nama lain : bawang putih
Kegunaan : antikolestrol, antiseptika, antispasmodik, antiiritansia
2. Nama latin : COLCHICI CORMUS
Nama lain : daun umbi kolkisi
Kegunaan : antireumatika
3. Nama latin : SANTALI LIGNUM
Nama lain : kayu cendana
Kegunaan : diuretika, karminativa, antispasmodik
4. Nama latin : SAPPAN LIGNUM
Nama lain : kayu secang
Kegunaa :astringensia
5. Nama lain : TINOSPORAE CAULIS
Nama lain : bratawali
Kegunaan : obat demam, tonikum, antidiabetes
6. Nama latin : SOLANI TUBERA
Nama lain : umbi kentang
Kegunaaan : zat tambahan

HERBA

1. Nama latin : ANDROGRAPHIDIS HERBA
Nama lain : sambiloto
Kegunaan :tonikum, antipiretika, diuretika
2. Nama latin : BELLADONNAE HERBA
Nama lain : herba beladon
Kegunaan : sesak nafas, nyeri, nyeri haid, parkinsonisme, parasimpatolitik
3. Nama latin : CENTELLAE HERBA
Nama lain : herba pegagan, daun kaki kuda
Kegunaan : diuretika, amara, tonikum, astringensia, obat sariawan
4. Nama latin : EQUISETI HERBA
Nama lain : greges otot, rumput betung
Kegunaan : diuretika
5. Nama latain : EPHEDRAE EQUISETINAE HERBA
Nama lain : herna ephedra equisetina
Kegunaan : vasodilatansia, obat sesak napas
6. Nama latin : HIRTAE HERBA
Nama lain : patikan kebo, gendong anak
Kegunaan : obat batuk, sedativa
7. Nama latin : HYOSCYAMI HERBA
Nama lain : herba hiosiami
Kegunaan : sesak napas, nyeri, nyeri haid, parkinsonisme, parasimpatolikum, antispasmodik, penenang, melemaskan otot polos
8. Nama latin : MENTHAE ARVENSITIS HERBA
Nama lain : daun poko
Kegunaan : karminativa, antispasmodik, diaforetika
9. Nama lati : MENTHAE PIPERITAE
Nama lain : herba pepermin
Kegunaan : karmninativa
10. Nama latin : PHYLLANTHI HERBA
Nama lain : meniran
Kegunaan : diuretika
11. Nama latin : SERPYLLI HERBA
Nama lain : herba serpili
Kegunaan : ekspetoransia
12. Nama latin : STRAMONII HERBA
Nama lain : herba stramonii
Kegunaan : sesak napas, nyeri, nyeri haid, parkinsonisme
13. Nama latin : THYMI HERBA
Nama lain : herba timi
Kegunaan : obat batuk( ekspetoransia)

FOLIUM

1. Nama latin : ABRI FOLIUM
Nama lain : Daun Saga
Kegunaan : Obat sariawan dan obat batuk
2. Nama latin : ACHILEAE FOLIUM
Nama lain : Daun Seribu
Kegunaan : Antipiretik, diaforeti, karminativa
3. Nama latin : AGLAIAE FOLIUM
Nama lain : Daun Pacar Cina
Kegunaan : Mengurangi haid, obat gonorhoe
4. Nama latin : APII GRAVEOLENTIS FOLIUM
Nama lain : Daun seledri
Kegunaan : memacu enzim pencernaan (stomakika), diuretika
5. Nama latin : BAECKEAE FOLIUM
Nama lain : Daun Jungrahab
Kegunaan : Diuretik, obat sakit perut, muntah emetic
6. Nama latin : BASILICI FOLIUM
Nama lain : Daun selasih
Kegunaan : ekspetoransia, peluruh haid (emenagoga), karminativa, pencegah mual, penambah nafsu makan, adstringensia, antipiretik, pereda kejang, pngobatan pasca persalinan
7. Nama latin : BATATASEAE FOLIUM
Nama lain : Daun ubi jalar
Kegunaan : mempercepat pematangan bisul
8. Nama lain : BLUMEAE FOLIUM
Nama lain : Daun Sembung
Kegunaan : Karminativa, sudorifika, obat batuk adstringen
9. Nama latin : CARICAE FOLIUM
Nama lain : Daun Pepaya
Kegunaan : anti demam, amara, obat disentri
10. Nama latin :CARYOPHYLLI FOLIUM
Nama lain : Daun cengkeh
Kegunaan : aromatic, karminativa, stimulant
11. Nama latin : CASSIAE FOLIUM
Nama lain : Daun ketepeng
Kegunaan : Obat kurap, obat kelainan kulit, pencahar(laksantiva), obat demam, adstringensia
12. Nama latin : COCA FOLIUM
Nama lain : Daun Koka
Keguinaan : diambil kokainnya dipakai untuk membuat minuman koka setelah bebas cocainnya
13. Nama latin : COLEI AMBOINICI FOLIUM
Nama lain : Daun jinten
Kegunaan : antipiretik, sakit kepala ( analgetik), obat luka, sariawan, obat batuk, mules
14. Nama latin : CYMBOPOGONIS FOLIUM
Nama lain : Daun Sereh
Kegunaan : Karminativa, antispasmodic, antipiretik, amara, penghalau serangga
15. Nama latin : DESMODII TRIQUETRI FOLIUM
Nama lain : Daun duduk
Kegunaan :tonikum, diuretic
16. Nama latin : DIGITALIS FOLIUM
Nama lain : Daun digitalis/daun jari
Kegunaan : kardiotonika
17. Nama latin : DIGITALIS LANATAE FOLIUM
Nama lain : daun digitalis lanata
Kegunaan : isolasi, glukosida terutama digoksida
18. Nama latin : ECLIPTAE FOLIUM
Nama lain : Daun urang-aring
Kegunaan : adstringensia, perawatan rambut
19. Nama latin : ELEPHANTOPI FOLIUM
Nama lain : Daun tapak liman
Kegunaan : anti demam, adstringesia
20. Nama latin : GUAZUMAE FOLIUM
Nama lain : Daun jatiblanda
Kegunaan : astringensia, obat langsing
21. Nama latin : GYNURAE PROCUMBENSIS FOLIUM
Nama lain : Daun sambung nyawa
Kegunaan : antipiretik
22. Nama latin : GYNURAE SEGETUM FOLIUM
Nama lain : Daun dewa
Kegunan : antihipertensi
23. Nama latin : HEMIGRAPHIDIS FOLIUM
Nama lain : Daun sambang getih
Kegunaan : diuretic
24. Nama latin : HIBISCI ROSA SINENSIS FOLIUM
Nama lain : Daun kembang sepatu
kegunaan : kompres, peluruh dahak (ekspetoransia), emoliensia
25. Nama latin : JASMINI FOLIUM
Nama lain : Daun melati
Kegunaan : Obat bisul, menghentikan ASI
26. Nama latin : MURRAYAE FOLIUM
Nama lain : Daun kemuning
Kegunaan : antitiroid, obat gonorhoe
27. Nama latin : ORTHOSIPHONIS FOLIUM
Nama lain : Daun kumis kucing, daun remujung, java tea
Kaegunaan : diuretika
28. Nama latin : PERSEAE FOLIUM
Nama lain : Daun advokat
Kegunaan : diuretika
29. Nama latin : PIPERIS FOLIUM
Nama lain : Daun sirih
Kegunaan : antisariawan, antibatuk, antiseptic, obat kumur
30. Nama latin : POLYANTHAE FOLIUM
Nama lain : Daun salam
Kegunaan : antidiare, adstringensia
31. Nama latin : PSIDII FOLIUM
Nama lain : Daun jambu biji
Kegunaan :antidiare, adstringensia
32. Nama latin : SENNAE FOLIUM
Nama lain : daun sena
Kegunaan : pencahar
33. Nama latin : SAUROPI FOLIUM
Nama lain : daun katuk
Kegunaan : memperlancar ASI dan obat bisul
34. Nama latin : SERICOCALYCIS FOLIUM
Nama lain : daun kejibeling, daun ngokilo
Kegunaan : diuretic
35. Nama latin : SONCHI FOLIUM
Nama lain : daun tempuyung
Kegunaan : diuretic, antiurolitiasis
36. Nama latin : SYMPLOCI FOLIUM
Nama lain : daun sariawan
Kegunaan : obat kumur dan sariawan
37. Nama latin : THEAE FOLIUM
Nama lain : daun teh
Kegunaan : antidota pada keracunan alkaloid dan logam-logam berat, analeptika, stimulansia
FLOS
1. Nama latin : CARTHAMI FLOS
Nama lain : kembang pulu, kesumba
Kegunaan : laksantiva
2. Nama latin : CARYOPHYLLI FLOS
Nama lain : cengkeh
Kegunaan : stimulansia, obat mulas, menghilangkan rasa mual muntah
3. Nama latin : JASMINI FLOS
Nama lain : bunga melati
Kegunaan : korigen odoris, antipiretik, penghenti ASI
4. Nama latin : MESSUAE FOLIUM
Nama lain : Bungan nagasari
Kegunaan : antidiare, aromatikum, ekspetoransia
5. Nama latin : PYRETHRI FLOS
Nama lain : Bunga piretri/bunga krisan
Kegunaan : racun serangga
6. Nama latin : WOODFORDIAE FLOS
Nama lain : Bunga sidawayah
Kegunaan : astringensia

FRUCTUS

1. Nama latin : AMOMI FRUCTUS
Nama lain : kapolaga
Kegunan : bumbu masak, bahan pewangi, karminativa, dibuat tingtur
2. Nama latin : ANISI FUCTUS
Nama lain : buah adas manis
Kegunaan : karminativa, obat mulas
3. Nama latin : BRUCEAE FRUCTUS
Nama lain : tambara marica, buah makasar
Kegunaan : obat disentri, hemostatika
4. Nama latin : CAPCISI FRUCTUS
Nama alain : cabe, capsicum cayenne pepper, Lombok
Kegunaan : Stomakikum, tingturnya sebagai obat gosok
5. Nama latin : CAPCISI FRUTESCENTIS FRUCTUS
Nama lain : buah cabe rawit
Kegunaan : stimulansia, stomakika, karminativa
6. Nama latin : COPTICI FRUCTUS
Nama lain : buah mungsi
Kegunaan : karminativa, desinfektansia
7. Nama latin : CORIANDRI FRUCTUS
Nama lain : ketumbar
Kegunaan : Bumbu masak, karminativa
8. Nama latin : CUBEBAE FRUCTUS
Nama latin : Buah kemukus
Kegunaan : obat radang selaput lender, saluran kemih
9. Nama latin : CUMINI FRICTUS
Nama lain : buah jinten putih
Kegunaan : stimulansia, karminativa, stomakikum
10. Nama latin : FOENICULI FRUCTUS
Nama lain : Buah adas
Kegunaan : karminativa, obat mulas, obat gosok anak
11. Nama latin : GOSSYPIUM FRUCTUS
Nama lain : kapas murni
Kegunaan : untuk alat kesehatan
12. Nama latin : ISORAE FRUCTUS
Nama lain : buah puteran, kayu ules
Kegunaan : antidiare
13. Nama latin : MELALEUCAE FRUCTUS
Nama lain : buah kayu putih
Kaegunaan : karminativa
14. Nama latin : MORINDAE CITRIFOLIAE FRUCTUS
Nama lain : mengkudu, pace, buah noni
Kegunaan : antidiare, antihipertensi, roboransia, ekspetoransia
15. Nama latin : PANDANUS FRUCTUS
Nama lain : Papuan red fruit/ buah merah
Kegunaan : obat tumor, kanker, HIV
16. Nama latin : PAPAVERIS FRUCTUS
Nama lain : buah opium, buah candu
Kegunaan : sedative ringan, obat batuk
17. Nama latin : PHALERIAE FRUCTUS
Nama lain : buah mahkota dewa
Kegunaan : antihipertensi, obat asam urat, antidiabetes, lever, kanker, pendarahan, membersihkan racun
18. Nama latin : PIPERIS ALBI FRUCTUS
Nama lain : lada putih, merica putih
Kegunaan : karminativa, bumbu masak
19. Nama latin : PIPERIS NIGRI FRUCTUS
Nama lain : lada hitam, meriva hitam
Kegunaan : karminativa, iritasi local
20. Nama latin : RETROFRACTI FRUCTUS
Nama lain : cabe jawa, lada panjang, cabe jamu
Kegunaan : stimulansia, karminativa, diuretika
21. Nama latin : TAMARINDI PULPA FRUCTUS
Nama lain : asam jawa, pulpa tamarindorum cruda
Kegunaan : pencahar lemah
22. Nama latin : VANILAE FRUCTUS
Nama lain : buah vanili
Kegunaan : bahan pewangi
23. Nama latin : WOODFORDIAE FRUCTUS
Nama lain : buah sidawayah
Kegunaan : adstringensia

SEMEN

1. Nama latin : ARECAE SEMEN
Nama lain : biji pinangm jambe
Kegunaan : memperkecil pupil mata, obat cacing (antelmintika)khususnya cacing pita untuk makan sirih
2. Nama latin : COFFEAE SEMEN
Nama lain : biji kopi
Kegunaan : penawar racun (antidota), antipiretik, diuretic
3. Nama latin : COLAE SEMEN
Nama lain : biji kola
Kegunaan : minuman menyegarkan
4. Nama latin : CUCURBITAE SEMEN
Nama lain : biji labu merah
Kegunaan : obat cacing pita, diberikan dalam emulsa segar
5. Nama latin : FOENIGRAECI SEMEN
Nama lain : biji klabet/cecenet
Kegunaan : bahan pewangi
6. Nama latin : MYRISTICAE SEMEN
Nama lain : pala, nutmeg, nux moschata
Kegunaan : bahanpewangi, karminativa, stimulansia setempat sal pencernaaan, miristin untuk membius
7. Nama latin : MYRISTICAE ARILUS SEMEN
Nama lain : kembang pala, macis
Kegunaan : karminativa, aromatic
8. Nama latin : MYIRISTICAE PERICARPIUM SEMEN
Nama lain : kulit buah pala
Kegunaan : karminativa, aromatic
9. Nama latin : NIGELLAE DAMASCENAE SEMEN
Nama lain : biji jinten hitam manis
Kegunaan : karminativa
10. Nama latin : NIGELLAE SATIVAE SEMEN
Nama lain : biji jinten hitam pahit
Kegunaan : stimulansia, karminatifa, diaforetika
11. Nama latin : PARKIAE SEMEN
Nama lain : biji kedawung
Kegunaan : antidiare, adstringensia
12. Nama latin : STRYCHNI SEMEN
Nama lain : biji strihni
Kegunaan : amara, stimlansia, antidota (keracunan)
AMYLUM
1. Nama latin : AMYLUM MANIHOT
Nama lain : pati singkong
Kegunaan : zat tambahan
2. Nama latin : AMYLUM MAYDIS
Nama lain :pati jagung , maizena corn starch
Kegunaan : zat tambahan
3. Nama latin : AMYLUM ORYZAE
Nama lain : pati beras
Kegunaan : bahan penolong sediaan obat/zat tambahan
4. Nama latin : AMYLUM SOLANI
Nama lain : pati kentang
Kegunaan : zat tambahan
5. Nama latin : AMYLUM TRITICI
Nama lain : pati gandum
Kegunaan : zat tambahan

OLEUM

1. Nama Latin : OLEUM ANISI
Nama lain : minyak adas manis
Kegunaan : obat batuk, perangsang peristaltic pada mulas
2. Nama latin : OLEUM ARACHIDIS
Nama latin : Minyak kacang, peanut oil
Kegunaan : pengganti minyak zaitun pada pembuatan margarine dan sabun
3. Nama latin : OLEUM AURANTII
Nama lain : minyak jeruk manis
Kegunaan : Obat bronchitis menahun, bahan pewangi
4. Nama latin : OLEUM CACAO
Nama lain : Lemak coklat
Kegunaan : kosmetok, suppositoria
5. Nama latin : OLEUM CAJUPUTI
Nama lain : Minyak kayu putih
Kegunaan : sebagai obat gosok pada sakit encok dan rasa nyeri lain, kadang-kadang untuk batuk
6. Nama latin : OLEUM CANANGA
Nama lain : Minyak Kananga
Kegunaan : zat tambahan dan parfum
7. Nama latin : OLEUM CARCHARIDIS
Nama lain : minyak ikan hiu
Kegunaan : sumber kalori dan pengobatan avitaminosis A dan D
8. Nama latin : OLEUM CARYOPHYLI
Nama lain : minyak cengkeh, clove oil
Kegunaan : obat sakit gigi, mules, kadang untuk obat batuk
9. Nama latin : OLEUM CINNAMOMI
Nama lain : Minyak kayu manis
Kegunaan : Obat gosok, mules, pengawet sirup
10. Nama latin : OLEUM CITRI
Nama lain : minyak jeruk, lemon oil
Kegunaan : Obat batuk, perangsang peristaltik pada mulas, bahan pewangi
11. Nama latin : OLEUM CITRONELLAE
Nama lain : minyak sereh
Kegunaan : parfum dan penghalau serangga karena mengandung metilheptanon
12. Nama latin : OLEUM COCOS
Nama lain : minyak kelapa, coconut oil
Kegunaan : untuk membuat salep, shampoo, sabun yang dapat dipakai untuk mencuci dengan air laut atau air yang kalsiumnya tinggi
13. Nama latin : OLEUM COPTICI
Nama lain : minyak mungsi
Kegunaan : isolasi timo, karminativa
14. Nama latin : OLEUM CORIANDRI
Nama lain : minyak ketumbar
Kegunaan : bahan pewangi dan karminativa
15. Nama latin : OLEUM EUCALYPTI
Nama lain : minyak ekaliptus
Kegunaan : germisida (pembunuh bakteri) obat batuk, antiseptic saluran pernapasan
16. Nama latin : OLEUM FOENICULI
Nama lain : minyak adas
Kegunaan : obat gosok bayi, obat mulas untuk anak-anak, karminativa rendah, terbanyak digunakan untuk bahan pewangi aqua foeniculi
17. Nama latin : OLEUM IECORIS ASELLI
Nama lain : minyak ikan, oleum morrrhuae, cod liver oil
Kegunaan : sumber vitamin A dan D
18. Nama latin : OLEUM MAYDIS
Nama lain : minyak jagung
Kegunaan : zat tambahan pengganti minyak lemak pada pasien yang tinggi kadar kolesterolnya
19. Nama latin : OLEUM MENTHAE PIPERITAE
Nama lain : minyak permen, peppermint oil
Kegunaan : karminativa, stimulansia, sebagai obat mulas
20. Nama latin : OLEUM MYRISTICAE
Nama lain : minyak pala, nutmeg oil
Kegunaan : karminativa, stimulansia lambung
21. Nama latin : OLEUM MYIRISTICAE EXPRESSUM
Nama lain : lemak pala, oleum nucistae, nutmeg butter
Kegunaan : obat gosok, stimulansia luar
22. Nama latin : OLEUM OLIVAE
Nama lain : minyak zaitun
Kegunaan : bahan makanan, pencahar lemah
23. Nama latin : OLEUM POGOSTEMONI
Nama lain : minyak nilam
Kegunaan : zat tambahan bahan pewangi
24. Nama latin : OLEUM RICINI
Nama lain : minyak jarak
Kegunaan : pencahar (hati-hati pada wanita yang sedang hamil atau haid), jangan dicampur dengan obat cacing yang dapat larut dalam minyak, hair tonik
25. Nama latin : OLEUM ROSAE
Nama lain : minyak mawar, rose oil
Kegunaan : bahan pewangi
26. Nama latin : OLEUM SESAMI
Nama lain : minyak wijen, sesame oil
Kegunaan : bahan makanan sebagai obat luar untuk melemaskan kulit, untuk pembuatan plester, sabun, salep, liniment
27. Nama latin : OLEUM SHOREAE
Nama lain : minyak tengkawang, borneo talk
Kegunaan : bahan kosmetika, suppositoria
28. Nama latin : OLEUM VETIVERIAE
Nama lain : minyak akar wangi
Kegunaan : zat tambahan bahan pewangi


Istilah    Makna

Amara : Penambah nafsu makan/pahitan

Anhidrotika Mengurangi keluarnya keringat

Stomakika Memacu enzim-enzim pencernaan

Analgetika Mengurangi rasa nyeri

Antelmitika Membasmi cacing dari dalam tubuh manusia

Antifungi Membasmi jamur terutama jamur pada kulit, misalnya panu

Antihipertensi Menurunkan darah tinggi

Antipiretika Menurunkan suhu tubuh

Antiemetika Menurunkan/menghilangkan mual dan muntah

Antidiare Mengentikan buang air besar, mencret/murus

Antineuralgin Menghilangkan rasa sakit/nyeri pada kepala

Antireumatika Pengilang rasa sakit pada encok/reumatik

Antiseptika Membasmi kuman (Desinfektika)

Antidotum Penawar racun

Antitusif Pereda batuk

Antidiabetika Untuk mengobati kencing manis

Antihemoroida Untuk mengobati wasir

Antiiritansia Mencegah perangsangan pada kulit dan selaput lendir

Astringensia Menciutkan selaput lendir/pori

Cardiaka Untuk jantung

Cardiotonika Untuk penguat kerja jantung

Cholagoga Membantu fungsi dari empedu

Dismenorhoe Untuk mengobati nyeri haid pada wanita

Diaforetika/sudorifika Memperbanyak keluarnya keringat/peluruh keringat

Digertiva Merangsang pencernaan makanan

Diuretika Melancarkan keluarnya air seni/peluruh air seni

Dilatator Melebarkan pembuluh darah

Defutarif Pembersih darah

Ekspetoransia Mengurangi batuk berdahak

Emenagoga Memperbanyak keluarnya haid/sebagai peluruh haid

Emetika Menyebabkan muntah

Gonorrhoe Kencing nanah

Hairtonic Menguatkan/menyuburkan rambut

Holitosis Menyegarkan nafas

Hemostatika Menghentikan pendarahan

Insektisida Membasmi serangga

Konstipasi Sembelit/susah buang air besar

Katminativa Mengeluarkan angin dari dalam tubuh manusia

Laktagoga Memperlancar air susu ibu

Laktafuga Menghentikan/mengurangi air susu ibu

Litrotriptika Menghancurkan batu pada kandung kemih

Laksativa Melancarkan buang air besar/pencahar

Skorbut Sariawan, gusi berdarah karena kekurangan vitamin C

Vasodilantasia Meperlebar pembuluh darah

Nepholithiasis Penyakit kencing batu

Urolithiasis Adanya batu dala saluran air kemih

Parkinson Penyakit dengan ciri adanya tremor (gemetar) tangan serta kaki bergemetaran pada waktu diam

Parkinsonisme Penyakit yang mirip dengan parkinson

Parasimpatolitika Pelawan efek perangsang saraf parasimpatik

Periusis Batuk rejan/batuk seratus hari

Raboransia/Toniku Obat kuat

Skabicida Obat kudis

Sedativa Obat penenang

Hipotiroidisme Kekurangan aktivitas dari kelenjar gondok
Trikhomoniosis Penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur yang hidup diatas kulit (dermatofyt), jamurnya adalah Tridhofyton

Demikian informasi mengenai Simplisia dalam Nabati dan penyakit atau penyembuhan terkait dengan hal tersebut.

#4 Fungsi, Pemanfaatan dan Kegunaan Simplisia Nabati 


Jadi, fungsi serta kegunaan simplisia yakni untuk dipergunakan sebagai pengobatan alternatif dari penggunaan bahan sintetis kimia. Simplisia menjadi sebuah produk jamu tradisional untuk kesehatan masyarakat, lebih khusus masyarakat bawah, karena terbilang harganya murah.

Simplisia dapat diolah menjadi simplisia (rajangan), serbuk, minyak atsiri, ekstrak kental, ekstrak kering, instan, sirup, permen, kapsul maupun tablet.

Berdasarkan kandungan zat berkhasiatnya, bagian-bagian tumbuhan yang dijadikan simplisia dapat bermanfaat sebagai obat penambah nafsu makan, obat untuk memperbaiki pencernaan, obat untuk tonika, menghilangkan nyeri, obat untuk memperlancar air seni atau diuretik, obat kencing manis atau diabetes mellitus, obat tekanan darah tinggi atau hipertensi, obat pelindung lever atau yang sering disebut “hepatoprotector”, obat kencing batu, obat diare dan sebagainya. Bahkan bagian tumbuhan yang dapat meningkatkan imunitas tubuh atau yang bersifat sebagai imunostimulator diperkirakan dapat mengobati penyakit infeksi maupun kanker. Belakangan ada pula upaya untuk menemukan tumbuhan yang dapat menjadi sumber obat HIV-AIDS (Badan Litbang Kesehatan, 2005a).

Walaupu begitu, Simplisia memiliki dua sisi, yakni sisi baik dan buruknya.

Kelebihan Simplisia :
  • Relatif murah dan mudah untuk membuatnya
  • Pengganti atau alternatif dari obat kimia
  • Relatif memiliki sedikit efek samping
  • lebih sesuai untuk penyakit metabolik dan degeneratif
Kekurangan Simplisia:
  • efek farmakologi yang rendah
  • bahan baku belum terstandar
  • mudah teruainya oleh mikroorganisme (bakteri).
Jadi, Simplisia yang digunakan untuk obat tradisional, biasanya menggunakan kelompok obat fitofarmaka atau fitoterapi yang telah teruji khasiat dan keamanannya, lalu teruji secara klinis, dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan memenuhi indikasi secara medis.


#5 Cara atau Proses Pembuatan Simplisia
Berdasarkan Departemen Kesehatan (Materia Medika Indonesia)

Dalam hal simplisia sebagai bahan baku (awal) dan produk siap dikonsumsi langsung, dapat dipertimbangkan 3 konsep untuk menyusun parameter standar umum:
  • Simplisia sebagai bahan kefarmasian seharusnya memenuhi 3 parameter mutu umum suatu bahan (material), yaitu kebenaran jenis (identifikasi), kemurnian (bebas dari kontaminasi kimia dan biologis) serta aturan penstabilan (wadah, penyimpanan dan transportasi)
  • Simplisia sebagai bahan dan produk konsumsi manusia sebagai obat tetap diupayakan memenuhi 3 paradigma seperti produk kefarmasian lainnya, yaitu quality-safety- efficacy (mutu-aman-manfaat)
  • Simplisia sebagai bahan dengan kandungan kimia yang bertanggung jawab terhadap respon biologis harus mempunyai spesifikasi kimia, yaitu informasi komposisi (jenis dan kadar) senyawa kandungan.
Untuk menjamin keseragaman senyawa aktif, keamanan maupun kegunaannya maka simplisia harus memenuhi persyaratan minimal. Untuk itu ada beberapa faktor yang harus dipenuhi :
  • Bahan baku simplisia
  • Proses pembuatan simplisisa termasuk penyimpana bahan baku simplisia
  • Cara pengepakan dan penyimpanan simplisia

Pembuatan simplisia secara umum :
1. Bahan baku 

Tanaman sebagai sumber simplisia nabati merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi mutu simplisia. Bisa tanaman liar atau budidaya. Tanaman bididaya sengaja untuk produksi simplisia, contoh TOGA. Tanaman liar mutunya kurang baik sebagai sumber simplisia karena simplisia mempunyai mutu yang tidak tepat. Hal ini bisa karena : umur dan bagian tanaman yang dipanen tidak tetap dan berbeda beda. Hal ini akan berpengaruh terhadap kadar senyawa aktif, sehingga mutu simplisia yang dihasilkan tidak seragam.
 
Jenis tumbuhan diperhatikan, ada beberapa jenis dari satu marga, akan berpengaruh terhadap kandungan-kandungan senyawa aktif sehingga mutunya juga berbeda.

Lingkungan tempat tumbuh yang berbeda menyebabkan perbedaan kadar kandungan senyawa aktif. Pertumbuhan tumbuhan dipengaruhi oleh : tinggi tempat, cuaca dan tanah.

Tanaman budidaya dapat untuk meningkatkan mutu simplisia dengan cara Pemilihan bibit unggul sehingga kandungan senyawa aktif tinggi.

2. Dasar pembuatan
Simplisia dibuat dengan cara pengeringan, dilakukan dengan cepat pada suhu yang tidak terlalu tinggi. Waktu lama tumbuh kapang. Suhu tinggi perubahan kimia kandungan senyawa aktif. Simplisia dibuat dengan fermentasi, harus seksama supaya tidak terjadi proses berkelanjutan. Simplisia dibuat dengan cara khusus misalnya penyulingan, pengentalan eksudat nabati, pengeringan sari air dan proses lain agar memiliki mutu sesuai dengan persyaratan.

Pembuatan simplisia yang memerlukan air, misal Pati, talk. Air diperhatikan : bebas pemcemaran racun, kuman patogen, logam berat.

3. Tahapan pembuatan

Pengumpulan, sortasi basah, pencucian, perajangan, pengeringan, sortasi kering, pengepakan, penyimpanan, dan pemisahan mutu.

Kadar senyawa aktif akan beda, tergantung : bagian tanaman yang digunakan, umur tanaman, waktu panen, dan lain-lain.


Penjelasan lebih lanjut ada dibawah ini :


1. PENGUMPULAN BAHAN BAKU

Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda-beda antara lain tergantung pada :
  • Bagian tanaman yang digunakan.
  • Umur tanaman yang digunakan.
  • Waktu panen.
  • Lingkungan tempat tumbuh.

Waktu panen sangat erat hubungannya dengan pembentukan senyawa aktif di dalam bagian tanaman yang akan dipanen. Waktu panen yang tepat pada saat bagian tanaman tersebut mengandung senyawa aktif dalam jumlah yang terbesar.

a. Pemanenan

Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan bebas dari cemaran dan dalam keadaan kering.Alat yang diguna-kan dipilih dengan tepat untuk mengurangi terbawanya bahan atau tanah yang tidak diperlukan. Seperti rimpang, alat untuk panen dapat menggunakan garpu atau cangkul. Bahan yang rusak atau busuk harus segera dibuang atau dipisahkan. Penempatan dalam wadah (keran-jang, kantong, karung dan lain-lain) tidak boleh terlalu penuh sehingga bahan tidak menumpuk dan tidak rusak. Selanjutnya dalam waktu pengangkutan diusahakan supaya bahan tidak terkena panas yang berlebihan, karena dapat menyebab-kan terjadinya proses fermentasi/ busuk. Bahan juga harus dijaga dari gang-guan hama (hama gudang, tikus dan binatang peliharaan).

b. Penanganan Pasca Panen

Pasca panen merupakan kelanjut-an dari proses panen terhadap tanaman budidaya atau hasil dari penambangan alam yang fungsinya antara lain untuk membuat bahan hasil panen tidak mudah rusak dan memiliki kualitas yang baik serta mudah disimpan untuk diproses selanjutnya. Untuk memulai proses pasca panen perlu diperhatikan cara dan tenggang waktu pengumpulan bahan tanaman yang ideal setelah dilakukan proses panen tanaman tersebut. Selama proses pasca panen sangat penting diperhatikan keber-sihan dari alat-alat dan bahan yang digunakan, juga bagi pelaksananya perlu memperhatikan perlengkapan seperti masker dan sarung tangan. Tujuan dari pasca panen ini untuk menghasilkan simplisia tanaman obat yang bermutu, efek terapinya tinggi sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.


2. SORTASI BASAH
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing lainnya dari bahan simplisia. Misalnya pada simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman obat, bahan-bahan asing seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yang telah rusak, serta pengotoran lainnya harus dibuang. Tanah mengandung bermacam-macam mikroba dalam jurnlah yang tinggi, oleh karena itu pembersihan simplisia dari tanah yang terikut dapat mengurangi jumlah mikroba awal. Proses penyortiran pertama bertujuan untuk memisahkan bahan yang busuk atau bahan yang muda dan yang tua serta untuk mengurangi jumlah pengotor yang ikut terbawa dalam bahan. Bahan nabati yang baik memiliki kandungan campuran bahan organik asing tidak lebih dari 2%.


3. PENCUCIAN

Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotoran lainnya yang melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih, misalnya air dari mata air, air sumur atau air PAM. Bahan simplisia yang mengandung zat yang mudah larut di dalam air yang mengalir, pencucian agar dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin. Menurut Frazier (1978), pencucian sayur-sayuran satu kali dapat menghilangkan 25% dari jumlah mikroba awal, jika dilakukan pencucian sebanyak tiga kali, jumlah mikroba yang tertinggal hanya 42% dari jumlah mikroba awal. Pencucian tidak dapat membersihkan simplisia dari semua mikroba karena air pencucian yang digunakan biasanya mengandung juga sejumlah mikroba. Cara sortasi dan pencucian sangat mempengaruhi jenis dan jumlah rnikroba awal simplisia. Misalnya jika air yang digunakan untuk pencucian kotor, maka jumlah mikroba pada permukaan bahan simplisia dapat bertambah dan air yang terdapat pada permukaan bahan tersebut dapat menipercepat pertumbuhan mikroba. Bakteri yang umum terdapat dalam air adalah Pseudomonas, Proteus, Micrococcus, Bacillus, Streptococcus, Enterobacter dan Escherishia. Pada simplisia akar, batang atau buah dapat pula dilakukan pengupasan kulit luarnya untuk mengurangi jumlah mikroba awal karena sebagian besar jumlah mikroba biasanya terdapat pada permukaan bahan simplisia. Bahan yang telah dikupas tersebut mungkin tidak memerlukan pencucian jika cara pengupasannya dilakukan dengan tepat dan bersih.

Pada saat pencucian per-hatikan air cucian dan air bilasan-nya, jika masih terlihat kotor ulangi pencucian/pembilasan sekali atau dua kali lagi.Perlu diperhatikan bahwa pencucian harus dilakukan dalam waktu yang sesingkat mung-kin untuk menghindari larut dan terbuangnya zat yang terkandung dalam bahan. Pencucian bahan dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain.

  • Perendaman bertingkat
Perendamana biasanya dilakukan pada bahan yang tidak banyak mengandung kotoran seperti daun, bunga, buah dll. Proses perendaman dilakukan beberapa kali pada wadah dan air yang berbeda, pada rendaman pertama air cuciannya mengandung kotoran paling banyak. Saat perendaman kotoran-kotoran yang melekat kuat pada bahan dapat dihilangkan langsung dengan tangan. Metoda ini akan menghemat peng-gunaan air, namun sangat mudah melarutkan zat-zat yang terkandung dalam bahan.
  • Penyemprotan
Penyemprotan biasanya dilakukan pada bahan yang kotorannya banyak melekat pada bahan seperti rimpang, akar, umbi dan lain-lain. Proses penyemprotan dilakukan de-ngan menggunakan air yang ber-tekanan tinggi. Untuk lebih me-nyakinkan kebersihan bahan, ko-toran yang melekat kuat pada bahan dapat dihilangkan langsung dengan tangan. Proses ini biasanya meng-gunakan air yang cukup banyak, namun dapat mengurangi resiko hilang/larutnya kandungan dalam bahan.
  • Penyikatan (manual maupun oto-matis)
Pencucian dengan menyikat dapat dilakukan terhadap jenis bahan yang keras atau tidak lunak dan kotoran-nya melekat sangat kuat. Pencucian ini memakai alat bantu sikat yang di- gunakan bentuknya bisa bermacam-macam, dalam hal ini perlu diper-hatikan kebersihan dari sikat yang digunakan. Penyikatan dilakukan terhadap bahan secara perlahan dan teratur agar tidak merusak bahannya. Pem-bilasan dilakukan pada bahan yang sudah disikat.Metode pencuci-an ini dapat menghasilkan bahan yang lebih bersih dibandingkan de-ngan metode pencucian lainnya, namun meningkatkan resiko kerusa-kan bahan, sehingga merangsang tumbuhnya bakteri atau mikro-organisme.


4. PERAJANGAN
Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses perajangan. Perajangan bahan simplisia dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakan dan penggilingan. Tanaman yang baru diambil jangan langsung dirajang tetapi dijemur dalam keadaan utuh selama 1 hari. Perajangan dapat dilakukan dengan pisau, dengan alat mesin perajang khusus sehingga diperoleh irisan tipis atau potongan dengan ukuran yang dikehendaki.

Semakin tipis bahan yang akan dikeringkan, semakin cepat penguapan air, sehingga mempercepat waktu pengeringan. Akan tetapi irisan yang terlalu tipis juga dapat menyebabkan berkurangnya atau hilangnya zat berkhasiat yang mudah menguap. Sehingga mempengaruhi komposisi bau dan rasa yang diinginkan. Oleh karena itu bahan simplisia seperti temulawak, temu giring, jahe, kencur dan bahan sejenis lainnya dihindari perajangan yang terlalu tipis untuk mencegah berkurangnya kadar minyak atsiri. Selama perajangan seharusnya jumlah mikroba tidak bertambah. Sedangkan jika terlalu tebal, maka pengurangan kadar air dalam bahan agak sulit dan memerlukan waktu yang lama dalam penjemuran dan kemungkinan besar bahan mudah ditumbuhi oleh jamur.Ketebalan perajangan untuk rimpang temulawak adalah sebesar 7 – 8 mm, jahe, kunyit dan kencur 3 – 5 mm.

Penjemuran sebelum perajangan diperlukan untuk mengurangi pewarnaan akibat reaksi antara bahan dan logam pisau. Pengeringan dilakukan dengan sinar matahari selama satu hari.

Untuk tujuan mendapatkan minyak atsiri yang tinggi bentuk irisan sebaiknya adalah membujur (split) dan jika ingin bahan lebih cepat kering bentuk irisan sebaiknya me-lintang (slice).


5. PENGERINGAN
Tujuan pengeringan ialah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan mengurangi kadar air dan menghentikan reaksi enzimatik akan dicegah penurunan mutu atau perusakan simplisia. Air yang masih tersisa dalam simplisia pada kadar tertentu dapat merupakan media pertumbuhan kapang dan jasad renik lainnya.Enzim tertentu dalam sel, masih dapat bekerja, menguraikan senyawa aktif sesaat setelah sel mati dan selama bahan simplisia tersebut masih mengandung kadar air tertentu. Pada tumbuhan yang masih hidup pertumbuhan kapang dan reaksi enzimatik yang merusak itu tidak terjadi karena adanya keseimbangan antara proses-proses metabolisme, yakni proses sintesis, transformasi dan penggunaan isi sel. Keseimbangan ini hilang segera setelah sel tumbuhan mati. Sebelum tahun 1950, sebelum bahan dikeringkan, terhadap bahan simplisia tersebut lebih dahulu dilakukan proses stabilisasi yaitu proses untuk menghentikan reaksi enzimatik. Cara yang lazim dilakukan pada saat itu, merendam bahan simplisia dengan etanol 70% atau dengan mengaliri uap panas. Dari hasil penelitian selanjutnya diketahui bahwa reaksi enzimatik tidak berlangsung bila kadar air dalam simplisia kurang dari 10%.

Pengeringan simplisia dilakukan dengan menggunakan sinar matahari atau menggunakan suatu alat pengering. Hal-ha1 yang perlu diperhatikan selama proses pengeringan adalah suhu pengeringan, kelembaban udara, aliran udara, Waktu pengeringan dan luas permukaan bahan. Pada pengeringan bahan simplisia tidak dianjurkan menggunakan alat dari plastik. Selama proses pengeringan bahan simplisia, faktor-faktor tersebut harus diperhatikan sehingga diperoleh simplisia kering yang tidak mudah mengalami kerusakan selama penyimpanan. Cara pengeringan yang salah dapat mengakibatkan terjadinya “Face hardening”, yakni bagian luar bahan sudah kering sedangkan bagian dalamnya masih basah. Hal ini dapat disebabkan oleh irisan bahan simplisia yang terlalu tebal, suhu pengeringan yang terlalu tinggi, atau oleh suatu keadaan lain yang menyebabkan penguapan air permukaan bahan jauh lebih cepat daripada difusi air dari dalam ke permukaan tersebut, sehingga permukaan bahan menjadi keras dan menghambat pengeringan selanjutnya. “Face hardening” dapat mengakibatkan kerusakan atau kebusukan di bagian dalarn bahan yang dikeringkan.

Suhu pengeringan tergantung kepada bahan simplisia dan cara pengeringannya. Bahan simplisia dapat dikeringkan pada suhu 300 sampai 90°C, tetapi suhu yang terbaik adalah tidak melebihi 60°C. Bahan simplisia yang mengandung senyawa aktif yang tidak tahan panas atau mudah menguap harus dikeringkan pada suhu serendah mungkin, misalnya 300 sampai 450 C, atau dengan cara pengeringan vakum yaitu dengan mengurangi tekanan udara di dalam ruang atau lemari pengeringan, sehingga tekanan kira-kira 5 mm Hg. Kelembaban juga tergantung pada bahan simplisia,cara pengeringan, dan tahap tahap selama pengeringan. Kelembaban akan menurun selama berlangsungnya proses pengeringan. Berbagai cara pengeringan telah dikenal dan digunakan orang. Pada dasarnya dikenal dua cara pengeringan yaitu pengeringan secara alamiah dan buatan.

Pengeringan Alamiah.

Tergantung dari senyawa aktif yang dikandung dalam bagian tanaman yang dikeringkan, dapat dilakukan dua cara pengeringan :

Dengan panas sinar matahari langsung. Cara ini dilakitkan untuk mengeringkan bagian tanaman yang relatif keras seperti kayu, kulit kayu, biji dan sebagainya, dan rnengandung senyawa aktif yang relatif stabil. Pengeringan dengan sinar matahari yang banyak dipraktekkan di Indonesia merupakan suatu cara yang mudah dan murah, yang dilakukan dengan cara membiarkan bagian yang telah dipotong-potong di udara terbuka di atas tampah-tampah tanpa kondisi yang terkontrol sepertl suhu, kelembaban dan aliran udara. Dengan cara ini kecepatan pengeringan sangat tergantung kepada keadaan iklim, sehingga cara ini hanya baik dilakukan di daerah yang udaranya panas atau kelembabannya rendah, serta tidak turun hujan. Hujan atau cuaca yang mendung dapat memperpanjang waktu pengeringan sehingga memberi kesempatan pada kapang atau mikroba lainnya untuk tumbuh sebelum simplisia tersebut kering. F’IDC (Food Technology Development Center IPB) telah merancang dan membuat suatu alat pengering dengan menggunakan sinar matahari, sinar matahari tersebut ditampung pada permukaan yang gelap dengan sudut kemiringan tertentu. Panas ini kemudian dialirkan keatas rak-rak pengering yang diberi atap tembus cahaya di atasnya sehingga rnencegah bahan menjadi basah jika tiba-tiba turun hujan. Alat ini telah digunakan untuk mengeringkan singkong yang telah dirajang dengan demikian dapat pula digunakan untuk mengeringkan simplisia.

Dengan diangin-anginkan dan tidak dipanaskan dengan sinar matahari langsung. Cara ini terutama digunakan untuk mengeringkan bagian tanaman yang lunak seperti bunga, daun, dan sebagainya dan mengandung senyawa aktif mudah menguap.

Pengeringan Buatan

Kerugian yang mungkin terjadi jika melakukan pengeringan dengan sinar matahari dapat diatasi jika melakukan pengeringan buatan, yaitu dengan menggunakan suatu alat atau mesin pengering yang suhu kelembaban, tekanan dan aliran udaranya dapat diatur. Prinsip pengeringan buatan adalah sebagai berikut: “udara dipanaskan oleh suatu sumber panas seperti lampu, kompor, mesin disel atau listrik, udara panas dialirkan dengan kipas ke dalam ruangan atau lemari yang berisi bahan yang akan dikeringkan yang telah disebarkan di atas rak-rak pengering”. Dengan prinsip ini dapat diciptakan suatu alat pengering yang sederhana, praktis dan murah dengan hasil yang cukup baik.

Dengan menggunakan pengeringan buatan dapat diperoleh simplisia dengan mutu yang lebih baik karena pengeringan akan lebih merata dan waktu pengeringan akan lebih cepat, tanpa dipengaruhi oleh keadaan cuaca. Sebagai contoh misalnya jika kita membutuhkan waktu 2 sampai 3 hari untuk penjemuran dengan sinar matahari sehingga diperoleh simplisia kering dengan kadar air 10% sampai 12%, dengan menggunakan suatu alat pengering dapat diperoleh simplisia dengan kadar air yang sama dalam waktu 6 sampai 8 jam.

Daya tahan suatu simplisia selama penyimpanan sangat tergantung pada jenis simplisia, kadar airnya dan cara penyimpanannya. Beberapa simplisia yang dapat tahan lama dalam penyimpanan jika kadar airnya diturunkan 4 sampai 8%, sedangkan simplisia lainnya rnungkin masih dapat tahan selama penyimpanan dengan kadar air 10 sampai 12%.


6. SORTASI KERING
Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan simplisia. Tujuan sortasi untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian-bagian tanaman yang tidak diinginkan dan pengotoran-pengotoran lain yang masill ada dan tertinggal pada sirnplisia kering. Proses ini dilakukan sebelum sirnplisia dibungkus untuk kernudian disimpan. Seperti halnya pada sortasi awal, sortasi disini dapat dilakukan dengan atau secara mekanik. Pada simplisia bentuk rimpang sering jurnlah akar yang melekat pada rimpang terlampau besar dan harus dibuang. Demikian pula adanya partikel-partikel pasir, besi dan benda-benda tanah lain yang tertinggal harus dibuang sebelum simplisia dibungkus.


7. PENGAWETAN
 


Simplisia nabati atau simplisia hewani harus dihindarkan dari serangga atau cemaran atau mikroba dengan penambahan kloroform, CCl4, eter atau pemberian bahan atau penggunaan cara yang sesuai, sehingga tidak meninggalkan sisa yang membahayakan kesehatan.

Wadah

Wadah adalah tempat penyimpanan artikel dan dapat berhubungan langsung atau tidak langsung dengan artikel. Wadah langsung (wadah primer) adalah wadah yang langsung berhubungan dengan artikel sepanjang waktu. Sedangkan wadah yang tidak bersentuhan langsung dengan artikel disebut wadah sekunder.

Wadah dan sumbatnya tidak boleh mempengaruhi bahan yang disimpan didalamnya baik secara fisika maupun kimia, yang dapat mengakibatkan perubahan kekuatan, mutu atau kemurniannya hingga tidak memenuhi persyaratan resmi.

Wadah tertutup baik: harus melindungi isi terhadap masuknya bahan padat dan mencegah kehilangan bahan selama penanganan, pengangkutan, penyimpanan dan distribusi.

Suhu Penyimpanan

Dingin : suhu tidak lebih dari 80C, Lemari pendingin mempunyai suhu antara 20C– 80C, sedangkan lemari pembeku mempunyai suhu antara -200C dan -100C.

Sejuk : suhu antara 80C dan 150C. Kecuali dinyatakan lain, bahan yang harus di simpan pada suhu sejuk dapat disimpan pada lemari pendingin.

Suhu kamar : suhu pada ruang kerja. Suhu kamar terkendali adalah suhu yang di atur antara 150C dan 300C.

Hangat : hangat adalah suhu antara 300C dan 400C.

Panas berlebih : panas berlebih adalah suhu di atas 400C.



Tanda dan Penyimpanan
Penyimpanan simplisia dapat di-lakukan di ruang biasa (suhu kamar) ataupun di ruang ber AC. Ruang tempat penyimpanan harus bersih, udaranya cukup kering dan ber-ventilasi. Ventilasi harus cukup baik karena hama menyukai udara yang lembab dan panas. Perlakuan sim-plisia dengan iradiasi sinar gamma dosis 10 kGy dapat menurunkan jumlah patogen yang dapat meng-kontaminasi simplisia tanaman obat. Dosis ini tidak merubah kadar air dan kadar minyak atsiri simplisia selama penyimpanan 3 – 6 bulan. Jadi sebelum disimpan pokok utama yang harus diperhati-kan adalah cara penanganan yang tepat dan higienes.

Hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai tempat penyimpanan simplisia adalah :
  • Gudang harus terpisah dari tem-pat penyimpanan bahan lainnya ataupun penyimpanan alat dan dipelihara dengan baik.
  • Ventilasi udara cukup baik dan bebas dari kebocoran atau ke-mungkinan masuk air hujan.
  • Suhu gudang tidak melebihi 300C.
  • Kelembabab udara sebaiknya di-usahakan serendah mungkin (650 C) untuk mencegah terjadinya penyerapan air. Kelembaban udara yang tinggi dapat memacu pertumbuhan mikroorganisme se-hingga menurunkan mutu bahan baik dalam bentuk segar maupun kering.
  • Masuknya sinar matahari lang-sung menyinari simplisia harus dicegah.
  • Masuknya hewan, baik serangga maupun tikus yang sering me-makan simplisia yang disimpan harus dicegah.(Anonim : 2009)

Kemurnian Simplisia

Persyaratan simplisia nabati dan simplisia hewani diberlakukan pada simplisia yang diperdagangkan, tetapi pada simplisia yang digunakan untuk suatu pembuatan atau isolasi minyak atsiri, alkaloida, glikosida, atau zat aktif lain, tidak harus memenuhi persyaratan tersebut.

Persyaratan yang membedakan strukrur mikroskopik serbuk yang berasal dari simplisia nabati atau simplisia hewani dapat tercakup dalam masing–masing monografi, sebagai petunjuk identitas, mutu atau kemurniannya.

Benda Asing

Simplisia nabati dan simplisia hewani tidak boleh mengandung organisme patogen, dan harus bebas dari cemaran mikro organisme, serangga dan binatang lain maupun kotoran hewan. Simplisia tidak boleh menyimpang bau dan warna, tidak boleh mengandung lendir, atau menunjukan adanya kerusakan. Sebelum diserbukkan simplisia nabati harus dibebaskan dari pasir, debu, atau pengotoran lain yang berasal dari tanah maupun benda anorganik asing.

Dalam perdagangan, jarang dijumpai simplisia nabati tanpa terikut atau tercampur bagian lain, maupun bagian asing, yang biasanya tidak mempengaruhi simplisianya sendiri. Simplisia tidak boleh mengandung bahan asing atau sisa yang beracun atau membahayakan kesehatan. Bahan asing termasuk bagian lain tanaman yang tidak dinyatakan dalam paparan monografi.


#6 Pemalsuan Dan Penurunan Mutu Simplisia
Pemeriksaan Mutu Simplisia

Beberapa hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan pemeriksaan mutu simplisia adalah sebagai berikut:

a. Simplisia harus memenuhi persyaratan umum edisi terakhir dari buku-buku resmi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI seperti Farmakope Indonesia, Ekstra Farmsakope Indonesia dan Materia Medika Indonesia. Jika tidak tercantum maka harus memenuhi persyaratan seperti yang disebut pada paparannya (monografinya).

b. Tersedia contoh sebagai simplisia pembanding yang setiap periode tertentu harus diperbaharui

c. Harus dilakukan pemeriksaan mutu fisis secara tepat yang meliputi:
  • Kurang kering atau mengandung air,
  • Termakan serangga atau hewan lain,
  • Ada-tidaknya pertumbuhan kapang, dan
  • Perubahan warna atau perubahan bau. (Gunawan, 2004: 9)

Dilakukan pemeriksaan lengkap yang terdiri atas: 

1. Identifikasi meliputi pemeriksaan:
  • Organoleptik, yaitu pemeriksaan warna, bau dan rasa dari bahan simplisia. Dalam buku resmi dinyatakan pemerian yaitu memuat paparan mengenai bentuk dan rasa yang dimaksudka untuk dijadikan petunjuk mengenal simplisia nabati sebagai syarat baku. Reaksi warna dilakukan terhadap hasil penyarian zat berkhasiat, terhadap hasil mikrosblimasi atau langsung terhadap irisan atau serbuk simplisia ( Depkes RI, 1979: xiii)
  • Mikroskopik, yaitu membuat uraian mikroskopik paparan mengenai bentuk ukuran, warna dan bidang patahan atau irisan.
  • Mikroskopoik yaitu membuat paparan anatomi penempang melintang simplisia fragmen pengenal serbuk simplisia.
  • Tetapan fisika, melipti pemeriksaan indeks bias, bobot jenis, titik lebur, rotasi optik, mikrosublimasi, dan rekristalisasi.
  • Kimiawai, meliputi reaksi warna, pengendapan, penggaraman, logam, dan kompleks.
  • Biologi, meliputi pemeriksaan mikrobiologi seperti penetapan angka kuman, pencemaran, dan percobaan terhadap hewan.

2. Analisis bahan meliputi penetapan jenis konstituen (Zat kandungan), kadar konstituen (Kadar abu, kadar sari, kadar air, kadar logam), dan standarisasi simplisia.

3. Kemurnian, meliputi kromatografi: kinerja tinggi, lapis tipis, kolom, kertas, dan gas untuk menentukan senyawa atau komponene kimia tunggal dalam simplisia hasil metabolit primer dan sekunder tanaman.

Demikian artikel simplisia, semoga bermanfaat.

Oya, Anda juga bisa mendownload makalah simplisia / farmakognosi, laporan simplisia, simplisia pdf di bawah ini :

Download Simplisia PDF




0 Response to "SIMPLISIA : Pengertian, Jenis, Nama Latin, Manfaat, dan Proses Pembuatan serta Hasil Pengolahannya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel