Apa Perlu Belajar Dari Kesalahan Orang Lain?

Assalamualaikum,

Kali ini saya mau ngeshare tentang metode belajar menjadi orang sukses dari pengalaman saya lagi, Insya Allah bermanfaat.

Gini bro, kita nih jangan suka terlalu banyak belajar dari keberhasilan orang lain. Tapi cobalah perbanyak juga belajar dari kesalahan-kesalahan orang lain. Loh kenapa? Karena jika kita terlalu sering melihat keberhasilan seseorang, yang kita lihat hanya hasilnya saja. 

Misalkan, Si Fulan sukses jadi jutawan hanya bermodalkan duit puluhan ribu, atau Si Fulan sukses karirnya tanpa berpendidikan. Itu akan membuat pola pikir kita selalu menggampangkan keadaan atau segala sesuatunya. Kita akan berkata, "Wah dia tuh sukses hanya dengan cara itu doank". Inget bro, dari berbagai alasan si Fulan sukses banyak penyebabnya. Mulai dari pergaulannya, pengalaman hidupnya, apa yang telah diajarkan ortunya, kemampuan keterampilannya. Dan itu semua yang menunjang si Fulan meraih kesuksesan. Bukankah semua pengalaman si Fulan itu berbeda dengan kita? secara dari mayoritas teman kita, pengalaman pahit manis kehidupan, bakat serta keahlian dari kita dengan Fulan pasti sangat berbeda. 

Jadi engga segampang itu cara-cara menuju kesuksesan, karena satu manusia dengan manusia lainnya sangat berbeda karakteristiknya. Boleh saja kita tiru jalan-jalan mereka, tapi yang lebih penting tirulah semangatnya serta konsistennya.

Seandainya kalo kita belajar dari kesalahan-kesalahan orang lain, kita akan tahu hal-hal mana aja yang engga boleh kita lakuin atau perbuat yang bisa mengakibatkan dampak negatif kemudian hari.

Gimana caranya? gampang, cari orang yang gagal prestasi yang sudah tua umurnya. Tanyakan padanya apa yang telah dia lakukan selama masih kecil hingga usia remaja. Nanti kita akan tahu perbuatan-perbuatan buruk yang biasa dilakukan orang itu yang menjadi akibat orang tersebut gagal dalam hidupnya. Kita akan banyak belajar menyikapi keadaan, jika kita melakukan hal yang serupa seperti orang itu yang telah menyebabkan dampak negatif. 

Misalkan, dulunya orang itu menyepelekan pelajaran di sekolahan atau kuliahannya, masa bodo sama cita-citanya, engga mau dengerin nasehat dari temennya yang selalu membujuk biar meraih kesuksesan. Kita bakalan merasa ngeri mendengarkan kisah orang itu dan kita juga akan berpikir berkali-kali agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Karena kita sudah tahu, bagaimana gambaran orang-orang yang selalu menyepelekan masa mudanya itu akan mengalami penyesalan di masa tuanya.
Assalamualaikum,   Kali ini saya mau ngeshare tentang metode belajar menjadi orang sukses dari pengalaman saya lagi, Insya Allah bermanfaat.   Gini bro, kita nih jangan suka terlalu banyak belajar dari keberhasilan orang lain. Tapi cobalah perbanyak juga belajar dari kesalahan-kesalahan orang lain. Loh kenapa? Karena jika kita terlalu sering melihat keberhasilan seseorang, yang kita lihat hanya hasilnya saja.   Misalkan, Si Fulan sukses jadi jutawan hanya bermodalkan duit puluhan ribu, atau Si Fulan sukses karirnya tanpa berpendidikan. Itu akan membuat pola pikir kita selalu menggampangkan keadaan atau segala sesuatunya. Kita akan berkata, "Wah dia tuh sukses hanya dengan cara itu doank". Inget bro, dari berbagai alasan si Fulan sukses banyak penyebabnya. Mulai dari pergaulannya, pengalaman hidupnya, apa yang telah diajarkan ortunya, kemampuan keterampilannya. Dan itu semua yang menunjang si Fulan meraih kesuksesan. Bukankah semua pengalaman si Fulan itu berbeda dengan kita? secara dari mayoritas teman kita, pengalaman pahit manis kehidupan, bakat serta keahlian dari kita dengan Fulan pasti sangat berbeda.   Jadi engga segampang itu cara-cara menuju kesuksesan, karena satu manusia dengan manusia lainnya sangat berbeda karakteristiknya. Boleh saja kita tiru jalan-jalan mereka, tapi yang lebih penting tirulah semangatnya serta konsistennya.   Seandainya kalo kita belajar dari kesalahan-kesalahan orang lain, kita akan tahu hal-hal mana aja yang engga boleh kita lakuin atau perbuat yang bisa mengakibatkan dampak negatif kemudian hari.  Gimana caranya? gampang, cari orang yang gagal prestasi yang sudah tua umurnya. Tanyakan padanya apa yang telah dia lakukan selama masih kecil hingga usia remaja. Nanti kita akan tahu perbuatan-perbuatan buruk yang biasa dilakukan orang itu yang menjadi akibat orang tersebut gagal dalam hidupnya. Kita akan banyak belajar menyikapi keadaan, jika kita melakukan hal yang serupa seperti orang itu yang telah menyebabkan dampak negatif.   Misalkan, dulunya orang itu menyepelekan pelajaran di sekolahan atau kuliahannya, masa bodo sama cita-citanya, engga mau dengerin nasehat dari temennya yang selalu membujuk biar meraih kesuksesan. Kita bakalan merasa ngeri mendengarkan kisah orang itu dan kita juga akan berpikir berkali-kali agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Karena kita sudah tahu, bagaimana gambaran orang-orang yang selalu menyepelekan masa mudanya itu akan mengalami penyesalan di masa tuanya.     Ingat bro, engga selamanya meraih kesuksesan itu identik terlalu duniawi banget. Banyak kok, yang semakin orang itu sukses semakin besar dalam sumbangan maupun sedekahnya. Bukankah itu sama saja ingat dunia akhiratnya?   PENGALAMAN  Ya semua yang saya jelaskan di atas itu berdasarkan pengalaman pribadi saya. Mencoba bertanya-tanya kepada orang-orang yang udah sedikit tua tetapi tak memiliki prestasi tentang gimana masa mudanya atau pas masa dewasa juga atau juga pas maja keberhasilannnya. Saya mau cerita dua saja.   saya punya teman (sebenarnya teman dari bapak saya dan mereka seumuran, jadi jatuhnya dia paman saya, maka saya panggil dia om). Dia udah punya istri juga punya anak kecil, Dia kerjanya jadi asisten sutradara dan sudah lama melalang buana di dunia perfilman. Tapi? dia enggak memiliki harta, bahkan rumahnya pun masih kecil aja. Padahal kalo kamu tau ya bro? sekitar 5 tahun yang lalu pas dia pegang proyek sinetron dapet penghasilannya gede, mungkin per bulannya dapet 30 an juta.   Nah kenapa dia malah sekarang enggak memiliki harta atau simpenan duit? Ya karena pas dia lagi berjaya-jayanya, dia malah selingkuh sama cewek laen (satu kampung). Kok engga ketahuan? Ya karna dia ngontrak di Jabodetabek (Kan dia kerjaannya kru film).   Nah disana om itu bukannya ngumpulin duit buat masa depan anaknya dan juga renovasi rumahnya, eh malah duitnya buat biayain kuliah si cewek selingkuhannya. Bener-bener gembel sekali, duitnya dibuang sia-sia gitu buat selingkuhan, engga cuman biaya kuliah tapi juga buat beliin pakaian dan lain-lain. Dan kamu mau tau kelanjutanya? Ya setelah wisuda kuliah, cewek itu malah mau nikah sama orang lain. Padahal tujuan om saya itu biayain hidup cewek selingkuhannya tuh biar nanti nikah sama dia, eh malah kaya gitu. Nah kan apa tuh? rugi banget, duit melayang, selingkuhan pun berkhianat atau balik selingkuh.   Nah saya pun nanya lagi, tentang kenapa dari dulu enggak jadi sutradara? kok masih asisten aja, padahal dia udah jadi senior loh di dunia film. Dia jawab karna masalah pendidikan formal. Ya dia pernah cerita ke saya soal pengalaman di sekolahan. Dia sangat acuh tak acuh banget kalo soal pendidikan, jarang masuk kelas, sering nentang guru, suka terlambat sekolah. Tapi kalo urusan dunia teater / seni dia jagonya. Dia termasuk anak muda yang paling aktif soal seni di kampungnya, kalo udah naik panggung teater, udah tuh dia paling over acting, paling jago, paling nampak pokoknya (nah makanya pas dia kerja di film, dia termasuk orang yang paling cepet pinter mengerti ilmu film / seni, karna bakatnya).   Kemudian setelah lulus sekolah SMA (sebenernya namanya bukan sma, tapi sekolah olahraga apa ya lupa namanya, tapi yang penting setara dengan SMA sekarang). Dia bareng temen-temen teaternya niat daftar ke perguruan tinggi di ibu kota provinsi jawa tengah, tapi mereka enggak ada satupun yang lolos (karna disebabkan dia sekolah khusus ilmu olahraga, bukan sekolah umum, padahal pas tesnya ilmu pelajaran umum). Dan akhirnya dia males buat ngelanjutin pendidikannya, kemudian baru ngikut temen teaternya yang kerja di perfilman, akhirnya dia ikut ke Jakarta.   Setelah saya tarik kesimpulan dari pengalamannya, ya udah jelas karna dia menyepelekan pendidikan formalnya (malas, jarang masuk, nakal dll), walaupun jiwa seni teaternya jago, tapi kalo tanpa adanya pendidikan umum, ya susah kalo mau naik ke jenjang yang lebih tinggi. Ya sekarang kebanyakan, kalo mau daftar di kantor PH atau stasiun tv harus punya title, minimal D3 atau S1.   Nah, tambahan buat kamu kawan. Apakah kamu mau jadi orang gagal? atau mau jadi orang sukses?. Kalo mau jadi orang sukses, ya majulah terus pantang menyerah dan jangan malas di masa muda, karena semua itu cerminan orang sukses. Sama seperti pertanyaan, Kamu mau ke neraka? atau masuk surga?. Kalo pengin masuk surga, ya sholat lima waktu yang rajin, berbuat amal, jangan sakiti orang lain (khususnya orangtua), menyebarkan kebaikan, dan lain-lain.

Ingat bro, engga selamanya meraih kesuksesan itu identik terlalu duniawi banget. Banyak kok, yang semakin orang itu sukses semakin besar dalam sumbangan maupun sedekahnya. Bukankah itu sama saja ingat dunia akhiratnya?

PENGALAMAN


Ya semua yang saya jelaskan di atas itu berdasarkan pengalaman pribadi saya. Mencoba bertanya-tanya kepada orang-orang yang udah sedikit tua tetapi tak memiliki prestasi tentang gimana masa mudanya atau pas masa dewasa juga atau juga pas maja keberhasilannnya. Saya mau cerita dua saja.

saya punya teman (sebenarnya teman dari bapak saya dan mereka seumuran, jadi jatuhnya dia paman saya, maka saya panggil dia om). Dia udah punya istri juga punya anak kecil, Dia kerjanya jadi asisten sutradara dan sudah lama melalang buana di dunia perfilman. Tapi? dia enggak memiliki harta, bahkan rumahnya pun masih kecil aja. Padahal kalo kamu tau ya bro? sekitar 5 tahun yang lalu pas dia pegang proyek sinetron dapet penghasilannya gede, mungkin per bulannya dapet 30 an juta. 

Nah kenapa dia malah sekarang enggak memiliki harta atau simpenan duit? Ya karena pas dia lagi berjaya-jayanya, dia malah selingkuh sama cewek laen (satu kampung). Kok engga ketahuan? Ya karna dia ngontrak di Jabodetabek (Kan dia kerjaannya kru film). 

Nah disana om itu bukannya ngumpulin duit buat masa depan anaknya dan juga renovasi rumahnya, eh malah duitnya buat biayain kuliah si cewek selingkuhannya. Bener-bener gembel sekali, duitnya dibuang sia-sia gitu buat selingkuhan, engga cuman biaya kuliah tapi juga buat beliin pakaian dan lain-lain. Dan kamu mau tau kelanjutanya? Ya setelah wisuda kuliah, cewek itu malah mau nikah sama orang lain. Padahal tujuan om saya itu biayain hidup cewek selingkuhannya tuh biar nanti nikah sama dia, eh malah kaya gitu. Nah kan apa tuh? rugi banget, duit melayang, selingkuhan pun berkhianat atau balik selingkuh.

Nah saya pun nanya lagi, tentang kenapa dari dulu enggak jadi sutradara? kok masih asisten aja, padahal dia udah jadi senior loh di dunia film. Dia jawab karna masalah pendidikan formal. Ya dia pernah cerita ke saya soal pengalaman di sekolahan. Dia sangat acuh tak acuh banget kalo soal pendidikan, jarang masuk kelas, sering nentang guru, suka terlambat sekolah. Tapi kalo urusan dunia teater / seni dia jagonya. Dia termasuk anak muda yang paling aktif soal seni di kampungnya, kalo udah naik panggung teater, udah tuh dia paling over acting, paling jago, paling nampak pokoknya (nah makanya pas dia kerja di film, dia termasuk orang yang paling cepet pinter mengerti ilmu film / seni, karna bakatnya). 

Kemudian setelah lulus sekolah SMA (sebenernya namanya bukan sma, tapi sekolah olahraga apa ya lupa namanya, tapi yang penting setara dengan SMA sekarang). Dia bareng temen-temen teaternya niat daftar ke perguruan tinggi di ibu kota provinsi jawa tengah, tapi mereka enggak ada satupun yang lolos (karna disebabkan dia sekolah khusus ilmu olahraga, bukan sekolah umum, padahal pas tesnya ilmu pelajaran umum). Dan akhirnya dia males buat ngelanjutin pendidikannya, kemudian baru ngikut temen teaternya yang kerja di perfilman, akhirnya dia ikut ke Jakarta.

Setelah saya tarik kesimpulan dari pengalamannya, ya udah jelas karna dia menyepelekan pendidikan formalnya (malas, jarang masuk, nakal dll), walaupun jiwa seni teaternya jago, tapi kalo tanpa adanya pendidikan umum, ya susah kalo mau naik ke jenjang yang lebih tinggi. Ya sekarang kebanyakan, kalo mau daftar di kantor PH atau stasiun tv harus punya title, minimal D3 atau S1.

Nah, tambahan buat kamu kawan. Apakah kamu mau jadi orang gagal? atau mau jadi orang sukses?. Kalo mau jadi orang sukses, ya majulah terus pantang menyerah dan jangan malas di masa muda, karena semua itu cerminan orang sukses. Sama seperti pertanyaan, Kamu mau ke neraka? atau masuk surga?. Kalo pengin masuk surga, ya sholat lima waktu yang rajin, berbuat amal, jangan sakiti orang lain (khususnya orangtua), menyebarkan kebaikan, dan lain-lain.

0 Response to "Apa Perlu Belajar Dari Kesalahan Orang Lain?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel