3 Rumus atau Cara Kilat Untuk Menjadi Orang Sukses

Asssalamualaikum...

Kali ini saya pengin ngasih pendapat atau perspektif (sudut pandang) saya mengenai arti dari kesuksesan sesungguhnya. Saya engga memiliki niat untuk menggurui siapapun, karena saya pun masih dangkal banget soal ilmu pemahaman maupun logika. Tentu saja, tiap seseorang memiliki jalan pemikiran masing-masing, ada yang memilih pilihan A dan ada juga yang memilih pilihan B. Itu semua engga salah, yang salah adalah memaksakan kehendak diri sendiri kepada orang lain.

Mmh menurut kamu kesuksesan itu apa sih bro? dan kegagalan itu apa sih?. Mungkin diantara kamu akan menjawab, kesuksesan itu adalah cita-cita yang terwujud dan kegagalan itu adalah cita-cita yang tak pernah tercapai. Dan tentu saja, banyak banget arti dari kesuksesan dalam perspektif dari semua orang dan masing-masing memiliki perbedaan, tetapi pada intinya sama yaitu BERHASIL.

Mungkin banyak diantara kamu yang pesimis dalam hidup, engga memiliki sikap optimistis tentang sesuatu yang cerah di masa depan. Selalu mendapat banyak masalah, hambatan, beban yang membuatmu seakan-akan hidupmu akan menjadi berantakan. Mengeluh setiap saat, tiap waktu, tiap hari, tiap bulan, dan tiap tahun. Menyalahkan keadaan yang engga memberi dukungan untuk memuluskan cita-cita, mmh benar-benar menyebalkan, ya kan bro?.

Asssalamualaikum...    Kali ini saya pengin ngasih pendapat atau perspektif (sudut pandang) saya mengenai arti dari kesuksesan sesungguhnya. Saya engga memiliki niat untuk menggurui siapapun, karena saya pun masih dangkal banget soal ilmu pemahaman maupun logika. Tentu saja, tiap seseorang memiliki jalan pemikiran masing-masing, ada yang memilih pilihan A dan ada juga yang memilih pilihan B. Itu semua engga salah, yang salah adalah memaksakan kehendak diri sendiri kepada orang lain.    Mmh menurut kamu kesuksesan itu apa sih bro? dan kegagalan itu apa sih?. Mungkin diantara kamu akan menjawab, kesuksesan itu adalah cita-cita yang terwujud dan kegagalan itu adalah cita-cita yang tak pernah tercapai. Dan tentu saja, banyak banget arti dari kesuksesan dalam perspektif dari semua orang dan masing-masing memiliki perbedaan, tetapi pada intinya sama yaitu BERHASIL.    Mungkin banyak diantara kamu yang pesimis dalam hidup, engga memiliki sikap optimistis tentang sesuatu yang cerah di masa depan. Selalu mendapat banyak masalah, hambatan, beban yang membuatmu seakan-akan hidupmu akan menjadi berantakan. Mengeluh setiap saat, tiap waktu, tiap hari, tiap bulan, dan tiap tahun. Menyalahkan keadaan yang engga memberi dukungan untuk memuluskan cita-cita, mmh benar-benar menyebalkan, ya kan bro?.          Tenang saja kawan, kamu bukan orang sendirian yang ngalamin pahitnya kehidupan. Saya juga termasuk manusia yang engga hentinya diberi cobaan atau beban hidup, tapi tentu saja cobaan saya, kamu, dan kita pasti berbeda-beda. Saya juga termasuk manusia yang sering mengeluh yang engga begitu saja menerima keadaan yang engga sesuai dengan ekspetasi (keinginan / khayalan) saya.    Mungkin yang sering kita keluhkan adalah hambatan serta kekurangan yang kita miliki. Dan kita pasti berpikir, gara-gara kekurangan itulah kita menjadi orang gagal. Saya ambil contoh, kita memiliki cita-cita pengin jadi dokter atau bisa juga PNS (pegawai negeri sipil). Cuman kendala yang menghampiri kita begitu banyak, misalkan saja kita engga bisa kuliah kedokteran karena masalah biaya atau kita bisa kuliah tapi kita memiliki kekurangan fisik yang menyebabkan gagal menjadi PNS.    Biasanya kita akan membanding-bandingkannya dengan orang yang telah sukses dan kita akan bilang, “Orang sukses itu sih dia punya banyak kelebihan. Dia terlahir dari orang kaya raya jadi bisa kuliah kedokteran.” atau kita bilang, “Dia sih bisa jadi PNS karena dia punya kelebihan kemampuan sedangkan aku banyak memiliki kekurangan.”    Pendapat kamu yang mungkin sama seperti tulisan di atas engga seluruhnya salah tetapi juga engga semuanya benar. Memang benar, kebanyakan orang sukses itu pasti memiliki keberuntungan dari banyaknya kelebihan. Tetapi engga menutup kemungkinan juga, kita yang memiliki banyak kekurangan bisa juga menjadi orang sukses.    Sering dari kita menonton acara program televisi yang menayangkan kisah-kisah inspiratif tentang perjuangan seseorang dari kecil hingga besar (from zero to hero) menjadi orang sukses (sesuai bidang kemampuannya). Setelah menonton itu, biasanya kita akan termotivasi terpompa semangat kita untuk menjadi orang sukses. Karena kita mendengarkan dan menyimak orang-orang sukses itu dulunya mengalami proses yang sangat pahit serta menderita cukup lama. Dan kita pun berpikir kita pasti bisa meniru proses perjuangan seperti perjuangan orang-orang yang lebih dulu sukses.    Kita mencoba berproses untuk menjadi orang sukses hanya bermodalkan semangat yang kuat. Tetapi setelah sekian lama, semangat itu memudar perlahan-lahan menjadi kecil. Karena kemudian kita berpikir, “Ini semua engga masuk akal. Banyak banget kekurangan yang aku miliki, yang ngebuat aku gagal dan engga bisa meniru orang sukses.”    Saya ingin perjelaskan lagi. Misalkan, kita menonton program acara itu dan bintang tamunya adalah Fulan (orang sukses). Fulan seorang pengusaha makanan yang sukses besar. Fulan menceritakan bahwa dulu dia adalah orang miskin yang juga putus sekolah karena masalah biaya. Dia sibuk membantu ayahnya yang bekerja serabutan dan ibunya yang berdagang makanan khas daerah kecil-kecilan. Fulan kemudian mendapat sebuah ide, dia memiliki inisiatif untuk membuat makanan khas daerah dicampur dengan jajanan khas daerah kemudian diberi beberapa varian rasa. Modal duitnya dia peroleh dari hasil kerja serabutan bersama ayahnya yang disimpan atau ditabungnya. Kemudian singkatnya, jualan makanannya itu terjual laris manis hingga Fulan bisa membeli ruko atau toko untuk berjualan kemudian seterusnya berhasil berkembang menjadi besar.    Mindset atau cara jalan pikir kita akan terbentuk, “Si Fulan dari orang miskin aja bisa sukses kok, masa aku engga bisa.” Kita pun akan mendengarkan dengan penuh antusias ketika mendengarkan di bagian-bagian yang paling menyedihkan dari kehidupan Fulan. Seperti ketika Fulan putus sekolah yang dia engga mengeluh, engga malu diejek teman-temannya karena masih kecil bekerja serabutan atau jualan makanan, atau engga sedih melihat teman-temannya asik sekolah.    Dan semua itu hanyalah perspekif (sudut pandang) yang mungkin sempit dari kita. Karena kita berpikir menjadi orang sukses seperti Fulan itu harusnya menerima keadaan dan bekerja keras terus-menerus dan tanpa mengeluh sedikitpun. Saya engga bilang pendapat seperti itu salah, tetapi engga sepenuhnya benar. Sekali lagi saya engga bermaksud menggurui hanya sekedar membuka cara berpikir sebagian dari kamu.    Begini, sebenernya kesuksesan orang itu sudah ditakdirkan jauh-jauh hari sebelum orang itu dilahirkan. Yang namanya orang orang sukses, mau dia terlahir dari orang miskin atau dari orang kaya, kalo emang ditakdirkan jadi orang sukses ya bakal sukses. Kalo orang gagal, mau dia dilahirkan dari orang miskin atau dari orang kaya, kalo ditakdirkan jadi orang gagal yang pasti bakal gagal.    Jadi maksudnya, belum menjamin orang yang bekerja keras banting tulang dari kecil hingga dewasa bisa menjadi orang sukses tetapi juga engga menjamin orang yang bekerja keras akan menjadi orang gagal. Jadi semua bisa menjadi mungkin, semua bisa saja terjadi. Jadi engga menjamin juga orang malas itu akan sukses dan engga menjamin juga orang malas itu akan gagal. Semua memiliki potensi kemungkinan yang engga terduga. Kenapa bisa begitu? Ingat dalam Islam kita percaya bahwa Rejeki, Jodoh, Dan Kematian itu takdir dari Allah swt. Dan kesuksesan itu termasuk dari takdir Rejeki.    Balik lagi dari kisah Fulan, mungkin kita engga pernah berpikir mungkin saja ketika si Fulan putus sekolah, dia mengeluh, marah dan ngambek berhari-hari berbulan-bulan. Dan mungkin saja ketika berjualan dagangan dia malu sama teman-temannya. Atau mungkin dia juga sempat malas untuk membantu kedua orangtuanya.    Apakah seperti itu mungkin? Ya jelas mungkinlah. Coba berkaca pada diri sendiri. Saya, kamu, dan kita pasti sempat mengeluh ketika diberi cobaan kan? ya itu wajar dan manusiawi. Tentu juga jangan berlama-lama juga itu engga baik.    Mungkin dari kamu berpendapat orang-orang sukses seperti Fulan hidupnya penuh perjuangan dan tanpa mengeluh. Hey! sadarlah!. si Fulan hidup menghabiskan waktu puluhan tahun. Kalo dimisalkan Fulan sukses umur 30 tahun, dan putus sekolah serta dalam proses sukses mulai umur 10 tahun, berarti dia berproses dalam kurun waktu sekitar 20 tahun. Kalo kita menonton dan menyimak si Fulan bercerita tentang kepahitan hidupnya hingga menjadi sukses. Kalo kita lebih teliti, Fulan hanya menghabiskan ceritanya itu dalam durasi kurang lebih 15 – 20 menit.    Coba pakai logikamu kawan, dalam berproses sekitar 20 tahun dan dia bercerita hanya 15 – 20 menit. Jadi kesimpulannya adalah tentu saja si Fulan meringkas cerita pengalaman hidupnya dan yang pasti yang diceritakan hanyalah poin-poin pentingnya saja. Dia akan bercerita tentang mengalami cobaan namun Fulan menerimanya. Dan mindset (pola pikir) dari kita akan terbangun bahwa Fulan tipe orang pekerja keras yang engga mengeluh dan pantang menyerah.    Hey sadarlah kawan, kita engga pernah tau, bisa jadi Fulan bener-bener sempat mengeluh dalam hidupnya, pernah minder, pernah melakukan sesuatu yang engga pantas dilakukan namun dia tutupin dan engga di share (dibagi) pengalaman hidupnya secara menyeluruh. Sama seperti yang sering kita lakukan sekarang. Jadi jangan suka bilang, “Aku ini orangnya suka ngeluh, pemalas, pemarah engga mungkin jadi orang sukses!” . Hey emangnya kamu tuhan? yang bisa tau kehidupan masa depan manusia? semua itu bisa terjadi, semua ini bisa terjadi seperti yang kita bayangkan atau yang kita engga pernah bayangkan sebelumnya.    Jadi orang yang malas pun bisa jadi orang sukses kalo emang dia ditakdirkan sukses. Kenapa bisa? ya bisa. Emangnya kamu engga berkaca pada diri sendiri? apakah jika kamu malas belajar trus kamu akan malas bermain juga? Engga kan?. Orang malas itu belum tentu semua yang dia kerjakan malas. Bisa jadi orang yang malas dalam belajar pendidikan tetapi dia semangat dalam urusan bisnis jual beli.    Saya sering ngeliat seperti itu, orang-orang yang dulunya jadi preman sekolah sering tawuran tetapi ketika dewasa dia jadi orang sukses, bahkan pernah ada orang sukses yang seperti itu di undang ke program acara tv.    Orang yang pekerja keras pun bisa jadi orang gagal kalo emang ditakdirkan gagal. Tipe bekerja keras apa dulu nih? kalo kerja kerasnya cuma untuk menyambung hidup tanpa adanya cita-cita atau target hidup, ya hidupnya hanya gitu-gitu aja. Dan banyak banget contohnya orang-orang yang udah miskin, melarat, banyak cobaan, bekerja keras tapi hingga dewasa bahkan tua pun engga kunjung sukses.    Trus gimana donk jadi orang sukses itu? sebenernya jawabannya simple. Karena sukses itu bagian dari rejeki, dan rejeki itu itu sudah ditakdirkan oleh sang Maha Kuasa, maka engga ada jalan lain selain memasrahkan diri segala urusan hidup ke sang Maha Pencipta, Yakni Allah swt.    Tapi tunggu dulu bro, jangan tarik kesimpulannya dulu. Ingat juga, orang-orang yang sukses juga mereka dulunya memiliki cita-cita atau target yang ingin dicapai bukan hanya mengikuti alur kehidupan saja. Kita ambil contoh aja nih, kita melakukan tugas mengerjakan PR (pekerjaan rumah) dari sekolah atau kampus. Kalo engga ada deadline atau engga diberi target selesai, maka kita pun santai-santai mengerjakan PR kita. Dan yang lebih sering, kalo ternyata sudah waktunya dikumpulin besok, baru bakal dikerjain pada malem harinya sebelum dikumpulin. Nah karena apa? pola pikir atau otak kita memberi sugesti target harus selesai sebelum hari H. Jadi semacam pendorong untuk melakukan sesuai dengan target yang direncanain sebelumnya.    Atau contoh lain, Kita sering malas-malasan ngebaca Al-quran kan? ya karena kita engga punya target untuk menghatamkan atau menyelesaikan Alquran. Coba kalo kita menargetkan, membaca satu Juz satu hari, pasti kita bakal semangat untuk mengerjakannya, karena otak kita diprogram untuk itu. Dan ketika rasa malas muncul dipertengahan juz, otak kita tetap akan menyuruh kita untuk melanjutkan atau mendorong kita untuk terus membaca hingga selesai sesuai target. Dan tentu saja kalo kita ngelawan atau mengingkari target yang telah diprogram di otak kita, pasti kita merasa ada yang kurang dalam diri kita, kita merasa ada sesuatu yang engga puas, ya karena target kita belum tercapai.    Sama juga dengan target cita-cita, kalo kamu engga punya target cita-cita, ya kamu bakalan ngejalanin hidup ini juga engga jelas, asal santai, asal hidup, ya pokoknya asal-asalan. Tapi engga menjamin hidup asal-asalan pasti gagal, bisa juga sukses, balik lagi itu soal takdir.    Lah enaknya gimana donk? bekerja keras atau malas-malasan? ya menurut saya sih dua-duanya, tapi jangan berat sebelah juga. Jangan terlalu bekerja keras dan juga jangan terlalu bermalas-malasan juga. Bagi porsinya aja, bekerja keraslah dibagian-bagian yang mana menurutmu itu penting dan boleh bermalas-malas lah dibagian yang menurutmu engga penting. Soalnya gini, terlalu kerja keras juga engga baik dan terlalu bermalas-malasan juga engga baik, harus seimbang.    Ingat sekali lagi, kehidupan manusia engga bisa ditebak. Engga menjamin orang yang mengambil jalan hidup A bisa dapetin A dan engga menjamin orang yang ngambil jalan hidup B bisa dapetin B. Bisa saja ketuker satu sama lain.    Jangan pesimis kamu memiliki kekurangan yang engga dimiliki orang-orang sukses dan jangan terlalu optimis karena kamu memiliki kelebihan dari orang-orang yang udah sukses.    Trus cara tahu kita bisa sukses atau gagal di kehidupan masa depan gimana donk ? Mau tau caranya? sederhanan banget. Jadi orang yang super penasaran, coba dulu sesuatu yang ingin kamu raih, coba, coba, dan cobalah (dalam hal positif). Karena kalo sudah mencoba nanti kamu tau bagaimana hasilnya. Kita engga mungkin bisa tahu rasa masakan di depan kita kalo engga mencobanya, kita engga bisa langsung menilai lewat penampilan, bisa jadi penampilan menipu.    Kalo sekiranya kita telah mencoba dan terasa engga mungkin dilanjutkan, maka sudahlah menyerah dan gantilah mencoba yang lain. Dan tentu saja usahakan ketika mencoba sesuatu yang memang kamu mampu atau kamu memiliki minimal kemampuan untuk mencoba hal itu atau yang berhubungan dengan target cita-citamu.      Jangan katakan, “Itu engga mungkin!” atau “Itu pasti bisa!”. Tapi katakanlah!      “MUNGKIN SAJA”      Ya mungkin bisa jadi gagal, bisa jadi sukses.        CURHAT    Saya engga punya pengalaman tentang kesuksesan hidup (dalam artian cita-cita) karena belum merasakannya, mungkin nanti, atau emang mungkin engga akan pernah, siapa yang tau.    Saya membuat postingan ini hanya sekedar menyadarkan sebagian dari kamu (yang sependapat denganku) dan khususnya menyadarkan diri saya sendiri tentang arti kesuksesan.    Tentu saja saya banyak mengalami kekurangan yang menghambat saya untuk mencapai kesuksesan, sama seperti orang-orang pada umumnya. Yang paling menghambat atau rintangan untuk saya adalah soal kepercayaan. Kamu tahu, saya ini termasuk orang-orang yang lebih banyak engga diberikan kepercayaan dari orang lain bahkan orangtua kandung saya sendiri. Jadi setiap kali saya melakukan sesuatu apalagi sesuatu itu baru, maka orang-orang sudah meremehkan duluan. Dan berlaku juga pada apa yang saya katakan atau saya ucapkan, akan selalu dianggap salah dan engga berguna (makanya saya lebih enak menyalurkan pendapat saya melalui blog ini). Kamu mau tahu kenapa? kemungkinan terbesar adalah karena masalah penampilan saya kurang menarik dan attitude (sikap) yang kurang baik (saya masih dalam proses perbaikan keduanya). Andai kata kamu melihat saya secara langsung, mungkin kamu akan sependapat dengan orang lain yang meremehkan saya dan termasuk juga orang tua saya sendiri. Mungkin saya termasuk dalam kategori produk gagal yang terlalu banyak bermimpi, siapa yang tahu.    Haha becanda dink, mana ada manusia produk gagal. Saya cuma mau sebagian dari kamu jangan menganggap saya hidupnya enak dan selalu beruntung gara-gara ngebaca postingan ini atau seluruh blog (seakan-akan kelihatannya pinter). Sekali lagi kawan, kamu engga sendirian yang sering ditimpa masalah. Ya sama kaya orang-orang yang udah sukses, mereka juga ngalamin masalah yang bertubi-tubi, cuma ketika dia udah sukses kan dia cuma share (bagi) cerita pengalamannya diambil yang menarik doank. Sama kaya pengalaman saya yang saya bagi lewat blog ini, cuma ngambil yang bagus-bagus doank, yang pasti ada beberapa hal yang engga mungkin saya ceritakan, hehe.    Balik lagi ke masalah target cita-cita saya. Kalo kamu membaca semua postingan saya di blog ini dari awal, kamu akan tahu apa-apa aja keinginan saya. Cita-cita saya terlalu ‘wah’ kalo dilihat dari perspektif orang awam, tapi kalo dilihat dari sudut pandang saya sendiri (dan dari sudut pandang orang-orang yang sependapat denganku) maka cita-cita saya itu memiliki sumber kebaikan yang sangat banyak. Karena cita-cita saya yang saya kejar ini semacam investasi pahala yang engga akan putus walau saya meninggal dunia, itupun kalo digunakan untuk kebaikan bukan untuk keburukan.    Saya menargetkan cita-cita saya itu semenjak SD kelas 6 hingga sekarang cita-cita itu engga berubah sedikitpun, bener-bener otak saya udah diprogram untuk mencapai itu. Sehingga banyak pekerjaan di luar cita-cita, saya tolak. Dan itu membuat hidup saya rugi karena terlalu bermimpi mengejar yang engga pasti. Walaupun semuanya mungkin bisa terjadi, hanya Allah swt yang tahu. Ya sifat seperti itu juga engga baik, sebaiknya jangan ditiru.    Setelah saya merenungi semuanya selama ini, saya akhirnya memutuskan untuk membuat deadline atas target cita-cita saya. Saya mulai saat ini membuat semacam tenggat waktu untuk pencapaian target cita-cita. Jadi kalo misalkan cita-cita saya belum tercapai sampai batas waktu yang ditentukan, otomatis saya harus melupakan dan mengganti cita-cita saya (walaupun dengan perlahan-lahan nan menyakitkan).      Rumus-rumusan yang saya pegang untuk menggapai cita-cita, seperti ini:      1. Saya akan pegang target cita-cita terbesar saya (cita-cita final atau tujuan paling utama atau cita-cita besar).      2. Setelah saya menentukkan itu, saya langsung menyusun target-target kecil yang tentu saja berhubungan langsung dengan cita-cita utama.      3. Setelah itu, saya akan mencoba menyelesaikan target-target kecil itu, kalo berhasil saya akan terus maju. Tetapi kalo gagal saya akan memikirkan target alternatif lain. Dan kalo emang sudah dicoba tapi engga berhasil sampai deadline, saya akan menghentikannya.    Nah saya akan bagi sedikit cerita aja deh tentang cita-cita saya. Saya menargetkan cita-cita utama menjadi sutradara film yang membawa 1 Visi serta 3 Misi (Apa itu? rahasia donk). Kemudian saya menargetkan target-target kecil, yang saya lakukan adalah bekerja langsung di perfilman sekelas FTV / TVM (Film tv/ Tv movie). Tapi ternyata banyak kendala disitu, ya akhirnya saya menyerah untuk melanjutkan target kecil itu (mau tau kenapa? sistemnya masih kacau banget). Trus saya berganti target ikut komunitas film kota Bekasi (komunitasnya masih engga jelas), ya sampailah saya bikin film bareng komunitas di luar kota yaitu Blora Jateng (dari pihak sekolah SMP dan pemkot). Tapi ternyata engga membuahkan hasil, selanjutnya saya menargetkan untuk mencoba mendaftar lagi ke PH (Production House), dan hasilnya sama aja engga ada happy ending. Dan lain-lainnya....    Target-target kecil yang diatas itu saya kategorikan sebagai target-target gagal. Jadi akhirnya saya membuat target-target lain selanjutnya, bisa dibilang target alternatif yang paling akhir atau target pamungkas. Mau tau apa target itu? Rahasia donk, hehe.    Saya engga akan membagi pengalaman yang belum terjadi (karena itu bukan pengalaman, jatuhnya prediksi atau spekulasi atau pengamatan). Hanya sekedar info aja, jadi intinya sebagian tulisan yang ada di blog ini berdasarkan pengalaman pribadi dan ada juga yang berdasarkan pengamatan atau belum pernah mengalami karena bisa berdasarkan dari pengalaman teman-teman serta bisa karena beberapa kemampuan skill yang belum saya praktekan mengingat belum diberikan kesempatan untuk mencoba.    Di target pamungkas yang terakhir ini saya membuat tenggat waktu atau deadline. Jadi kalo saya masih aja gagal, tandanya saya akan beralih dan mengganti target cita-cita yang lain. Saya sudah menentukkan bulan dan tahun deadlinenya (sekedar spoiler, tahun ini 2016, bulan nya rahasia tapi engga lama lagi, tinggal beberapa bulan aja). Kenapa harus dikasih deadline kadaluarsa? ya karena hanya satu-satunya harapan ada di target terakhir ini. Dengan target ini, peluang saya untuk melangkah semakin lumayan jelas, hehe. Tapi kalo gagal ya sudah, ingat Rejeki, Jodoh, Mati udah ditakdirkan oleh Allah swt.    Oh ya, bagi kamu yang berpikir saya beruntung bisa sempat menyelesaikan target-target kecil yang berada di kategori target-target gagal, saya mau bilang jangan berpikiran seperti itu. Kalo kamu mau tau aja, pas saya kerja di dunia film, saya pernah dilemparin putung rokok (masih ada apinya) dan hampir dipukul kru lain, saya pernah menghabiskan banyak uang tapi engga balik modal, pernah hampir digigit anjing gara-gara mau ngedaftar lagi, tidur sembarangan, makan nunggu belas kasih teman ataupun saudara, ah pokoknya ancur banget banyak lagi yang lainnya yang engga mau saya share.    Nah kan kalo saya curhat tentang merananya hidupku, wkwk, pasti sebagian dari kamu menganggapnya biasa, atau malah kamu akan bilang, “I don’t Care!” muahahaha. Ya wajar maklum karena saya kan bukan siapa-siapa. Tapi kalo saya bener-bener berhasil menjadi orang sukses, pasti kamu juga bakal respect sama saya, bakal antusias mendengarkan pengalaman pahit hidup saya.    Dan itu berlaku juga untuk kehidupan orang-orang sukses yang kamu bangga-banggakan atau yang kamu jadikan panutan. Apa yang diceritakan oleh orang sukses, pasti sebagian dari kamu bakal takjub. Andaikan saya cerita soal saya pernah digigit anjing, bagimu hal yang biasa kan?. Coba kalo yang digigit anjing itu pengalaman dari orang sukses, ya kesannya mewah banget ya, dan yang pasti kamu-kamu bakal menganggap hal-hal itu istimewa. Padahal semua orang yang sukses atau yang gagal juga pasti ngerasain masalah hidup. Berat ringannya masing-masing sesuai porsinya.    Tambahan, Jangan niatkan ibadahmu pas kamu pengin jadi orang sukses aja. Mau tau kenapa? kalo niat ibadahmu cuma karena pengin kenikmatan duniawi, maka itu adalah salah. Andaikata doamu engga terkabul, pasti kamu bakal males ibadah lagi, karena niatnya mengejar terkabulnya doa bukan karena perintah wajib dari Allah swt.    Jangan campur adukan ibadah dengan keinginan atau cita-cita. Ibadah ya niatnya karena kewajiban, dan cita-cita itu ya soal niat keinginan mendapat kebaikan duniawi.    Saya mau kasih saran aja, jangan terlalu banyak berdoa ingin sukses duniawi ketika beribadah. Walaupun hal-hal itu engga dilarang dan engga salah, tapi hal-hal itu engga sepenuhnya benar. Kamu jangan berdoa meminta hasil, tapi mintalah dipermudah prosesnya. Misalkan, kamu pengin jadi pengusaha pakaian. Kamu jangan berdoa, “Ya Allah, jadikanlah hamba pengusaha pakaian yang sukses besar”. Jangan seperti itu, tapi mintalah dipermudah proses perjuangannya. Berdoalah, “Ya Allah, permudahkanlah hamba untuk menjalani segala urusan yang berkaitan dengan keniatan hamba untuk membuka usaha pakaian”. Kurang lebihnya seperti itu. Nikmati prosesnya, jangan jadikan hasil sebagai orientasi satu-satunya.      Doa yang lebih bagus lagi adalah    “Ya Allah, Yang maha pengasih lagi maha penyayang. Yang maha Agung lagi maha tinggi. Maha suci Allah tuhan seluruh alam. Ya Allah yang maha kuasa atas segala sesuatu. Berikanlah kebaikan dunia maupun akhirat kepadaku. Dan permudahkanlah segala urusanku dalam hal-hal baik sehingga aku bisa memberikan kebaikan dan manfaat untuk diriku serta makhluk-Mu yang lain, Aamiin.”    Itu yang kadang saya panjatkan kepada Allah swt. Semoga bermanfaat.


Tenang saja kawan, kamu bukan orang sendirian yang ngalamin pahitnya kehidupan. Saya juga termasuk manusia yang engga hentinya diberi cobaan atau beban hidup, tapi tentu saja cobaan saya, kamu, dan kita pasti berbeda-beda. Saya juga termasuk manusia yang sering mengeluh yang engga begitu saja menerima keadaan yang engga sesuai dengan ekspetasi (keinginan / khayalan) saya.

Mungkin yang sering kita keluhkan adalah hambatan serta kekurangan yang kita miliki. Dan kita pasti berpikir, gara-gara kekurangan itulah kita menjadi orang gagal. Saya ambil contoh, kita memiliki cita-cita pengin jadi dokter atau bisa juga PNS (pegawai negeri sipil). Cuman kendala yang menghampiri kita begitu banyak, misalkan saja kita engga bisa kuliah kedokteran karena masalah biaya atau kita bisa kuliah tapi kita memiliki kekurangan fisik yang menyebabkan gagal menjadi PNS.

Biasanya kita akan membanding-bandingkannya dengan orang yang telah sukses dan kita akan bilang, “Orang sukses itu sih dia punya banyak kelebihan. Dia terlahir dari orang kaya raya jadi bisa kuliah kedokteran.” atau kita bilang, “Dia sih bisa jadi PNS karena dia punya kelebihan kemampuan sedangkan aku banyak memiliki kekurangan.”

Pendapat kamu yang mungkin sama seperti tulisan di atas engga seluruhnya salah tetapi juga engga semuanya benar. Memang benar, kebanyakan orang sukses itu pasti memiliki keberuntungan dari banyaknya kelebihan. Tetapi engga menutup kemungkinan juga, kita yang memiliki banyak kekurangan bisa juga menjadi orang sukses.

Sering dari kita menonton acara program televisi yang menayangkan kisah-kisah inspiratif tentang perjuangan seseorang dari kecil hingga besar (from zero to hero) menjadi orang sukses (sesuai bidang kemampuannya). Setelah menonton itu, biasanya kita akan termotivasi terpompa semangat kita untuk menjadi orang sukses. Karena kita mendengarkan dan menyimak orang-orang sukses itu dulunya mengalami proses yang sangat pahit serta menderita cukup lama. Dan kita pun berpikir kita pasti bisa meniru proses perjuangan seperti perjuangan orang-orang yang lebih dulu sukses.

Kita mencoba berproses untuk menjadi orang sukses hanya bermodalkan semangat yang kuat. Tetapi setelah sekian lama, semangat itu memudar perlahan-lahan menjadi kecil. Karena kemudian kita berpikir, “Ini semua engga masuk akal. Banyak banget kekurangan yang aku miliki, yang ngebuat aku gagal dan engga bisa meniru orang sukses.”

Saya ingin perjelaskan lagi. Misalkan, kita menonton program acara itu dan bintang tamunya adalah Fulan (orang sukses). Fulan seorang pengusaha makanan yang sukses besar. Fulan menceritakan bahwa dulu dia adalah orang miskin yang juga putus sekolah karena masalah biaya. Dia sibuk membantu ayahnya yang bekerja serabutan dan ibunya yang berdagang makanan khas daerah kecil-kecilan. Fulan kemudian mendapat sebuah ide, dia memiliki inisiatif untuk membuat makanan khas daerah dicampur dengan jajanan khas daerah kemudian diberi beberapa varian rasa. Modal duitnya dia peroleh dari hasil kerja serabutan bersama ayahnya yang disimpan atau ditabungnya. Kemudian singkatnya, jualan makanannya itu terjual laris manis hingga Fulan bisa membeli ruko atau toko untuk berjualan kemudian seterusnya berhasil berkembang menjadi besar.

Mindset atau cara jalan pikir kita akan terbentuk, “Si Fulan dari orang miskin aja bisa sukses kok, masa aku engga bisa.” Kita pun akan mendengarkan dengan penuh antusias ketika mendengarkan di bagian-bagian yang paling menyedihkan dari kehidupan Fulan. Seperti ketika Fulan putus sekolah yang dia engga mengeluh, engga malu diejek teman-temannya karena masih kecil bekerja serabutan atau jualan makanan, atau engga sedih melihat teman-temannya asik sekolah.

Dan semua itu hanyalah perspekif (sudut pandang) yang mungkin sempit dari kita. Karena kita berpikir menjadi orang sukses seperti Fulan itu harusnya menerima keadaan dan bekerja keras terus-menerus dan tanpa mengeluh sedikitpun. Saya engga bilang pendapat seperti itu salah, tetapi engga sepenuhnya benar. Sekali lagi saya engga bermaksud menggurui hanya sekedar membuka cara berpikir sebagian dari kamu.

Begini, sebenernya kesuksesan orang itu sudah ditakdirkan jauh-jauh hari sebelum orang itu dilahirkan. Yang namanya orang orang sukses, mau dia terlahir dari orang miskin atau dari orang kaya, kalo emang ditakdirkan jadi orang sukses ya bakal sukses. Kalo orang gagal, mau dia dilahirkan dari orang miskin atau dari orang kaya, kalo ditakdirkan jadi orang gagal yang pasti bakal gagal.

Jadi maksudnya, belum menjamin orang yang bekerja keras banting tulang dari kecil hingga dewasa bisa menjadi orang sukses tetapi juga engga menjamin orang yang bekerja keras akan menjadi orang gagal. Jadi semua bisa menjadi mungkin, semua bisa saja terjadi. Jadi engga menjamin juga orang malas itu akan sukses dan engga menjamin juga orang malas itu akan gagal. Semua memiliki potensi kemungkinan yang engga terduga. Kenapa bisa begitu? Ingat dalam Islam kita percaya bahwa Rejeki, Jodoh, Dan Kematian itu takdir dari Allah swt. Dan kesuksesan itu termasuk dari takdir Rejeki.

Balik lagi dari kisah Fulan, mungkin kita engga pernah berpikir mungkin saja ketika si Fulan putus sekolah, dia mengeluh, marah dan ngambek berhari-hari berbulan-bulan. Dan mungkin saja ketika berjualan dagangan dia malu sama teman-temannya. Atau mungkin dia juga sempat malas untuk membantu kedua orangtuanya.

Apakah seperti itu mungkin? Ya jelas mungkinlah. Coba berkaca pada diri sendiri. Saya, kamu, dan kita pasti sempat mengeluh ketika diberi cobaan kan? ya itu wajar dan manusiawi. Tentu juga jangan berlama-lama juga itu engga baik.

Mungkin dari kamu berpendapat orang-orang sukses seperti Fulan hidupnya penuh perjuangan dan tanpa mengeluh. Hey! sadarlah!. si Fulan hidup menghabiskan waktu puluhan tahun. Kalo dimisalkan Fulan sukses umur 30 tahun, dan putus sekolah serta dalam proses sukses mulai umur 10 tahun, berarti dia berproses dalam kurun waktu sekitar 20 tahun. Kalo kita menonton dan menyimak si Fulan bercerita tentang kepahitan hidupnya hingga menjadi sukses. Kalo kita lebih teliti, Fulan hanya menghabiskan ceritanya itu dalam durasi kurang lebih 15 – 20 menit.

Coba pakai logikamu kawan, dalam berproses sekitar 20 tahun dan dia bercerita hanya 15 – 20 menit. Jadi kesimpulannya adalah tentu saja si Fulan meringkas cerita pengalaman hidupnya dan yang pasti yang diceritakan hanyalah poin-poin pentingnya saja. Dia akan bercerita tentang mengalami cobaan namun Fulan menerimanya. Dan mindset (pola pikir) dari kita akan terbangun bahwa Fulan tipe orang pekerja keras yang engga mengeluh dan pantang menyerah.

Hey sadarlah kawan, kita engga pernah tau, bisa jadi Fulan bener-bener sempat mengeluh dalam hidupnya, pernah minder, pernah melakukan sesuatu yang engga pantas dilakukan namun dia tutupin dan engga di share (dibagi) pengalaman hidupnya secara menyeluruh. Sama seperti yang sering kita lakukan sekarang. Jadi jangan suka bilang, “Aku ini orangnya suka ngeluh, pemalas, pemarah engga mungkin jadi orang sukses!” . Hey emangnya kamu tuhan? yang bisa tau kehidupan masa depan manusia? semua itu bisa terjadi, semua ini bisa terjadi seperti yang kita bayangkan atau yang kita engga pernah bayangkan sebelumnya.

Jadi orang yang malas pun bisa jadi orang sukses kalo emang dia ditakdirkan sukses. Kenapa bisa? ya bisa. Emangnya kamu engga berkaca pada diri sendiri? apakah jika kamu malas belajar trus kamu akan malas bermain juga? Engga kan?. Orang malas itu belum tentu semua yang dia kerjakan malas. Bisa jadi orang yang malas dalam belajar pendidikan tetapi dia semangat dalam urusan bisnis jual beli.

Saya sering ngeliat seperti itu, orang-orang yang dulunya jadi preman sekolah sering tawuran tetapi ketika dewasa dia jadi orang sukses, bahkan pernah ada orang sukses yang seperti itu di undang ke program acara tv.

Orang yang pekerja keras pun bisa jadi orang gagal kalo emang ditakdirkan gagal. Tipe bekerja keras apa dulu nih? kalo kerja kerasnya cuma untuk menyambung hidup tanpa adanya cita-cita atau target hidup, ya hidupnya hanya gitu-gitu aja. Dan banyak banget contohnya orang-orang yang udah miskin, melarat, banyak cobaan, bekerja keras tapi hingga dewasa bahkan tua pun engga kunjung sukses.

Trus gimana donk jadi orang sukses itu? sebenernya jawabannya simple. Karena sukses itu bagian dari rejeki, dan rejeki itu itu sudah ditakdirkan oleh sang Maha Kuasa, maka engga ada jalan lain selain memasrahkan diri segala urusan hidup ke sang Maha Pencipta, Yakni Allah swt.

Tapi tunggu dulu bro, jangan tarik kesimpulannya dulu. Ingat juga, orang-orang yang sukses juga mereka dulunya memiliki cita-cita atau target yang ingin dicapai bukan hanya mengikuti alur kehidupan saja. Kita ambil contoh aja nih, kita melakukan tugas mengerjakan PR (pekerjaan rumah) dari sekolah atau kampus. Kalo engga ada deadline atau engga diberi target selesai, maka kita pun santai-santai mengerjakan PR kita. Dan yang lebih sering, kalo ternyata sudah waktunya dikumpulin besok, baru bakal dikerjain pada malem harinya sebelum dikumpulin. Nah karena apa? pola pikir atau otak kita memberi sugesti target harus selesai sebelum hari H. Jadi semacam pendorong untuk melakukan sesuai dengan target yang direncanain sebelumnya.

Atau contoh lain, Kita sering malas-malasan ngebaca Al-quran kan? ya karena kita engga punya target untuk menghatamkan atau menyelesaikan Alquran. Coba kalo kita menargetkan, membaca satu Juz satu hari, pasti kita bakal semangat untuk mengerjakannya, karena otak kita diprogram untuk itu. Dan ketika rasa malas muncul dipertengahan juz, otak kita tetap akan menyuruh kita untuk melanjutkan atau mendorong kita untuk terus membaca hingga selesai sesuai target. Dan tentu saja kalo kita ngelawan atau mengingkari target yang telah diprogram di otak kita, pasti kita merasa ada yang kurang dalam diri kita, kita merasa ada sesuatu yang engga puas, ya karena target kita belum tercapai.

Sama juga dengan target cita-cita, kalo kamu engga punya target cita-cita, ya kamu bakalan ngejalanin hidup ini juga engga jelas, asal santai, asal hidup, ya pokoknya asal-asalan. Tapi engga menjamin hidup asal-asalan pasti gagal, bisa juga sukses, balik lagi itu soal takdir.

Lah enaknya gimana donk? bekerja keras atau malas-malasan? ya menurut saya sih dua-duanya, tapi jangan berat sebelah juga. Jangan terlalu bekerja keras dan juga jangan terlalu bermalas-malasan juga. Bagi porsinya aja, bekerja keraslah dibagian-bagian yang mana menurutmu itu penting dan boleh bermalas-malas lah dibagian yang menurutmu engga penting. Soalnya gini, terlalu kerja keras juga engga baik dan terlalu bermalas-malasan juga engga baik, harus seimbang.

Ingat sekali lagi, kehidupan manusia engga bisa ditebak. Engga menjamin orang yang mengambil jalan hidup A bisa dapetin A dan engga menjamin orang yang ngambil jalan hidup B bisa dapetin B. Bisa saja ketuker satu sama lain.

Jangan pesimis kamu memiliki kekurangan yang engga dimiliki orang-orang sukses dan jangan terlalu optimis karena kamu memiliki kelebihan dari orang-orang yang udah sukses.

Trus cara tahu kita bisa sukses atau gagal di kehidupan masa depan gimana donk ? Mau tau caranya? sederhanan banget. Jadi orang yang super penasaran, coba dulu sesuatu yang ingin kamu raih, coba, coba, dan cobalah (dalam hal positif). Karena kalo sudah mencoba nanti kamu tau bagaimana hasilnya. Kita engga mungkin bisa tahu rasa masakan di depan kita kalo engga mencobanya, kita engga bisa langsung menilai lewat penampilan, bisa jadi penampilan menipu.

Kalo sekiranya kita telah mencoba dan terasa engga mungkin dilanjutkan, maka sudahlah menyerah dan gantilah mencoba yang lain. Dan tentu saja usahakan ketika mencoba sesuatu yang memang kamu mampu atau kamu memiliki minimal kemampuan untuk mencoba hal itu atau yang berhubungan dengan target cita-citamu.


Jangan katakan, “Itu engga mungkin!” atau “Itu pasti bisa!”. Tapi katakanlah!


“MUNGKIN SAJA”


Ya mungkin bisa jadi gagal, bisa jadi sukses.



CURHAT

Saya engga punya pengalaman tentang kesuksesan hidup (dalam artian cita-cita) karena belum merasakannya, mungkin nanti, atau emang mungkin engga akan pernah, siapa yang tau.

Saya membuat postingan ini hanya sekedar menyadarkan sebagian dari kamu (yang sependapat denganku) dan khususnya menyadarkan diri saya sendiri tentang arti kesuksesan.

Tentu saja saya banyak mengalami kekurangan yang menghambat saya untuk mencapai kesuksesan, sama seperti orang-orang pada umumnya. Yang paling menghambat atau rintangan untuk saya adalah soal kepercayaan. Kamu tahu, saya ini termasuk orang-orang yang lebih banyak engga diberikan kepercayaan dari orang lain bahkan orangtua kandung saya sendiri. Jadi setiap kali saya melakukan sesuatu apalagi sesuatu itu baru, maka orang-orang sudah meremehkan duluan. Dan berlaku juga pada apa yang saya katakan atau saya ucapkan, akan selalu dianggap salah dan engga berguna (makanya saya lebih enak menyalurkan pendapat saya melalui blog ini). Kamu mau tahu kenapa? kemungkinan terbesar adalah karena masalah penampilan saya kurang menarik dan attitude (sikap) yang kurang baik (saya masih dalam proses perbaikan keduanya). Andai kata kamu melihat saya secara langsung, mungkin kamu akan sependapat dengan orang lain yang meremehkan saya dan termasuk juga orang tua saya sendiri. Mungkin saya termasuk dalam kategori produk gagal yang terlalu banyak bermimpi, siapa yang tahu.

Haha becanda dink, mana ada manusia produk gagal. Saya cuma mau sebagian dari kamu jangan menganggap saya hidupnya enak dan selalu beruntung gara-gara ngebaca postingan ini atau seluruh blog (seakan-akan kelihatannya pinter). Sekali lagi kawan, kamu engga sendirian yang sering ditimpa masalah. Ya sama kaya orang-orang yang udah sukses, mereka juga ngalamin masalah yang bertubi-tubi, cuma ketika dia udah sukses kan dia cuma share (bagi) cerita pengalamannya diambil yang menarik doank. Sama kaya pengalaman saya yang saya bagi lewat blog ini, cuma ngambil yang bagus-bagus doank, yang pasti ada beberapa hal yang engga mungkin saya ceritakan, hehe.

Balik lagi ke masalah target cita-cita saya. Kalo kamu membaca semua postingan saya di blog ini dari awal, kamu akan tahu apa-apa aja keinginan saya. Cita-cita saya terlalu ‘wah’ kalo dilihat dari perspektif orang awam, tapi kalo dilihat dari sudut pandang saya sendiri (dan dari sudut pandang orang-orang yang sependapat denganku) maka cita-cita saya itu memiliki sumber kebaikan yang sangat banyak. Karena cita-cita saya yang saya kejar ini semacam investasi pahala yang engga akan putus walau saya meninggal dunia, itupun kalo digunakan untuk kebaikan bukan untuk keburukan.

Saya menargetkan cita-cita saya itu semenjak SD kelas 6 hingga sekarang cita-cita itu engga berubah sedikitpun, bener-bener otak saya udah diprogram untuk mencapai itu. Sehingga banyak pekerjaan di luar cita-cita, saya tolak. Dan itu membuat hidup saya rugi karena terlalu bermimpi mengejar yang engga pasti. Walaupun semuanya mungkin bisa terjadi, hanya Allah swt yang tahu. Ya sifat seperti itu juga engga baik, sebaiknya jangan ditiru.

Setelah saya merenungi semuanya selama ini, saya akhirnya memutuskan untuk membuat deadline atas target cita-cita saya. Saya mulai saat ini membuat semacam tenggat waktu untuk pencapaian target cita-cita. Jadi kalo misalkan cita-cita saya belum tercapai sampai batas waktu yang ditentukan, otomatis saya harus melupakan dan mengganti cita-cita saya (walaupun dengan perlahan-lahan nan menyakitkan).


Rumus-rumusan yang saya pegang untuk menggapai cita-cita, seperti ini:


1. Saya akan pegang target cita-cita terbesar saya (cita-cita final atau tujuan paling utama atau cita-cita besar).


2. Setelah saya menentukkan itu, saya langsung menyusun target-target kecil yang tentu saja berhubungan langsung dengan cita-cita utama.


3. Setelah itu, saya akan mencoba menyelesaikan target-target kecil itu, kalo berhasil saya akan terus maju. Tetapi kalo gagal saya akan memikirkan target alternatif lain. Dan kalo emang sudah dicoba tapi engga berhasil sampai deadline, saya akan menghentikannya.

Nah saya akan bagi sedikit cerita aja deh tentang cita-cita saya. Saya menargetkan cita-cita utama menjadi sutradara film yang membawa 1 Visi serta 3 Misi (Apa itu? rahasia donk). Kemudian saya menargetkan target-target kecil, yang saya lakukan adalah bekerja langsung di perfilman sekelas FTV / TVM (Film tv/ Tv movie). Tapi ternyata banyak kendala disitu, ya akhirnya saya menyerah untuk melanjutkan target kecil itu (mau tau kenapa? sistemnya masih kacau banget). Trus saya berganti target ikut komunitas film kota Bekasi (komunitasnya masih engga jelas), ya sampailah saya bikin film bareng komunitas di luar kota yaitu Blora Jateng (dari pihak sekolah SMP dan pemkot). Tapi ternyata engga membuahkan hasil, selanjutnya saya menargetkan untuk mencoba mendaftar lagi ke PH (Production House), dan hasilnya sama aja engga ada happy ending. Dan lain-lainnya....

Target-target kecil yang diatas itu saya kategorikan sebagai target-target gagal. Jadi akhirnya saya membuat target-target lain selanjutnya, bisa dibilang target alternatif yang paling akhir atau target pamungkas. Mau tau apa target itu? Rahasia donk, hehe.

Saya engga akan membagi pengalaman yang belum terjadi (karena itu bukan pengalaman, jatuhnya prediksi atau spekulasi atau pengamatan). Hanya sekedar info aja, jadi intinya sebagian tulisan yang ada di blog ini berdasarkan pengalaman pribadi dan ada juga yang berdasarkan pengamatan atau belum pernah mengalami karena bisa berdasarkan dari pengalaman teman-teman serta bisa karena beberapa kemampuan skill yang belum saya praktekan mengingat belum diberikan kesempatan untuk mencoba.

Di target pamungkas yang terakhir ini saya membuat tenggat waktu atau deadline. Jadi kalo saya masih aja gagal, tandanya saya akan beralih dan mengganti target cita-cita yang lain. Saya sudah menentukkan bulan dan tahun deadlinenya (sekedar spoiler, tahun ini 2016, bulan nya rahasia tapi engga lama lagi, tinggal beberapa bulan aja). Kenapa harus dikasih deadline kadaluarsa? ya karena hanya satu-satunya harapan ada di target terakhir ini. Dengan target ini, peluang saya untuk melangkah semakin lumayan jelas, hehe. Tapi kalo gagal ya sudah, ingat Rejeki, Jodoh, Mati udah ditakdirkan oleh Allah swt.

Oh ya, bagi kamu yang berpikir saya beruntung bisa sempat menyelesaikan target-target kecil yang berada di kategori target-target gagal, saya mau bilang jangan berpikiran seperti itu. Kalo kamu mau tau aja, pas saya kerja di dunia film, saya pernah dilemparin putung rokok (masih ada apinya) dan hampir dipukul kru lain, saya pernah menghabiskan banyak uang tapi engga balik modal, pernah hampir digigit anjing gara-gara mau ngedaftar lagi, tidur sembarangan, makan nunggu belas kasih teman ataupun saudara, ah pokoknya ancur banget banyak lagi yang lainnya yang engga mau saya share.

Nah kan kalo saya curhat tentang merananya hidupku, wkwk, pasti sebagian dari kamu menganggapnya biasa, atau malah kamu akan bilang, “I don’t Care!” muahahaha. Ya wajar maklum karena saya kan bukan siapa-siapa. Tapi kalo saya bener-bener berhasil menjadi orang sukses, pasti kamu juga bakal respect sama saya, bakal antusias mendengarkan pengalaman pahit hidup saya.

Dan itu berlaku juga untuk kehidupan orang-orang sukses yang kamu bangga-banggakan atau yang kamu jadikan panutan. Apa yang diceritakan oleh orang sukses, pasti sebagian dari kamu bakal takjub. Andaikan saya cerita soal saya pernah digigit anjing, bagimu hal yang biasa kan?. Coba kalo yang digigit anjing itu pengalaman dari orang sukses, ya kesannya mewah banget ya, dan yang pasti kamu-kamu bakal menganggap hal-hal itu istimewa. Padahal semua orang yang sukses atau yang gagal juga pasti ngerasain masalah hidup. Berat ringannya masing-masing sesuai porsinya.

Tambahan, Jangan niatkan ibadahmu pas kamu pengin jadi orang sukses aja. Mau tau kenapa? kalo niat ibadahmu cuma karena pengin kenikmatan duniawi, maka itu adalah salah. Andaikata doamu engga terkabul, pasti kamu bakal males ibadah lagi, karena niatnya mengejar terkabulnya doa bukan karena perintah wajib dari Allah swt.

Jangan campur adukan ibadah dengan keinginan atau cita-cita. Ibadah ya niatnya karena kewajiban, dan cita-cita itu ya soal niat keinginan mendapat kebaikan duniawi.

Saya mau kasih saran aja, jangan terlalu banyak berdoa ingin sukses duniawi ketika beribadah. Walaupun hal-hal itu engga dilarang dan engga salah, tapi hal-hal itu engga sepenuhnya benar. Kamu jangan berdoa meminta hasil, tapi mintalah dipermudah prosesnya. Misalkan, kamu pengin jadi pengusaha pakaian. Kamu jangan berdoa, “Ya Allah, jadikanlah hamba pengusaha pakaian yang sukses besar”. Jangan seperti itu, tapi mintalah dipermudah proses perjuangannya. Berdoalah, “Ya Allah, permudahkanlah hamba untuk menjalani segala urusan yang berkaitan dengan keniatan hamba untuk membuka usaha pakaian”. Kurang lebihnya seperti itu. Nikmati prosesnya, jangan jadikan hasil sebagai orientasi satu-satunya.


Doa yang lebih bagus lagi adalah

“Ya Allah, Yang maha pengasih lagi maha penyayang. Yang maha Agung lagi maha tinggi. Maha suci Allah tuhan seluruh alam. Ya Allah yang maha kuasa atas segala sesuatu. Berikanlah kebaikan dunia maupun akhirat kepadaku. Dan permudahkanlah segala urusanku dalam hal-hal baik sehingga aku bisa memberikan kebaikan dan manfaat untuk diriku serta makhluk-Mu yang lain, Aamiin.”

Itu yang kadang saya panjatkan kepada Allah swt. Semoga bermanfaat.

0 Response to "3 Rumus atau Cara Kilat Untuk Menjadi Orang Sukses "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel