Tunjukkan Keberanianmu, Kawan!

Sebagian dari kita, ada yang begitu berani menghadapi tantangan maupun rintangan. Sifat keberanian yang dimiliki oleh sebagian orang dari kita itu benar-benar membantu untuk sebagian kehidupan, namun juga dapat merugikan. Terlalu berani juga membahayakan keselamatan diri sendiri. Maka dari itu haruslah sesuai kadarnya jika memang harus menunjukkan keberanian. Kita ambil contoh, seseorang yang berani lantang bersuara melSayakan ‘DEMO’ di depan istana negara / DPR sambil mengeluarkan aspirasinya.

Namun dalam sebagian orang lainnya, ada yang memiliki sifat pengecut. Sifat-sifat seperti ini benar-benar merugikan kehidupannya sendiri, tapi terkadang juga sangat membantu dalam beberapa hal. Misalkan, Ada seseorang yang tidak berani berbicara di depan orang banyak. 

Sebagian dari kita, ada yang begitu berani menghadapi tantangan maupun rintangan. Sifat keberanian yang dimiliki oleh sebagian orang dari kita itu benar-benar membantu untuk sebagian kehidupan, namun juga dapat merugikan. Terlalu berani juga membahayakan keselamatan diri sendiri. Maka dari itu haruslah sesuai kadarnya jika memang harus menunjukkan keberanian. Kita ambil contoh, seseorang yang berani lantang bersuara melSayakan ‘DEMO’ di depan istana negara / DPR sambil mengeluarkan aspirasinya.   Namun dalam sebagian orang lainnya, ada yang memiliki sifat pengecut. Sifat-sifat seperti ini benar-benar merugikan kehidupannya sendiri, tapi terkadang juga sangat membantu dalam beberapa hal. Misalkan, Ada seseorang yang tidak berani berbicara di depan orang banyak.   Sebenarnya kalo kita memiliki sifat keberanian dan juga sifat pengecut itu lebih baik ketimbang hanya memiliki salah satu sifat tersebut. Kenapa? adakalanya kita harus berani dan ada kalanya kita harus jadi pengecut (tidak berani). Misalkan, Sekelompok mahasiswa berdemo di depan istana negara. Ya itu sifat berani, tetapi perlu dipikirkan juga jangan sampai merugikan apapun karena terlalu berani. Contohnya, karena saking beraninya, mungkin saja para pendemo itu akan merusak fasilitas umum atau menghajar brigade polisi anti huru hara. Mendingan bolehlah kita lantang bersuara tapi tSayatlah jika melSayakan perusakan, karena apa? fasilitas umum itu adalah milik rakyat, uang rakyat, dan untuk rakyat.   Saya mau ngasih tips buat kamu supaya kamu berani siap mental bersuara lantang atau berani menunjukkan sikap di depan orang banyak, yang tentu berani dalam hal positif.   Antara lain :   1. Coba ingat-ingat lagi pengalaman di masa lampau. Misalkan saat kamu sekolah, kuliah, atau berorganisasi. Engga harus pengalaman yang sama, tetapi intinya yang mengharuskan kamu pernah berbicara di depan orang banyak. Contohnya, kamu pernah disuruh guru untuk menyampaikan pidato atau membaca puisi di depan kelas. Atau mungkin pas kuliah juga disuruh presentasi di depan kelas. Bisa juga kamu pernah pengalaman naik panggung tampil ngeband musik, drama panggung, atau apapun itu. Nah cobalah ingat dan bayangkan kembali, jika dahulu saja kamu bisa berani kaya begituan, harusnya sekarang ketika kamu akan berbicara di depan banyak orang pun seharusnya mampu, bukan?.   2. Siapkan materi atau bahan pembicaraan yang akan kamu sampaikan nantinya di depan banyak orang. Sebagian dari kita mengalami kegugupan karena saking bingungnya mau ngomong apaan.   3. Lihat situasi dan kondisinya, maksudnya perhatikan situasi dan kondisi tempat di mana kamu akan menyuarakan pendapatmu atau aspirasimu. Karena kalau kita tidak membaca ‘sikon’ dari awal, benar-benar akan gugup jadinya. Ibarat kita belum mengenal ‘medan peperangan’.   PENGALAMAN   Saya akan bagi pengalaman saya berkaitan berbicara di depan orang banyak. Sebenernya banyak sih bro, tapi saya akan ngasih yang saya ingat dan yang terjadi di bulan puasa ramadhan tahun ini (tahun 2015/1346 H).   Saya akan kasih tau sama kamu sedikit deskripsi (gambaran) mengenai ‘sudut pandang’ orang lain terhadap saya. Di kampung (desa/kota asal) saya ‘dikenal’ sebagai sesosok makhluk halus (bukan setan ya, hehe). Kenapa? karena saya ‘keliatannya’ anak pendiem, pemalu, engga gaul, kata orang begitu. Bahkan orangtua kandungku sendiri pun mengatakan hal yang sama. Tetapi intinya sifat-sifat yang mereka tanamkan di pikiran mereka itu bener-bener beda dari sifat asli saya. Jadi 180 derajat berbanding terbalik dari banyak pemikiran mereka. Kenapa bisa begitu? mau tau alasannya? itu semua karena saya salah pilih teman (pengin tau lebih detil, coba klik postingan saya yang ini ....)   Nah langsung masuk ke pengalaman saya di bulan ramadhan. Seperti biasa, sholat tarawih rutin dilaksanakan di mushola lumayan deket tapi sedikit jauh dari rumah. Sebagian orang dari dua RT, sering sholat tarawih di mushola tersebut. Tahun kemaren sama tahun ini seperti biasa pengurus mushola membuat jadwal tausyiah atau kultum (kuliah tujuh menit) khusus untuk anak muda atau remaja yang belum menikah. Jadi ketika selesai sholat tarawih, siapa saja yang dijadwalkan hari itu untuk memberikan kultum, haruslah sudah siap materi kultum dan harus berani berbicara sambil berdiri di depan banyak orang.   Nah saya dapet jadwal giliran kultum sekitar 2 minggu kedepan terhitung dari awal puasa. Lumayan lama sambil buat kesempatan saya mempersiapkan materi dan keberanian. Jujur aja bro, saya juga gugup, gelisah, gundah, dan meradang, hehe. Walaupun saya pernah berbicara di depan banyak orang, tapi tetep saya ngerasa ‘deg-degan’ karena belum pernah berbicara di depan orang banyak menyampaikan materi tentang motivasi, islami, tausyiah, yang berhubungan dengan memberi pidato keagamaan saya bener-bener belum pernah, jadi ya wajar gugup, hehe.   Tapi saya jadikan itu sebuah tantangan tersendiri, dalam hati saya sering berbicara, “Masa sih, saya engga bisa, engga mampu, masa sih saya ini pengecut, saya kan pengin jadi sutradara film, masa kaya gitu aja engga berani”. Ya bro, cita-cita saya pengin jadi sutradara film sejak saya masih sekolah SD (pengin tau lebih detilnya, bisa liat di postingan ini ...). Bukan maksud saya terlalu lebay ya bro, nanti kamu berpikir dan berkata, “Ah lebay banget kamu Jef, cuma maju ke depan trus ngebawain kultum aja sok dibesar-besarin”. Ya mungkin sebagian dari kamu akan berpikiran begitu, tapi inget bro, apapun yang kita lSayakan ‘dahulu’ dan yang ‘sekarang’ itu akan menentukkan ‘masa depan’ kita. (Saya pernah negbahas tentang apa yang kita lSayain sekarang akan berdampak di masa depan, untuk detilnya bisa liat di postingan ini ....). Saya engga akan bener-bener pede berbicara di depan banyak orang kalau dulunya saya engga pernah pengalaman begituan. Dan yang sekarang disuruh ngebawain kultum itu pun akan saya jadikan pengalaman juga untuk masa depan saya. Kan di masa depan tantangan sama rintangan akan lebih gede, ya engga bro. Kaya maen ‘game’ kan setiap level tantangan kesulitannya semakin susah. Nah belajar tuh ya step by step, dari sesuatu yang biasa-biasa aja kemudian menjadi yang luar biasa. Nah terus-terusan tuh saya kembali berusaha mengingat pengalaman-pengalaman saya dulu. Yang bikin saya ketawa sama masih terheran sampai sekarang tuh, dulu pas masih sekolah SD kelas 4, disuruh nyanyi engga mau, tapi malah berani jodeg-joged sendiri di atas panggung konser dangdut di kampung, dan ternyata guru saya ngeliat trus pas lagi di kelas malah dibahas, jadinya saya ditertawain anak satu kelas. Trus saya inget lagi, pas disuruh baca puisi di depan kelas, dan lain-lainnya, pokoknya saya jadikan sebagai penguat keberanian saya. Dan yang bikin saya makin berani, karena saya dulu pengalaman lumayan sering tampil ngband musik di atas panggung (saya pegang drum, bukan kabel listriknya, hehe) jadi hal yang biasa aja tampil di depan banyak orang (tapi inget loh, orang-orang di kampungku engga pernah mengetahui keberanian saya itu, karena tampilnya di kampung lain atau di pusat kota, dan itu menyebabkan mereka masih menjuluki saya ini anak pendiem, pemalu, dan engga gaul, menyedihkan engga bro? hehe). Makin mantab lagi, karena saya pengalaman kerja jadi crew film komersil (pegang clapperboard sama pencatat adegan, selagi lagi bukan pegang kabel listrik, loh ya hehe). (Saya pernah mengalami pengalam unik selama masih jadi crew film, coba liat postingan ini...) Bayangin aja bro, udah pernah kerja bareng artis masa cuma maju ngebawain kultum di depan orang-orang kampung engga berani. Itu loh bro yang saya maksud dari poin tips pertama tentang mencoba mengingat pengalaman masa lampau.   Setelah saya mengumpulkan keberanian dari mengingat pengalaman, trus baru saya berusaha mencari ide materi apa yang akan saya bawakan nantinya di kultum saya. Awalnya udah ada ide tapi trus saya ganti lagi yang lainnya. Saya akhirnya mendapatkan ide yang cukup bagus. Saya membuat materi langsung di otak saya tanpa menulis di buku atau di laptop. Karena sebagian materi itu sudah pernah saya tulis di blog ini dan juga sudah saya pikirkan jauh-jauh hari dari sebelum ada jadwal kultum. Dan juga hasil dari pengamatan saya dari melihat teman-teman saya yang sudah maju menyampaikan kultum. Banyak dari teman-teman saya yang materi kultumnya mengenai seputar hal-hal umum islam, misalkan tentang sholat wajib, tarawih, bersedekah, berpuasa, hal-hal materi yang cukup sering didengar banyak orang dan juga cukup membosankan. Bukankah semua orang islam sudah tau yang namanya sholat, puasa, sedekah dan sebagainya. Tapi ada satu teman saya yang bernama Didit (Saya pernah ngebahas tentang kehebatan Didit, liat postingan ini ...). Didit menyampaikan materi kultumnya cukup membuat sebuah perubahan. Karena dia menyuruh agar oranng islam ketika mengucapkan ‘Aamiin’ dengan benar (bukan amin, aamin, amiin) Jadi setelah itu lumayan ada perubahan orang-orang akhirnya melSayakan hal yang benar. Sebenernya juga salah satu pengurus mushola yang berprofesi sebagai guru pun menyampaikan kultum sindiran untuk menyuruh orangtua yang sudah memiliki anak kecil disuruh melatih anaknya agar suka bersedekah, ya akhirnya setelah itu ada perubahan yang cukup signifikan dari orang-orang kampungku itu. Nah dari itu juga saya akhirnya mendapat ide membuat kultum sindiran serta ajakan menuju kebaikan. Saya memutuskan membuat materi tentang ajakan menjaga lisan serta perbuatan agar terhindar dari dosa (Kamu pengin tau materi kultum yang saya sampaikan? liat aja di postingan ini ...). Kenapa saya memilih tema itu? mau tau engga bro? ya saya kasih tau. Di kampungku khususnya dua RT yang rumah orangtuSaya berada, orang-orangnya sok angkuh, sombong (mungkin saya juga termasuk), suka membuka aib orang lain, merasa paling benar, dan susah buat ngejaga omongannya. Ibaratnya satu tetangga sama tetangga lainnya engga Sayar engga harmonis. Banyak juga yang bikin ‘kubu’ atau kelompok sendiri-sendiri, nantinya mereka bakal menyerang dengan omongan, fitnah, membuka aib kelompok lain atau perseorangan (Saya pernah bikin pembahasan mengenai bahayanya membuka aib orang lain, coba cek di postingan ini ...). Gila engga bro? ya jelas parah banget bro. Dan asal kamu tau ya, keluarga orangtuSaya, termasuk saya, adik-adik saya menjadi target operasi bahan pembicaraan mereka. Pokoknya selalu jadi ‘Trending Topic’ pembahasan aib keluarga orangtuSaya. (Mungkin juga itu alasan saya enggan banyak omong kalo di kampungku sendiri). Nah kesempatan saya juga untuk menyadarkan orang bahwa melSayakan hal semacam itu adalah salah dan juga sembari menunjukkan ‘aslinya’ saya yang sebenernya berani, yang selama ini saya dianggap pengecut.   Nah setelah itu saya mempelajari situasi dan kondisi di mushola tempat yang akan saya sampaikan kultum. Saya liat situasinya cukup memungkin saya melancarkan materi itu. Maksudnya sasaran saya memang target orang-orang yang ingin saya sindir melalui kultum saya. Dan tau engga, itu kebanyakan bapak-bapak dan ibu-ibu loh. Saya sudah memastikan bahwa saya akan bersikap ‘kurang aja’ karena menyampaikan kultum yang terlalu menyakiti hati mereka. Tapi saya pikir, ah bodo amat, ini juga demi kepentingan bersama memperbaiki akhlak serta moral. Kondisinya juga cukup terkendali, saya bener-bener bisa menyampaikan apa yang saya ingin saya sampaikan. Dan tentu saja saya berani mempertimbangkan akan menyampaikan materi kultum TANPA text alias langsung berbicara tanpa melihat kertas. Karena saya merasa tertantang oleh teman saya, Didit dan satunya lagi, karena mereka menyampaikan kultum tanpa kertas juga.   Setelah semuanya siap, saya menunggu giliran jadwal kultum saya. Makin dekat menuju hari ‘H’ jujur makin gugup saya. Bukan karena apa-apa, tapi karena apa yang akan saya sampaikan adalah sebuah kultum sindiran (pengalaman yang belum pernah saya lSayakan). Dan juga orang-orang kampungku masih menganggap saya sebagai orang pendiem, pemalu, pengecut walaupun segudang pengalaman luar biasa pernah saya alami (saya sedikit terpengaruh cap label itu). Nah hari yang ditunggu-tunggu pun tiba juga. Sebelum berjalan ke depan banyak orang, Didit menyuruh anak-anak kecil di mushola untuk diam (Saya menangkap serta menganalisa bahwa Didit pun meremehkan kemampuan saya, kenapa? karena dia menyuruh anak-anak kecil untuk diam, otomatis nantinya keadaan akan tenang dan hanya suara saya saja yang terdengar, mungkin untuk sebagian orang hal semacam itu menjadikan gugup, tapi tidak dengan saya). Dan satu teman yang lainnya juga menyarankan saya untuk menahan nafas (karena dia masih memandang saya tidak berani) Okelah makin bersemangat saya menunjukkan performa saya.   Dan kamu tau, apa yang saya persiapkan dengan matang membuahkan hasil yang besar. Saya tak merasa gugup, tak merasa tSayat, malah saya makin berani. Saya bersuara lantang apalagi menggunakan pengeras suara (mic), tangan satunya lagi bergerak-gerak mengikuti alunan suara saya (Bayangin aja kaya kamu liat orang yang sedang berbicara tetapi dia menggerakkan tangannya, untuk sebagian orang jika berbicara di depan banyak orang tangannya diam, itu tandanya dia gugup, tapi kalo dia bisa menggerakkan tangannya, berani dia benar-benar menguasai ‘panggung’ keadaan, itulah ciri-ciri orang hebat yang berani berbicara di depan banyak orang). Segalanya sesuai rencana, saya liat ekspresi wajah orang-orang itu sedikit merah (marah serta malu) benar-benar sindiran saya menusuk hati mereka. Saya sudah membayangkan akan terjadi hal semacam itu. Emang itulah tujuan awal saya dan cukup berhasil. Saya pun juga sudah menunjukkan personal branding saya sesungguhnya. (ingat di kampung asal, saya di cap label sebagai anak pendiem, pemalu, pengecut). Karena kalo saya sedang di luar kota (kuliah/kerja) personal branding saya (anggapan orang lain) saya termasuk orang pemberani, bawel, dan playboy, hehe. Tapi saya sedikit keliru memprediksi tentang kultum yang sedikit humor. Awalnya saya menambahkan humor di materi kultum, eh ternyata mereka engga ketawa atau tersenyum karena humornya tapi mereka menatap heran terhadap saya (mungkin mereka engga menyangka seorang Jeffri ternyata berani lantang berbicara dan juga berani menyindir orang dewasa) ya ada juga yang sampai menutup telinganya, ada yang malah sibuk mengobrol sama temannya sendiri, yang akhirnya saya bentak dengan ucapan cukup emosi, mengatakan satu kosakata tapi dengan penekanan emosi tinggi, hahaha bener-bener gila, kata saya dan kata orang lain, mungkin. Tapi menurut saya kenapa saya membentak itu disebabkan karena banyak yang menyuruh saya untuk menghentikan kultum. Mau tau karena apa? ya karena terlalu panjang, kultum kan tujuh menit tapi saya malah kurang lebih 15 menit ngebawain kultumnya, hehe.   Tambahan, jadi apapun tujuanmu, maka beranilah bersuara lantang untuk menyampaikan kebenaran (ingat kebaikan bukan keburukan). Jangan jadi pengecut, selama apa yang kamu sampaikan itu benar (menurut kamu dan aturan agama, adat istiadat, norma masyarakat) ya langsung suarakan!. Setiap manusia adalah pemimpin untuk dirinya sendiri, maka pimpinlah diri sebelum memimpin orang lain. Hidup ini keras banyak tantangan serta rintangan, jangan mau kalah sama orang lain jika memang kamu dalam kebenaran. Seandainya jika kita dahulu pas masih menjadi bibit sperma tidak mengalahkan bibit sperma lainnya menuju induk telur, maka kita engga akan menjadi manusia seperti sekarang. Berani dan berani! tapi ingat jangan melampui batas. Jangan terlalu berani jika sudah melanggar aturan. Beranilah dalam hal POSITIF!!!

Sebenarnya kalo kita memiliki sifat keberanian dan juga sifat pengecut itu lebih baik ketimbang hanya memiliki salah satu sifat tersebut. Kenapa? adakalanya kita harus berani dan ada kalanya kita harus jadi pengecut (tidak berani). Misalkan, Sekelompok mahasiswa berdemo di depan istana negara. Ya itu sifat berani, tetapi perlu dipikirkan juga jangan sampai merugikan apapun karena terlalu berani. Contohnya, karena saking beraninya, mungkin saja para pendemo itu akan merusak fasilitas umum atau menghajar brigade polisi anti huru hara. Mendingan bolehlah kita lantang bersuara tapi tSayatlah jika melSayakan perusakan, karena apa? fasilitas umum itu adalah milik rakyat, uang rakyat, dan untuk rakyat.

Saya mau ngasih tips buat kamu supaya kamu berani siap mental bersuara lantang atau berani menunjukkan sikap di depan orang banyak, yang tentu berani dalam hal positif.

Antara lain :

1. Coba ingat-ingat lagi pengalaman di masa lampau. Misalkan saat kamu sekolah, kuliah, atau berorganisasi. Engga harus pengalaman yang sama, tetapi intinya yang mengharuskan kamu pernah berbicara di depan orang banyak. Contohnya, kamu pernah disuruh guru untuk menyampaikan pidato atau membaca puisi di depan kelas. Atau mungkin pas kuliah juga disuruh presentasi di depan kelas. Bisa juga kamu pernah pengalaman naik panggung tampil ngeband musik, drama panggung, atau apapun itu. Nah cobalah ingat dan bayangkan kembali, jika dahulu saja kamu bisa berani kaya begituan, harusnya sekarang ketika kamu akan berbicara di depan banyak orang pun seharusnya mampu, bukan?.

2. Siapkan materi atau bahan pembicaraan yang akan kamu sampaikan nantinya di depan banyak orang. Sebagian dari kita mengalami kegugupan karena saking bingungnya mau ngomong apaan.

3. Lihat situasi dan kondisinya, maksudnya perhatikan situasi dan kondisi tempat di mana kamu akan menyuarakan pendapatmu atau aspirasimu. Karena kalau kita tidak membaca ‘sikon’ dari awal, benar-benar akan gugup jadinya. Ibarat kita belum mengenal ‘medan peperangan’.

PENGALAMAN
Saya akan bagi pengalaman saya berkaitan berbicara di depan orang banyak. Sebenernya banyak sih bro, tapi saya akan ngasih yang saya ingat dan yang terjadi di bulan puasa ramadhan tahun ini (tahun 2015/1346 H).

Saya akan kasih tau sama kamu sedikit deskripsi (gambaran) mengenai ‘sudut pandang’ orang lain terhadap saya. Di kampung (desa/kota asal) saya ‘dikenal’ sebagai sesosok makhluk halus (bukan setan ya, hehe). Kenapa? karena saya ‘keliatannya’ anak pendiem, pemalu, engga gaul, kata orang begitu. Bahkan orangtua kandungku sendiri pun mengatakan hal yang sama. Tetapi intinya sifat-sifat yang mereka tanamkan di pikiran mereka itu bener-bener beda dari sifat asli saya. Jadi 180 derajat berbanding terbalik dari banyak pemikiran mereka. Kenapa bisa begitu? mau tau alasannya? itu semua karena saya salah pilih teman (pengin tau lebih detil, coba klik postingan saya yang ini ....)

Nah langsung masuk ke pengalaman saya di bulan ramadhan. Seperti biasa, sholat tarawih rutin dilaksanakan di mushola lumayan deket tapi sedikit jauh dari rumah. Sebagian orang dari dua RT, sering sholat tarawih di mushola tersebut. Tahun kemaren sama tahun ini seperti biasa pengurus mushola membuat jadwal tausyiah atau kultum (kuliah tujuh menit) khusus untuk anak muda atau remaja yang belum menikah. Jadi ketika selesai sholat tarawih, siapa saja yang dijadwalkan hari itu untuk memberikan kultum, haruslah sudah siap materi kultum dan harus berani berbicara sambil berdiri di depan banyak orang.

Nah saya dapet jadwal giliran kultum sekitar 2 minggu kedepan terhitung dari awal puasa. Lumayan lama sambil buat kesempatan saya mempersiapkan materi dan keberanian. Jujur aja bro, saya juga gugup, gelisah, gundah, dan meradang, hehe. Walaupun saya pernah berbicara di depan banyak orang, tapi tetep saya ngerasa ‘deg-degan’ karena belum pernah berbicara di depan orang banyak menyampaikan materi tentang motivasi, islami, tausyiah, yang berhubungan dengan memberi pidato keagamaan saya bener-bener belum pernah, jadi ya wajar gugup, hehe.

Tapi saya jadikan itu sebuah tantangan tersendiri, dalam hati saya sering berbicara, “Masa sih, saya engga bisa, engga mampu, masa sih saya ini pengecut, saya kan pengin jadi sutradara film, masa kaya gitu aja engga berani”. Ya bro, cita-cita saya pengin jadi sutradara film sejak saya masih sekolah SD (pengin tau lebih detilnya, bisa liat di postingan ini ...). Bukan maksud saya terlalu lebay ya bro, nanti kamu berpikir dan berkata, “Ah lebay banget kamu Jef, cuma maju ke depan trus ngebawain kultum aja sok dibesar-besarin”. Ya mungkin sebagian dari kamu akan berpikiran begitu, tapi inget bro, apapun yang kita lSayakan ‘dahulu’ dan yang ‘sekarang’ itu akan menentukkan ‘masa depan’ kita. (Saya pernah negbahas tentang apa yang kita lSayain sekarang akan berdampak di masa depan, untuk detilnya bisa liat di postingan ini ....). Saya engga akan bener-bener pede berbicara di depan banyak orang kalau dulunya saya engga pernah pengalaman begituan. Dan yang sekarang disuruh ngebawain kultum itu pun akan saya jadikan pengalaman juga untuk masa depan saya. Kan di masa depan tantangan sama rintangan akan lebih gede, ya engga bro. Kaya maen ‘game’ kan setiap level tantangan kesulitannya semakin susah. Nah belajar tuh ya step by step, dari sesuatu yang biasa-biasa aja kemudian menjadi yang luar biasa. Nah terus-terusan tuh saya kembali berusaha mengingat pengalaman-pengalaman saya dulu. Yang bikin saya ketawa sama masih terheran sampai sekarang tuh, dulu pas masih sekolah SD kelas 4, disuruh nyanyi engga mau, tapi malah berani jodeg-joged sendiri di atas panggung konser dangdut di kampung, dan ternyata guru saya ngeliat trus pas lagi di kelas malah dibahas, jadinya saya ditertawain anak satu kelas. Trus saya inget lagi, pas disuruh baca puisi di depan kelas, dan lain-lainnya, pokoknya saya jadikan sebagai penguat keberanian saya. Dan yang bikin saya makin berani, karena saya dulu pengalaman lumayan sering tampil ngband musik di atas panggung (saya pegang drum, bukan kabel listriknya, hehe) jadi hal yang biasa aja tampil di depan banyak orang (tapi inget loh, orang-orang di kampungku engga pernah mengetahui keberanian saya itu, karena tampilnya di kampung lain atau di pusat kota, dan itu menyebabkan mereka masih menjuluki saya ini anak pendiem, pemalu, dan engga gaul, menyedihkan engga bro? hehe). Makin mantab lagi, karena saya pengalaman kerja jadi crew film komersil (pegang clapperboard sama pencatat adegan, selagi lagi bukan pegang kabel listrik, loh ya hehe). (Saya pernah mengalami pengalam unik selama masih jadi crew film, coba liat postingan ini...) Bayangin aja bro, udah pernah kerja bareng artis masa cuma maju ngebawain kultum di depan orang-orang kampung engga berani. Itu loh bro yang saya maksud dari poin tips pertama tentang mencoba mengingat pengalaman masa lampau.

Setelah saya mengumpulkan keberanian dari mengingat pengalaman, trus baru saya berusaha mencari ide materi apa yang akan saya bawakan nantinya di kultum saya. Awalnya udah ada ide tapi trus saya ganti lagi yang lainnya. Saya akhirnya mendapatkan ide yang cukup bagus. Saya membuat materi langsung di otak saya tanpa menulis di buku atau di laptop. Karena sebagian materi itu sudah pernah saya tulis di blog ini dan juga sudah saya pikirkan jauh-jauh hari dari sebelum ada jadwal kultum. Dan juga hasil dari pengamatan saya dari melihat teman-teman saya yang sudah maju menyampaikan kultum. Banyak dari teman-teman saya yang materi kultumnya mengenai seputar hal-hal umum islam, misalkan tentang sholat wajib, tarawih, bersedekah, berpuasa, hal-hal materi yang cukup sering didengar banyak orang dan juga cukup membosankan. Bukankah semua orang islam sudah tau yang namanya sholat, puasa, sedekah dan sebagainya. Tapi ada satu teman saya yang bernama Didit (Saya pernah ngebahas tentang kehebatan Didit, liat postingan ini ...). Didit menyampaikan materi kultumnya cukup membuat sebuah perubahan. Karena dia menyuruh agar oranng islam ketika mengucapkan ‘Aamiin’ dengan benar (bukan amin, aamin, amiin) Jadi setelah itu lumayan ada perubahan orang-orang akhirnya melSayakan hal yang benar. Sebenernya juga salah satu pengurus mushola yang berprofesi sebagai guru pun menyampaikan kultum sindiran untuk menyuruh orangtua yang sudah memiliki anak kecil disuruh melatih anaknya agar suka bersedekah, ya akhirnya setelah itu ada perubahan yang cukup signifikan dari orang-orang kampungku itu. Nah dari itu juga saya akhirnya mendapat ide membuat kultum sindiran serta ajakan menuju kebaikan. Saya memutuskan membuat materi tentang ajakan menjaga lisan serta perbuatan agar terhindar dari dosa (Kamu pengin tau materi kultum yang saya sampaikan? liat aja di postingan ini ...). Kenapa saya memilih tema itu? mau tau engga bro? ya saya kasih tau. Di kampungku khususnya dua RT yang rumah orangtuSaya berada, orang-orangnya sok angkuh, sombong (mungkin saya juga termasuk), suka membuka aib orang lain, merasa paling benar, dan susah buat ngejaga omongannya. Ibaratnya satu tetangga sama tetangga lainnya engga Sayar engga harmonis. Banyak juga yang bikin ‘kubu’ atau kelompok sendiri-sendiri, nantinya mereka bakal menyerang dengan omongan, fitnah, membuka aib kelompok lain atau perseorangan (Saya pernah bikin pembahasan mengenai bahayanya membuka aib orang lain, coba cek di postingan ini ...). Gila engga bro? ya jelas parah banget bro. Dan asal kamu tau ya, keluarga orangtuSaya, termasuk saya, adik-adik saya menjadi target operasi bahan pembicaraan mereka. Pokoknya selalu jadi ‘Trending Topic’ pembahasan aib keluarga orangtuSaya. (Mungkin juga itu alasan saya enggan banyak omong kalo di kampungku sendiri). Nah kesempatan saya juga untuk menyadarkan orang bahwa melSayakan hal semacam itu adalah salah dan juga sembari menunjukkan ‘aslinya’ saya yang sebenernya berani, yang selama ini saya dianggap pengecut.

Nah setelah itu saya mempelajari situasi dan kondisi di mushola tempat yang akan saya sampaikan kultum. Saya liat situasinya cukup memungkin saya melancarkan materi itu. Maksudnya sasaran saya memang target orang-orang yang ingin saya sindir melalui kultum saya. Dan tau engga, itu kebanyakan bapak-bapak dan ibu-ibu loh. Saya sudah memastikan bahwa saya akan bersikap ‘kurang aja’ karena menyampaikan kultum yang terlalu menyakiti hati mereka. Tapi saya pikir, ah bodo amat, ini juga demi kepentingan bersama memperbaiki akhlak serta moral. Kondisinya juga cukup terkendali, saya bener-bener bisa menyampaikan apa yang saya ingin saya sampaikan. Dan tentu saja saya berani mempertimbangkan akan menyampaikan materi kultum TANPA text alias langsung berbicara tanpa melihat kertas. Karena saya merasa tertantang oleh teman saya, Didit dan satunya lagi, karena mereka menyampaikan kultum tanpa kertas juga.

Setelah semuanya siap, saya menunggu giliran jadwal kultum saya. Makin dekat menuju hari ‘H’ jujur makin gugup saya. Bukan karena apa-apa, tapi karena apa yang akan saya sampaikan adalah sebuah kultum sindiran (pengalaman yang belum pernah saya lSayakan). Dan juga orang-orang kampungku masih menganggap saya sebagai orang pendiem, pemalu, pengecut walaupun segudang pengalaman luar biasa pernah saya alami (saya sedikit terpengaruh cap label itu). Nah hari yang ditunggu-tunggu pun tiba juga. Sebelum berjalan ke depan banyak orang, Didit menyuruh anak-anak kecil di mushola untuk diam (Saya menangkap serta menganalisa bahwa Didit pun meremehkan kemampuan saya, kenapa? karena dia menyuruh anak-anak kecil untuk diam, otomatis nantinya keadaan akan tenang dan hanya suara saya saja yang terdengar, mungkin untuk sebagian orang hal semacam itu menjadikan gugup, tapi tidak dengan saya). Dan satu teman yang lainnya juga menyarankan saya untuk menahan nafas (karena dia masih memandang saya tidak berani) Okelah makin bersemangat saya menunjukkan performa saya.

Dan kamu tau, apa yang saya persiapkan dengan matang membuahkan hasil yang besar. Saya tak merasa gugup, tak merasa tSayat, malah saya makin berani. Saya bersuara lantang apalagi menggunakan pengeras suara (mic), tangan satunya lagi bergerak-gerak mengikuti alunan suara saya (Bayangin aja kaya kamu liat orang yang sedang berbicara tetapi dia menggerakkan tangannya, untuk sebagian orang jika berbicara di depan banyak orang tangannya diam, itu tandanya dia gugup, tapi kalo dia bisa menggerakkan tangannya, berani dia benar-benar menguasai ‘panggung’ keadaan, itulah ciri-ciri orang hebat yang berani berbicara di depan banyak orang). Segalanya sesuai rencana, saya liat ekspresi wajah orang-orang itu sedikit merah (marah serta malu) benar-benar sindiran saya menusuk hati mereka. Saya sudah membayangkan akan terjadi hal semacam itu. Emang itulah tujuan awal saya dan cukup berhasil. Saya pun juga sudah menunjukkan personal branding saya sesungguhnya. (ingat di kampung asal, saya di cap label sebagai anak pendiem, pemalu, pengecut). Karena kalo saya sedang di luar kota (kuliah/kerja) personal branding saya (anggapan orang lain) saya termasuk orang pemberani, bawel, dan playboy, hehe. Tapi saya sedikit keliru memprediksi tentang kultum yang sedikit humor. Awalnya saya menambahkan humor di materi kultum, eh ternyata mereka engga ketawa atau tersenyum karena humornya tapi mereka menatap heran terhadap saya (mungkin mereka engga menyangka seorang Jeffri ternyata berani lantang berbicara dan juga berani menyindir orang dewasa) ya ada juga yang sampai menutup telinganya, ada yang malah sibuk mengobrol sama temannya sendiri, yang akhirnya saya bentak dengan ucapan cukup emosi, mengatakan satu kosakata tapi dengan penekanan emosi tinggi, hahaha bener-bener gila, kata saya dan kata orang lain, mungkin. Tapi menurut saya kenapa saya membentak itu disebabkan karena banyak yang menyuruh saya untuk menghentikan kultum. Mau tau karena apa? ya karena terlalu panjang, kultum kan tujuh menit tapi saya malah kurang lebih 15 menit ngebawain kultumnya, hehe.

Tambahan, jadi apapun tujuanmu, maka beranilah bersuara lantang untuk menyampaikan kebenaran (ingat kebaikan bukan keburukan). Jangan jadi pengecut, selama apa yang kamu sampaikan itu benar (menurut kamu dan aturan agama, adat istiadat, norma masyarakat) ya langsung suarakan!. Setiap manusia adalah pemimpin untuk dirinya sendiri, maka pimpinlah diri sebelum memimpin orang lain. Hidup ini keras banyak tantangan serta rintangan, jangan mau kalah sama orang lain jika memang kamu dalam kebenaran. Seandainya jika kita dahulu pas masih menjadi bibit sperma tidak mengalahkan bibit sperma lainnya menuju induk telur, maka kita engga akan menjadi manusia seperti sekarang. Berani dan berani! tapi ingat jangan melampui batas. Jangan terlalu berani jika sudah melanggar aturan. Beranilah dalam hal POSITIF!!!

0 Response to "Tunjukkan Keberanianmu, Kawan!"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel