Takdir Kehidupan

Banyak dari kita ketika mendapatkan musibah atau masalah selalu gampang mengeluh. Sepertinya sudah enggak ada harapan lagi untuk menjalankan hidup yang amat aneh, menurut kita. Apalagi ketika kita sedang mengharapkan sesuatu, namun ternyata hasil engga sesuai dengan keinginan. Sudah berusaha keras mendapatkan sesuatu, tapi hasilnya diluar dari perkiraan. 

Banyak dari kita ketika mendapatkan musibah atau masalah selalu gampang mengeluh. Sepertinya sudah enggak ada harapan lagi untuk menjalankan hidup yang amat aneh, menurut kita. Apalagi ketika kita sedang mengharapkan sesuatu, namun ternyata hasil engga sesuai dengan keinginan. Sudah berusaha keras mendapatkan sesuatu, tapi hasilnya diluar dari perkiraan.   Apalagi bagi kamu yang berharap bisa menempuh pendidikan yang lebih tinggi di PTN (Perguruan tinggi negeri) favorit. Yang berharap bisa diterima ketika mengikuti SBMPTN atau tes seleksi mandiri. Kamu sudah berusaha semaksimal mungkin dengan cara giat belajar dan juga berdoa. Namun sayangnya, hasilnya engga mencerminkan seperti usaha yang kamu lSayakan. Dari pagi ketemu pagi, kamu sudah maksimal dalam berusaha untuk mewujudkan impianmu agar bisa masuk ke kampus atau PTN yang kamu incar. Dan tak lelah kamu berdoa siang malam, sholat lima waktu, bermunajat di malam hari, mengagungkan nama Allah s.w.t dengan begitu antusias dan serius. Ketika waktunya tes seleksi pun kamu tak pernah lupa berdoa memohon kepada sang maha pencipta jagat raya ini agar diberikan kemampuan dalam mengerjakan soal-soal SBMPTN ataupun tes seleksi mandiri. Tetapi sungguh aneh, dalam daftar calon mahasiswa baru di PTN yang kamu incar engga ada nama kamu alias kamu engga diterima. Rasa-rasanya dunia ini mau runtuh saja, dalam pikiranmu. Kamu merasa selama ini apa yang telah kamu usahakan sudah maksimal banget. Tapi kenapa dan kenapa bisa diluar dari perkiraan. Bahkan mungkin kamu akan bilang, “Seandainya jika saya kurang berusaha dan berdoa, mungkin saya akan dengan rela menerima kenyataan ini. Tetapi sejatinya saya sudah berusaha dan berdoa sepanjang waktu, masa saya tak dikabulkan untuk mendapatkan PTN favorit saya? Apa salah saya? bukankah hasil segala sesuatu tak mungkin mengkhianati dari usaha itu sendiri?”. Memang ada benarnya pendapat seperti itu. Apalagi yang bikin jengkel tuh, seandainya ada seseorang yang tidak memiliki keniatan sungguh-sungguh mencari ilmu kok bisa dapet kesempatan. Terlebih lagi, bagi yang suka mencontek malah diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Seharusnya mereka itu tidak pantas mendapatkannya, saya lah yang pantas, menurut pendapatmu.   Atau bagi kamu yang sedang berstatus job seeker alias pencari kerja. Setelah kamu lulus sekolah atau kuliah, kamu berusaha keras dan berdoa untuk mendapatkan pekerjaan sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Kamu sudah mencoba shalat hajat ataupun shalat tahajud. Rutin melSayakan sholat dhuha meminta rejeki yang berlimpah. Niat bersungguh-sungguh mencari serta mendapatkan pekerjaan yang layak. Berusaha membuat lamaran pekerjaan sampai berpuluh-puluh berkas. Mendatangi setiap perusahaan yang sedang membuka lowongan pekerjaan, yang informasinya diperoleh dari informasi loker koran, televisi, brosur, ataupun dari info kenalan (teman, saudara). Menaruh lamaran pekerjaan atau mengirimnya dengan tujuan ‘Yang terhormat HRD Personalia yang ada di tempat’. Berharap surat lamaran kamu terbaca oleh staff Hrd dan setelahnya dipanggil untuk interview. Ada yang sampai tahap pemanggilan juga, namun setelah melalui tes interview ternyata dikatakan gagal. Atau malah ada yang sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan mengirim surat lamaran tak kunjung dipanggil untuk interview. Jika diantara kamu mengalami keadaan demikian, saya rasa kamu akan mengalami namanya kemarahan yang amat sangat. Saya percaya kamu akan menyalahkan apapun keputusan yang diambil para staff Hrd atau perusahaan yang kamu daftarkan lamaranmu. Dan setelah itu juga, kamu akan marah kepada sang penciptamu. Kemudian kamu akan malas beribadah lagi dan lagi. Sungguh jangan lSayakan seperti itu. Jangan menantang kepada sang maha besar. Tak ada satu makhluk pun yang sanggup mengalahkan-Nya. Bersabarlah dahulu, istighfar, mohon ampunlah sebelum terlambat.   Jika kamu mengalami diantara dua kejadian yang saya jelaskan di atas. Mungkin saya bisa membantu meringankan beban masalah yang sedang kamu hadapi. Saya engga menjamin seandainya saya menjelaskan solusi untuk masalah kamu terus nantinya kamu akan bisa berubah total. Jujur saja, saya juga sedang berusaha untuk belajar ikhlas terhadap apa yang telah atau sedang menimpa saya. Maka disini saya engga akan terkesan menggurui, hanya sekedar mengingatkan saya sendiri dan juga kamu.   Sebenarnya gini, segala sesuatunya itu membutuhkan proses yang panjang dan rumit. Jadi engga semua apa yang kita inginkan dengan mudahnya kita dapatkan, sekali lagi, apa yang kita inginkan belum tentu bisa kita dapatkan. Jika kamu seorang muslim sejati, kamu akan mengetahui beberapa isi dari enam iman islam. Yakni, beriman kepada Allah s.w.t, beriman kepada Malaikat, beriman kepada kitab-kitab (Alquran), beriman kepada Rasul, beriman adanya hari Kiamat, dan terakhir beriman kepada Qodho serta Qodar (Takdir). Jika kamu sudah tahu itu, maka saya akan menjelaskan lebih detail tentang ‘takdir’. Allah s.w.t sudah jauh-jauh lamanya merancang alam semesta ini, sudah merancang untuk membuat saya dan kamu terlahir di dunia ini. Allah s.w.t sudah menuliskan semua apa yang telah terjadi, sekarang, dan yang akan terjadi di masa depan. Nah kita ini, sebelum kita lahir di dunia fana ini, sang maha pencipta sudah menuliskan takdir hidup kita. So, dari sini saja sudah dengan jelas menjawab pertanyaan saya dan kamu, mengapa saya gagal kuliah di PTN favorit atau kenapa saya tidak diterima di perusahaan impian?. Kamu sudah tahu kan, kalau rejeki harta / jodoh, kematian manusia itu sudah ditulis oleh Allah s.w.t di ...... . Dan itu juga sudah ditulis sebelum semesta ini ada, tentu saja manusia atau makhluk lainnya pun belum ada atau terlahir di dunia. Dari sini sudah sangat jelas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering kita pertanyakan ketika kita sedang mengalami musibah. Yang dari kita sering berkata, “Mengapa saya mengalami seperti ini? kenapa harus Saya?.”

Apalagi bagi kamu yang berharap bisa menempuh pendidikan yang lebih tinggi di PTN (Perguruan tinggi negeri) favorit. Yang berharap bisa diterima ketika mengikuti SBMPTN atau tes seleksi mandiri. Kamu sudah berusaha semaksimal mungkin dengan cara giat belajar dan juga berdoa. Namun sayangnya, hasilnya engga mencerminkan seperti usaha yang kamu lSayakan. Dari pagi ketemu pagi, kamu sudah maksimal dalam berusaha untuk mewujudkan impianmu agar bisa masuk ke kampus atau PTN yang kamu incar. Dan tak lelah kamu berdoa siang malam, sholat lima waktu, bermunajat di malam hari, mengagungkan nama Allah s.w.t dengan begitu antusias dan serius. Ketika waktunya tes seleksi pun kamu tak pernah lupa berdoa memohon kepada sang maha pencipta jagat raya ini agar diberikan kemampuan dalam mengerjakan soal-soal SBMPTN ataupun tes seleksi mandiri. Tetapi sungguh aneh, dalam daftar calon mahasiswa baru di PTN yang kamu incar engga ada nama kamu alias kamu engga diterima. Rasa-rasanya dunia ini mau runtuh saja, dalam pikiranmu. Kamu merasa selama ini apa yang telah kamu usahakan sudah maksimal banget. Tapi kenapa dan kenapa bisa diluar dari perkiraan. Bahkan mungkin kamu akan bilang, “Seandainya jika saya kurang berusaha dan berdoa, mungkin saya akan dengan rela menerima kenyataan ini. Tetapi sejatinya saya sudah berusaha dan berdoa sepanjang waktu, masa saya tak dikabulkan untuk mendapatkan PTN favorit saya? Apa salah saya? bukankah hasil segala sesuatu tak mungkin mengkhianati dari usaha itu sendiri?”. Memang ada benarnya pendapat seperti itu. Apalagi yang bikin jengkel tuh, seandainya ada seseorang yang tidak memiliki keniatan sungguh-sungguh mencari ilmu kok bisa dapet kesempatan. Terlebih lagi, bagi yang suka mencontek malah diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Seharusnya mereka itu tidak pantas mendapatkannya, saya lah yang pantas, menurut pendapatmu.

Atau bagi kamu yang sedang berstatus job seeker alias pencari kerja. Setelah kamu lulus sekolah atau kuliah, kamu berusaha keras dan berdoa untuk mendapatkan pekerjaan sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Kamu sudah mencoba shalat hajat ataupun shalat tahajud. Rutin melSayakan sholat dhuha meminta rejeki yang berlimpah. Niat bersungguh-sungguh mencari serta mendapatkan pekerjaan yang layak. Berusaha membuat lamaran pekerjaan sampai berpuluh-puluh berkas. Mendatangi setiap perusahaan yang sedang membuka lowongan pekerjaan, yang informasinya diperoleh dari informasi loker koran, televisi, brosur, ataupun dari info kenalan (teman, saudara). Menaruh lamaran pekerjaan atau mengirimnya dengan tujuan ‘Yang terhormat HRD Personalia yang ada di tempat’. Berharap surat lamaran kamu terbaca oleh staff Hrd dan setelahnya dipanggil untuk interview. Ada yang sampai tahap pemanggilan juga, namun setelah melalui tes interview ternyata dikatakan gagal. Atau malah ada yang sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan mengirim surat lamaran tak kunjung dipanggil untuk interview. Jika diantara kamu mengalami keadaan demikian, saya rasa kamu akan mengalami namanya kemarahan yang amat sangat. Saya percaya kamu akan menyalahkan apapun keputusan yang diambil para staff Hrd atau perusahaan yang kamu daftarkan lamaranmu. Dan setelah itu juga, kamu akan marah kepada sang penciptamu. Kemudian kamu akan malas beribadah lagi dan lagi. Sungguh jangan lSayakan seperti itu. Jangan menantang kepada sang maha besar. Tak ada satu makhluk pun yang sanggup mengalahkan-Nya. Bersabarlah dahulu, istighfar, mohon ampunlah sebelum terlambat.

Jika kamu mengalami diantara dua kejadian yang saya jelaskan di atas. Mungkin saya bisa membantu meringankan beban masalah yang sedang kamu hadapi. Saya engga menjamin seandainya saya menjelaskan solusi untuk masalah kamu terus nantinya kamu akan bisa berubah total. Jujur saja, saya juga sedang berusaha untuk belajar ikhlas terhadap apa yang telah atau sedang menimpa saya. Maka disini saya engga akan terkesan menggurui, hanya sekedar mengingatkan saya sendiri dan juga kamu.

Sebenarnya gini, segala sesuatunya itu membutuhkan proses yang panjang dan rumit. Jadi engga semua apa yang kita inginkan dengan mudahnya kita dapatkan, sekali lagi, apa yang kita inginkan belum tentu bisa kita dapatkan. Jika kamu seorang muslim sejati, kamu akan mengetahui beberapa isi dari enam iman islam. Yakni, beriman kepada Allah s.w.t, beriman kepada Malaikat, beriman kepada kitab-kitab (Alquran), beriman kepada Rasul, beriman adanya hari Kiamat, dan terakhir beriman kepada Qodho serta Qodar (Takdir). Jika kamu sudah tahu itu, maka saya akan menjelaskan lebih detail tentang ‘takdir’. Allah s.w.t sudah jauh-jauh lamanya merancang alam semesta ini, sudah merancang untuk membuat saya dan kamu terlahir di dunia ini. Allah s.w.t sudah menuliskan semua apa yang telah terjadi, sekarang, dan yang akan terjadi di masa depan. Nah kita ini, sebelum kita lahir di dunia fana ini, sang maha pencipta sudah menuliskan takdir hidup kita. So, dari sini saja sudah dengan jelas menjawab pertanyaan saya dan kamu, mengapa saya gagal kuliah di PTN favorit atau kenapa saya tidak diterima di perusahaan impian?. Kamu sudah tahu kan, kalau rejeki harta / jodoh, kematian manusia itu sudah ditulis oleh Allah s.w.t di ...... . Dan itu juga sudah ditulis sebelum semesta ini ada, tentu saja manusia atau makhluk lainnya pun belum ada atau terlahir di dunia. Dari sini sudah sangat jelas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering kita pertanyakan ketika kita sedang mengalami musibah. Yang dari kita sering berkata, “Mengapa saya mengalami seperti ini? kenapa harus Saya?.”

0 Response to "Takdir Kehidupan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel