[Novel] Rindu, Rindu, Rindu (Genre Romantis)


Rindu, Rindu, dan Rindu

oleh Jeffri Ardiyanto

Rindu, Rindu, dan Rindu     oleh Jeffri Ardiyanto            Keheningan malam, semakin melarutkan angan-angan Sania dalam lamunannya. Senyum tipis mengembang di bibir manisnya. Dengan menopang dagu dengan sebelah tangan, Sania semakin dalam, dalam, dalam imajinasi merasuk otak kanannya.     “Ah sulit kubayangkan, apa jadinya aku jadi seorang ibu.” batin Sania.   Kasur empuk langsung berubah penyok ketika Diyah merebahkan tubuhnya dengan keras. Matanya besar bulat mengedarkan pandangan ke penjuru langit-langit kamar. Begitu banyak lampu warna-warni menghiasi rung kamar seluas serta selebar tiga langkah kaki dewasa.     “Huu, apa yang kupikirkan ya? Jangankan jadi ibu, jadi istri aja belum bisa. Lagian gue kan jomblo.” Kata Sania sembari tertawa terbahak-bahak.  Sania mulai merenggangkan kedua tangannya, lalu berusaha untuk duduk di tepian kasur. Meraih smartphone yang tergeletak di atas meja belajar, dibukanya aplikasi Whatsapp yang penuh dengan chat masuk.  Sania merasa ngeri sekaligus geli, melihat begitu banyak pesan masuk dari seseorang yang amat dibencinya. Seseorang berjenis kelamin laki-laki yang banyak menorehkan kenangan lama di hatinya.      “Ganggu mulu nih orang!, sebel deh!” ketusnya.  Butuh beberapa detik untuk Sania menutup pesan Whatsapp itu. Bagaimanapun rasa benci yang mengalir searah aliran darah, Sania tetap rindu kepada laki-laki yang kini dianggapnya mantan pacar.   Sania meletakkan hanphone di meja, meraih sebuah bantal, lalu menenggelamkan seluruh wajahnya di atas bantal bercorak bunga-bunga.  Menangis sesegukan dengan sedikit air mata mengalir menuju pipi tembem, Sania langsung menyeka airmata itu sebelum jatuh ke lantai putih kamarnya.     “Sialan, berengsek, cowok berengsek!!!”   Berkali-kali Sania menghajar bantalnya tanpa merasa lelah dan bersalah. Seandainya bantal itu mampu berkata, alangkah jahatnya perempuan cantik di depannya itu.     “Gue sayang banget sama dia, tapi kenapa, dia berkali-kali nyakitin gue.”   Rambut panjang berwarna hitam kini berubah berantakan manakala pemiliknya mengobrak abrik tata letaknya. Sania meremas-remas kesal rambutnya dengan kedua tangan, lalu membanting bantalnya ke lantai.   Dengan sangat cepat, Sania merebahkan seluruh tubuhnya ke dalam lautan kasur empuknya. Bantal guling dipeluknya amat kencang, seperti tidak ingin melepaskan walau sedetik pun jua.  Sania berusaha sangat keras menutup kelopak mata, namun berkali-kali juga terbuka. Sungguh membuat dirinya kesal setengah mati.  Dia pasrah dengan keadaan itu, merelakan mata indahnya terbuka lebar. Dengan sedikit perlahan, bola mata nya bergerak melirik ke bagian atas kiri, tenggelamlah dia dalam lautan kenangan.   (Dalam ilmu Psikologi, mata yang memandang ke kiri atas, itu artinya sedang mengingat sesuatu)  ***  Udara kamar semakin bertambah panas, panas, panas, dan panas. Kipas angin yang menoleh kiri serta kanan tak mampu meredam hawa panas yang menyelimuti seisi ruangan itu. Bahkan hujan dari luar kamar tak sanggup menghantarkan suhu dinginnya.  Semua kejadian itu juga tak mungkin tanpa sebab. Di kamar itu, ada dua sejoli laki-laki dan perempuan sedang memadu kasih.  Perempuan itu adalah Sania yang sedang dalam posisi berbaring terlentang serta ditindih seorang laki-laki tampan.     “ I love you,” ucap Laki-laki itu dengan lembut.  Bergetarlah hati Sania mendengar itu, terlebih bibirnya dengan bibir laki-laki itu semakin lama semakin mau menempel saja.     “Kamu cantik sayang, aku ingin menikahimu.” kata laki-laki itu sangat mesra.  Sania tidak sanggup berkata, karena keringatnya mulai membasahi seluruh muka dan badannya. Senyum manis muncul dari bibir mungilnya, serta matanya mulai berbinar-binar.  Laki-laki yang sedang menindih Sania, meletakkan siku tangan kirinya untuk menopang tubuh miliknya agar tidak menekan terlalu berat kearah tubuh Sania. Sedangkan telapak tangan kananya, meraba-raba pipi bakpao milik Sania.     “Tenang saja, yang aku lakukan ini, karena aku sayang kamu, bukan karna nafsu, sayang.” Kata Laki-laki penuh kesungguhan.  Sania tersenyum, lalu mengangguk pelan. Dia percaya apa yang dikatakan oleh laki-laki di depannya, laki-laki yang amat dicintainya.  Laki-laki itu mengubah posisinya, yang membuat dimana dua sejoli itu kini benar-benar sangat menempel.  Dengan sigap, telapak tangan kanan laki-laki itu menggerayangi leher Sania dengan penuh kelembutan. Sedang telapak tangan kiri mengelus pelan rambut milik Sania.  Bibir Sania mulai dikecup oleh laki-laki itu dengan sangat pelan, pelan, pelan, menggairahkan.   Bersambung


Keheningan malam, semakin melarutkan angan-angan Sania dalam lamunannya. Senyum tipis mengembang di bibir manisnya. Dengan menopang dagu dengan sebelah tangan, Sania semakin dalam, dalam, dalam imajinasi merasuk otak kanannya.

   “Ah sulit kubayangkan, apa jadinya aku jadi seorang ibu.” batin Sania.


Kasur empuk langsung berubah penyok ketika Diyah merebahkan tubuhnya dengan keras. Matanya besar bulat mengedarkan pandangan ke penjuru langit-langit kamar. Begitu banyak lampu warna-warni menghiasi rung kamar seluas serta selebar tiga langkah kaki dewasa.

   “Huu, apa yang kupikirkan ya? Jangankan jadi ibu, jadi istri aja belum bisa. Lagian gue kan jomblo.” Kata Sania sembari tertawa terbahak-bahak.

Sania mulai merenggangkan kedua tangannya, lalu berusaha untuk duduk di tepian kasur. Meraih smartphone yang tergeletak di atas meja belajar, dibukanya aplikasi Whatsapp yang penuh dengan chat masuk.

Sania merasa ngeri sekaligus geli, melihat begitu banyak pesan masuk dari seseorang yang amat dibencinya. Seseorang berjenis kelamin laki-laki yang banyak menorehkan kenangan lama di hatinya.

   “Ganggu mulu nih orang!, sebel deh!” ketusnya.

Butuh beberapa detik untuk Sania menutup pesan Whatsapp itu. Bagaimanapun rasa benci yang mengalir searah aliran darah, Sania tetap rindu kepada laki-laki yang kini dianggapnya mantan pacar.

Sania meletakkan hanphone di meja, meraih sebuah bantal, lalu menenggelamkan seluruh wajahnya di atas bantal bercorak bunga-bunga.

Menangis sesegukan dengan sedikit air mata mengalir menuju pipi tembem, Sania langsung menyeka airmata itu sebelum jatuh ke lantai putih kamarnya.

   “Sialan, berengsek, cowok berengsek!!!”

Berkali-kali Sania menghajar bantalnya tanpa merasa lelah dan bersalah. Seandainya bantal itu mampu berkata, alangkah jahatnya perempuan cantik di depannya itu.

   “Gue sayang banget sama dia, tapi kenapa, dia berkali-kali nyakitin gue.”

Rambut panjang berwarna hitam kini berubah berantakan manakala pemiliknya mengobrak abrik tata letaknya. Sania meremas-remas kesal rambutnya dengan kedua tangan, lalu membanting bantalnya ke lantai.

Dengan sangat cepat, Sania merebahkan seluruh tubuhnya ke dalam lautan kasur empuknya. Bantal guling dipeluknya amat kencang, seperti tidak ingin melepaskan walau sedetik pun jua.

Sania berusaha sangat keras menutup kelopak mata, namun berkali-kali juga terbuka. Sungguh membuat dirinya kesal setengah mati.

Dia pasrah dengan keadaan itu, merelakan mata indahnya terbuka lebar. Dengan sedikit perlahan, bola mata nya bergerak melirik ke bagian atas kiri, tenggelamlah dia dalam lautan kenangan.

(Dalam ilmu Psikologi, mata yang memandang ke kiri atas, itu artinya sedang mengingat sesuatu)

***

Udara kamar semakin bertambah panas, panas, panas, dan panas. Kipas angin yang menoleh kiri serta kanan tak mampu meredam hawa panas yang menyelimuti seisi ruangan itu. Bahkan hujan dari luar kamar tak sanggup menghantarkan suhu dinginnya.

Semua kejadian itu juga tak mungkin tanpa sebab. Di kamar itu, ada dua sejoli laki-laki dan perempuan sedang memadu kasih.

Perempuan itu adalah Sania yang sedang dalam posisi berbaring terlentang serta ditindih seorang laki-laki tampan.

   “ I love you,” ucap Laki-laki itu dengan lembut.

Bergetarlah hati Sania mendengar itu, terlebih bibirnya dengan bibir laki-laki itu semakin lama semakin mau menempel saja.

   “Kamu cantik sayang, aku ingin menikahimu.” kata laki-laki itu sangat mesra.

Sania tidak sanggup berkata, karena keringatnya mulai membasahi seluruh muka dan badannya. Senyum manis muncul dari bibir mungilnya, serta matanya mulai berbinar-binar.

Laki-laki yang sedang menindih Sania, meletakkan siku tangan kirinya untuk menopang tubuh miliknya agar tidak menekan terlalu berat kearah tubuh Sania. Sedangkan telapak tangan kananya, meraba-raba pipi bakpao milik Sania.

   “Tenang saja, yang aku lakukan ini, karena aku sayang kamu, bukan karna nafsu, sayang.” Kata Laki-laki penuh kesungguhan.

Sania tersenyum, lalu mengangguk pelan. Dia percaya apa yang dikatakan oleh laki-laki di depannya, laki-laki yang amat dicintainya.

Laki-laki itu mengubah posisinya, yang membuat dimana dua sejoli itu kini benar-benar sangat menempel.

Dengan sigap, telapak tangan kanan laki-laki itu menggerayangi leher Sania dengan penuh kelembutan. Sedang telapak tangan kiri mengelus pelan rambut milik Sania.

Bibir Sania mulai dikecup oleh laki-laki itu dengan sangat pelan, pelan, pelan, menggairahkan.

Bersambung

0 Response to "[Novel] Rindu, Rindu, Rindu (Genre Romantis)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel