Kritik atau Saran?

Sering enggak ketika kamu lagi curhat ama temen-temenmu, eh malah dia balik kritik kamu atau nyindir kamu? Bukannya hati atau unek-unek kamu jadi plong, eh malah makin sakit hati karena dikritik ama temen-temen curhatmu. 

Sering enggak ketika kamu lagi curhat ama temen-temenmu, eh malah dia balik kritik kamu atau nyindir kamu? Bukannya hati atau unek-unek kamu jadi plong, eh malah makin sakit hati karena dikritik ama temen-temen curhatmu.      Mungkin bagi kamu yang jadi tempat curhat. Misal ada temenmu yang lagi curhat, eh rasa-rasanya kamu gatel banget pengin ngkritik pengin ngasih saran, pengin nasehatin. Etdah tunggu dulu, itu bukan yang dia mau, bukan itu yang diinginkannya.   Sebenernya temen kamu yang lagi curhat lagi meluapkan emosi itu menginginkan rasa kelegaan didalem hatinya. Pengin ngeluarin segala unek-uneknya. Mereka itu ga butuh kritikan serta nasehatmu.   Sekali lagi yang mereka butuhkan adalah rasa empati darimu. Rasa yang ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh temenmu itu. Yang temenmu inginkan adalah sikap emosionalmu yang dalam artian kamu mampu merasakan apa yang temenmu rasakan.   Misalkan, temenmu curhat masalah cita-cita yang belum kesampaian. Tetapi malah kamu langsung mengkritik atau memberi saran, “Seharusnya kamu jangan begini, jangan begitu...bla bla bla.” Tau ga yang ada kamu bakalan diajak berdebat. Kalopun kamu menang, sebenernya kamu kalah. Yang ada temenmu itu bakalan ngejauhi kamu. Percaya deh, aku udah ngebuktiinnya.   Seharusnya sekali lagi, kamu dengarkan curhatnya sampai temenmu selesai curhat. Tunjukin bahwa kamu ikut merasakan apa yang dia rasakan. Tunjukan rasa empati kamu, rasa ibamu. Jadilah pendengar yang baik dan diam tanpa menyela sedikitpun. Tapi inget, ya diem sih diem tapi kok ya mata kamu kemana-kemana? Kok malah kamu lebih merhatiin sesuatu yang lain. Kalo begitu, bersiap-siaplah kamu bakalan dilupakan oleh temenmu.   Tataplah matanya, nampakan kesedihan, larutlah dalam curhatnya. Aku berani jamin, temenmu bakalan menganggapmu sahabat yang paling baik. Yang diinginkan oleh temenmu itu adalah hak untuk didengarkan, diperhatikan. Bukan malah kamu tak menghiraukannya.   Nah setelah dia selesai curhat, biasanya dia yang akan meminta saran dan pendapatmu. Nah disitulah baru kamu kasihan dia saran, sebaik saran serta nasehat darimu. Usahakan saran itu lebih dominan dari berdasarkan pengalaman hidupmu. Karena seseorang akan percaya omongan orang lain itu disertai pembuktian, tanpa semua itu hanyalah omong kosong (bukan tong kosong, haha). Tapi inget, jangan sedikitpun memberi kritikan atau sindiran karena temenmu lagi keadaan mood yang ga baek, dia ga bakal nerima kritikan pedas yang ada bakalan debat nantinya. Beritahu dia, bahwa semua orang juga pasti melakukan kesalahan. Kalo mau beri kritikan tunggu ketika dia meminta dan dalam keadaan mood baik.   Dan setelah itu aku mohon jangan beberkan masalah temenmu itu ketemen yang lain. Jangan jadi mulut ember yang bocor ampe tumpeh-tumpehnya kemana-kemana. Jagalah kepercayaan serta kehormatan temenmu yang mempercayakanmu. Dan kalo kamu akan mengkritik temenmu itu jangan dihadapan banyak orang. Bicara secara empat mata (bukan tukul arwana) karena dengan itu lebih lega untuk meluapkan segala emosi.   Kesimpulan, Jangan kamu langsung menasehati temenmu. Takutnya temenmu itu ilmu pengetahuan serta wawasannya jauh lebih banyak ketimbang dirimu atau malah menyakiti perasaannya. Tunggulah ketika temenmu meminta saran serta pendapatmu.

Mungkin bagi kamu yang jadi tempat curhat. Misal ada temenmu yang lagi curhat, eh rasa-rasanya kamu gatel banget pengin ngkritik pengin ngasih saran, pengin nasehatin. Etdah tunggu dulu, itu bukan yang dia mau, bukan itu yang diinginkannya.

Sebenernya temen kamu yang lagi curhat lagi meluapkan emosi itu menginginkan rasa kelegaan didalem hatinya. Pengin ngeluarin segala unek-uneknya. Mereka itu ga butuh kritikan serta nasehatmu.

Sekali lagi yang mereka butuhkan adalah rasa empati darimu. Rasa yang ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh temenmu itu. Yang temenmu inginkan adalah sikap emosionalmu yang dalam artian kamu mampu merasakan apa yang temenmu rasakan.

Misalkan, temenmu curhat masalah cita-cita yang belum kesampaian. Tetapi malah kamu langsung mengkritik atau memberi saran, “Seharusnya kamu jangan begini, jangan begitu...bla bla bla.” Tau ga yang ada kamu bakalan diajak berdebat. Kalopun kamu menang, sebenernya kamu kalah. Yang ada temenmu itu bakalan ngejauhi kamu. Percaya deh, aku udah ngebuktiinnya.

Seharusnya sekali lagi, kamu dengarkan curhatnya sampai temenmu selesai curhat. Tunjukin bahwa kamu ikut merasakan apa yang dia rasakan. Tunjukan rasa empati kamu, rasa ibamu. Jadilah pendengar yang baik dan diam tanpa menyela sedikitpun. Tapi inget, ya diem sih diem tapi kok ya mata kamu kemana-kemana? Kok malah kamu lebih merhatiin sesuatu yang lain. Kalo begitu, bersiap-siaplah kamu bakalan dilupakan oleh temenmu.

Tataplah matanya, nampakan kesedihan, larutlah dalam curhatnya. Aku berani jamin, temenmu bakalan menganggapmu sahabat yang paling baik. Yang diinginkan oleh temenmu itu adalah hak untuk didengarkan, diperhatikan. Bukan malah kamu tak menghiraukannya.

Nah setelah dia selesai curhat, biasanya dia yang akan meminta saran dan pendapatmu. Nah disitulah baru kamu kasihan dia saran, sebaik saran serta nasehat darimu. Usahakan saran itu lebih dominan dari berdasarkan pengalaman hidupmu. Karena seseorang akan percaya omongan orang lain itu disertai pembuktian, tanpa semua itu hanyalah omong kosong (bukan tong kosong, haha). Tapi inget, jangan sedikitpun memberi kritikan atau sindiran karena temenmu lagi keadaan mood yang ga baek, dia ga bakal nerima kritikan pedas yang ada bakalan debat nantinya. Beritahu dia, bahwa semua orang juga pasti melakukan kesalahan. Kalo mau beri kritikan tunggu ketika dia meminta dan dalam keadaan mood baik.

Dan setelah itu aku mohon jangan beberkan masalah temenmu itu ketemen yang lain. Jangan jadi mulut ember yang bocor ampe tumpeh-tumpehnya kemana-kemana. Jagalah kepercayaan serta kehormatan temenmu yang mempercayakanmu. Dan kalo kamu akan mengkritik temenmu itu jangan dihadapan banyak orang. Bicara secara empat mata (bukan tukul arwana) karena dengan itu lebih lega untuk meluapkan segala emosi.

Kesimpulan, Jangan kamu langsung menasehati temenmu. Takutnya temenmu itu ilmu pengetahuan serta wawasannya jauh lebih banyak ketimbang dirimu atau malah menyakiti perasaannya. Tunggulah ketika temenmu meminta saran serta pendapatmu.

0 Response to "Kritik atau Saran?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel