Kok Galau Cinta? Harusnya Cita-cita?!

  Kenapa sih dirimu suka galau karena cinta (lawan jenis)? Emang hidupmu itu cuman itu doang? Bukankah target dan tujuan hidupmu bukan hanya sebatas tentang cinta dan mencintai lawan jenis? Bukankah hidupmu itu punya tujuan yang lebih baik daripada itu? Kenapa ga galau karena cita-cita, kawan? Kok kamu rela banget tenggelam dalam kesedihan gara-gara cintamu tak terbalas, sakit hati, patah hati, diselingkuhin, dan lain-lain. Tetapi yang mengherankan, kenapa kamu enggak bersedih hati jika cita-cita karirmu tidak kesampaian? Kenapa kamu tidak mengalami kegalauan yang mendalam jika cita-citamu itu tidak kesampaian?.   Aku terkadang suka bingung sama kamu yang suka galau karena cinta? Emang hidupmu itu untuk cinta? Terus cita-citamu dikemanain? Mengapa tidak ada anak alay nan lebay itu mengatakan bahwa mereka engga bisa hidup tanpa cita-cita? Kenapa harus cinta melulu yang di “dewa” kan? Kamu tidak rela jika orang yang kamu incar itu sudah jatuh ditangan teman-temanmu tetapi kamu tidak mempermasalahkan jika kamu tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan cita-citamu? Kamu mengatakan bahwa bukan kamu enggan memikirkan masa depan tetapi kamu enggan memikirkan cita-cita akan menjadi beban? Lah terus kenapa kamu tidak memikirkan untuk membuang jauh-jauh perasaan galau cinta itu agar dirimu itu tidak menjadi beban hidupmu? Kamu membuang beban cita-cita tetapi kamu menerapkan beban tentang cinta? Sungguh aku tidak habis pikir kepada kamu-kamu itu? Mbok ya mikir cita-citamu itu loh.   Bukankah orangtua selalu mendoakan kamu disaat kamu masih kecil untuk menjadi anak soleh atau solehah, berbakti kepada orang tua, berguna bagi agama, nusa, dan bangsa? Apakah ada yang terselip seperti mendoakan agar kamu suka sering galau karena abis diputusin? Galau karena ditolak? (dukun bertindak? Etdah jangan!). atau mendoakan kamu agar kamu mendapat pacar yang cakep? Yang bisa kamu ajak dia bercumbu, bergandengan tangan atau yang lainnya? Bukankah ketika dirimu masih kecil kamu selalu didoakan agar sukses untuk menggapai cita-citamu setinggi langit?   Hidupmu itu bukan hanya sekedar pinter pacaran, kawan. Bukan juga sekedar pinter gandengan (truk) tangan, atau ciuman atau mungkin sampai bikin anak haram. Hidupmu itu jauh lebih berharga ketimbang galau-galauan karena cinta. Kamu diciptakan untuk tujuan yang mulia bukan sekedar romansa picisan itu. Oke lah jikalau umurmu sudah matang sudah bekerja terus mencari jodoh agar menikah. Ya tapi ya jangan galau gitu donk, jika memang Allah s.w.t belum memberikan rejeki jodoh buat kamu ya yang sabar. Kembali lagi inget! Cita-citamu! Dulu kamu sempet bercita-cita apa kawan? Itulah saat dan waktu yang tepat untuk mewujudkan cita-citamu yang tertunda! Bukan menghabiskan waktu untuk galau-galauan yang kaga jelas itu.   Apalagi yang masih anak Abg, anak – anak sekolahan atau kuliahan. Memangnya di sekolah ada pelajaran tentang pacaran? Emangnya para guru mengajarkan cara untuk berciuman atau cara membuat anak ketika ditempat sepi? Apakah guru mengajarkan untuk pandai menjadi anak yang mudah menangis, sakit hati karena cinta? Seharusnya kamu itu memikirkan cita-citamu! Okelah wajar dan aku memaklumi jika kamu galau cinta tapi ya jangan lama-lama gitulah. Kalau mau dibikin prosentasenya ya galau cinta 10% dan galau cita-cita 90%.   Apa sih yang kamu harapkan dari mementingkan pacaran ketimbang cita-cita? Ini nih aku kasih tau yang sebenernya kamu sudah tau tapi aku kasih tau lagi agar kamu kembali tau.   Cinta? Okelah kamu akan merasakan namanya jatuh cinta, saling menyukai, saling mengasihi, dan saling “memiliki”. Nah ini nih yang bahayanya, saling “memiliki”. Kamu tau kan, jika kamu memiliki sepeda motor, yang pasti kamu akan menjaganya, memodifikasi sesukamu, bahkan kamu bisa dengan sesuka hatimu untuk menghancurkan dan merubah total motormu. Coba kalau diterapkan untuk orang pacaran, karena saling memiliki yang pasti akan rela dipegang tangan, akan rela dicium / dicumbu, bahkan diajakin ML masih mending engga berbadan dua ya tetapi calon suamimu nanti bukankah akan menyesal menikahmu? (khususnya cwe) atau sampai hamil diluar nikah?. Terus ujung-ujungnya yang malu siapa? Dirimu? Oh tentu bukan dirimu saja. Orangtua akan malu sejadi-jadinya, perbuatan yang baik-baik yang orangtuamu terapkan selama ini akan hancur karena perbuatanmu. Cita-citamu itu yang ingin menjadi berguna bagi agama, nusa, bangsa itu akan kandas. Karena kamu pasti akan disuruh menikah muda, membiayai anak istri, kerja serabutan yang penting ada duitnya bahkan yang harampun akan dijabanin kalau kepepet. Okelah kalau itu yang amat menakutkan, coba kalau yang tidak terjadi begitu, misalkan pacaran biasa tapi tetep otomatis pasti akan galau kan? Coba deh ambil apa manfaat dari galau cinta? Manfaatnya apa? Mungkin manfaatnya sakit hati? Hidup terasa hancur? Menangis terus menerus? Emosional? Jadi ga mood untuk beribadah? Tidak fokus belajar? Apakah itu manfaat? Apakah itu bermanfaat buat hidupmu? Mungkin kamu berpikir, itu akan bermanfaat jika nanti telah menikah terus pasanganmu berkhianat nanti kamu bakalan tahan banting karena kamu sudah pengalaman begitu? Mmh aduh duh, jadi kamu menginginkan pasanganmu akan melakukan seperti apa bayanganmu? Ingat, apa yang kamu andai-andaikan itu kemungkinan akan dikabulkan oleh Allah s.w.t hati – hati dalam berandai-andai. Sebenernya kalau urusan hati nih ya, cara ampuh untuk tidak gampang sakit hati, patah hati, emosional Cuma satu obatnya yaitu beriman kepada Allah s.w.t . jika hati atau imanmu sudah bersih dan berserah diri, kamu akan menghadapi segala musibah dan cobaan dengan penuh keikhlasan ( aku juga dalam proses untuk menjadi orang ikhlas, maka aku mengajak kamu untuk melakukan hal serupa).    Coba kalau cita-cita, sungguh sangat berbau visioner sangat masa depan banget deh. Jika kamu sudah menggali bakatmu (ingat bakat itu sudah ada didalam diri kita yang terpendam jadi kamu tidak perlu mencari tetapi gali dalam-dalam kedalam hatimu dengan cara tanyakan kepada orangtuamu kebiasan apa saja yang diajarkan oleh orangtuamu dan apa kebiasaan yang kamu maenkan ketika kamu kecil). Terus kamu memantapkan minatmu, kamu melatih bakatmu dan jadikan cita-citamu. Sepanjangan kamu sekolah atau belajar giatkan lagi apa bakat minatmu. Cita-citamu akan kesampaian jika syarat itu terpenuhi yaitu sesuai bakat, minat serta kesempatan jika Allah s.w.t menghendaki. Banyak dari orang-orang memiliki cita-cita tetapi tidak disertai bakat dan minat. Bakatnya pas-pasan tetapi memaksakan diri untuk menjadi keinginannya ya jelas ga mungkin. Ada lagi yang memiliki bakat penuh tetapi tidak memiliki minat sesuai bakat, sayang banget potensi dalam dirimu dibuang sia-sia begitu. Balik lagi ke pokok pembahasan, begitu cita-citamu terpenuhi, siapa yang akan bangga? Dirimu? Oh tentu bukan kamu saja, orang tua? Jelas sekali. Tetapi bertambah luas area kebanggaannya, sanak saudara, adik-adikmu, kakek nenek, guru-gurumu, atau bahkan mertuamu nanti kalau sudah kamu menikah. Apa manfaat seandainya kamu galau cita-cita? Banyak sekali manfaatnya. Kamu akan banyak belajar lagi untuk menggapai cita-citamu yang pernah gagal itu jika kamu konsisten, kamu akan sangat giat untuk mencari tau segala informasi untuk bisa melancarkan cita-citamu, kamu akan tahan banting sindiran-sindiran yang melukai hatimu karena banyak yang meremehkan cita-citamu jika kamu mengambil hikmahnya, kamu akan tau seandainya kamu melakukan cara ini maka hasilnya akan begitu, maka kamu akan memperbaiki kesalahan-kesalahan kemaren. Ketika kamu bersungguh-sungguh niat untuk mengejar cita-citamu, itu ada nilai tambah dari sudut pandang orangtuamu. Mereka akan bangga jika kamu berusaha konsisten untuk menggapai cita-citamu? Tapi coba kalau kamu galau cinta? Kemudian bersungguh-sungguh agar membuat pacarmu bahagia? Emangnya orangtua bangga? Bangga darimana bung? Emangnya orangtuamu dedengkot playboy atau playboy di film american pie yang bangga jika anaknya bisa mengencani semua perempuan satu kampus?     Pengalaman   Dulu waktu sekolah aku juga sempet jadi anak alay nan lebay yang berkepanjangan. Galau karena cinta pernah ditolak oleh orang yang aku sukai. Tapi balik lagi, karena dalam prinsip hidup aku tuh cinta 10% dan cita-cita 90% aku dengan mudahnya melupakan kegalauanku beralih ke galau cita-cita yang ga ujung-ujungnya. Bener-bener menghentikan pikiran liar yang tidak berkesudahan tentang cinta.   Etdah tunggu dulu, kamu mengira aku gampang melupakan cinta karena sering ditolak?. Jadi kamu menganggap aku ga laku ya? Wkwk itu semua tidak benar dan juga tidak salah. Memang benar pas waktu jamannya sekolah dulu aku ini tidak populer alias tidak mengexpose kelebihanku. Sebenarnya emang niatnya begitu dan tanpa disadari juga dulu aku pernah berdoa kepada Allah s.w.t agar aku tidak terlihat kelebihan dan kemampuan hebatku tetapi terlihat tidak meyakinkan, tidak punya kehebatan serta keinginan masa depan. Ibaratnya memang niatku seperti dari dulu, tapi sekarang aku cabut lagi doa itu dengan mengganti supaya aku benar-benar bisa berkontribusi untuk agama, budaya Indonesia, orangtua dll.   Makanya setiap kali aku menyukai perempuan, yang pasti perempuan itu tidak membalas cintaku. Karena aku nampak tidak terlalu keren dimata mereka. nah ketika aku sudah lulus sekolah, sempet kuliah terus kerja. Baru deh banyak banget cewek yang ngejar-ngejar aku bahkan cewek yang aku sukai juga menaruh rasa padaku. Tetapi kemudian, kekuatan cita-citaku melebihi keinginan cintaku. Sehingga membuatku tidak serius untuk mengajaknya pacaran. Karena aku seorang visoner, aku lebih mengedepankan cita-citaku baru cintaku.   Yang terkadang lucunya, cewek-cewek yang dulu nolak aku yang suka merendahkanku tetapi sekarang 180 derajat balik mengagumiku. Semua perencanaan yang matang telah sukses aku lakukan. Pengorbananku dari dulu, dengan menahan perasaan diinjak-injak harga diri kini terbalas manis. Perlu menunggu waktu yang lama untuk membuktikan bahwa inilah aku. Tidak populer disekolah tetapi populer di dunia luar sekolah. Tetapi tetap cita-citaku yang didahulukan. Sekarang aku juga masih galau cita-cita ini membuktikan bahwa cita-cita aku pun belum tercapai secara maksimal karena baru memasuki prosentase 40%.   ---------------------------------------------------------------------------     Tambahan, toh jika kamu sukses cita-citamu anak dan keturunanmu akan bangga akan prestasimu. Negara akan bangga, jika cita-citamu itu mengharumkan nama Indonesia. Dan anak-anakmu tidak akan gampang untuk membodohimu, karena kamu memiliki pemikiran visioner. Kamu tidak akan disesali oleh anak-anakmu karena kamu berhasil dalam cita-citamu. Anak-anakmu akan bangga jika orangtuanya bisa memiliki status yang disegani tetapi tetep beriman kepada Allah s.w.t.   Coba deh seandainya, kamu hanya memikirkan cinta. Ujung-ujungnya kan ya menikah, bikin anak, udah gitu doank, bekerja keras untuk keberlangsungan hidup. Tidak ada prestasi yang diraih, terus anak-anakmu juga bakalan deh ada rasa sesal mengapa mereka memiliki orangtua yang mempunyai pemikiran konvensional yang tidak visioner atau yang lain-lainnya.

Kenapa sih dirimu suka galau karena cinta (lawan jenis)? Emang hidupmu itu cuman itu doang? Bukankah target dan tujuan hidupmu bukan hanya sebatas tentang cinta dan mencintai lawan jenis? Bukankah hidupmu itu punya tujuan yang lebih baik daripada itu? Kenapa ga galau karena cita-cita, kawan? Kok kamu rela banget tenggelam dalam kesedihan gara-gara cintamu tak terbalas, sakit hati, patah hati, diselingkuhin, dan lain-lain. Tetapi yang mengherankan, kenapa kamu enggak bersedih hati jika cita-cita karirmu tidak kesampaian? Kenapa kamu tidak mengalami kegalauan yang mendalam jika cita-citamu itu tidak kesampaian?.

Aku terkadang suka bingung sama kamu yang suka galau karena cinta? Emang hidupmu itu untuk cinta? Terus cita-citamu dikemanain? Mengapa tidak ada anak alay nan lebay itu mengatakan bahwa mereka engga bisa hidup tanpa cita-cita? Kenapa harus cinta melulu yang di “dewa” kan? Kamu tidak rela jika orang yang kamu incar itu sudah jatuh ditangan teman-temanmu tetapi kamu tidak mempermasalahkan jika kamu tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan cita-citamu? Kamu mengatakan bahwa bukan kamu enggan memikirkan masa depan tetapi kamu enggan memikirkan cita-cita akan menjadi beban? Lah terus kenapa kamu tidak memikirkan untuk membuang jauh-jauh perasaan galau cinta itu agar dirimu itu tidak menjadi beban hidupmu? Kamu membuang beban cita-cita tetapi kamu menerapkan beban tentang cinta? Sungguh aku tidak habis pikir kepada kamu-kamu itu? Mbok ya mikir cita-citamu itu loh.

Bukankah orangtua selalu mendoakan kamu disaat kamu masih kecil untuk menjadi anak soleh atau solehah, berbakti kepada orang tua, berguna bagi agama, nusa, dan bangsa? Apakah ada yang terselip seperti mendoakan agar kamu suka sering galau karena abis diputusin? Galau karena ditolak? (dukun bertindak? Etdah jangan!). atau mendoakan kamu agar kamu mendapat pacar yang cakep? Yang bisa kamu ajak dia bercumbu, bergandengan tangan atau yang lainnya? Bukankah ketika dirimu masih kecil kamu selalu didoakan agar sukses untuk menggapai cita-citamu setinggi langit?

Hidupmu itu bukan hanya sekedar pinter pacaran, kawan. Bukan juga sekedar pinter gandengan (truk) tangan, atau ciuman atau mungkin sampai bikin anak haram. Hidupmu itu jauh lebih berharga ketimbang galau-galauan karena cinta. Kamu diciptakan untuk tujuan yang mulia bukan sekedar romansa picisan itu. Oke lah jikalau umurmu sudah matang sudah bekerja terus mencari jodoh agar menikah. Ya tapi ya jangan galau gitu donk, jika memang Allah s.w.t belum memberikan rejeki jodoh buat kamu ya yang sabar. Kembali lagi inget! Cita-citamu! Dulu kamu sempet bercita-cita apa kawan? Itulah saat dan waktu yang tepat untuk mewujudkan cita-citamu yang tertunda! Bukan menghabiskan waktu untuk galau-galauan yang kaga jelas itu.

Apalagi yang masih anak Abg, anak – anak sekolahan atau kuliahan. Memangnya di sekolah ada pelajaran tentang pacaran? Emangnya para guru mengajarkan cara untuk berciuman atau cara membuat anak ketika ditempat sepi? Apakah guru mengajarkan untuk pandai menjadi anak yang mudah menangis, sakit hati karena cinta? Seharusnya kamu itu memikirkan cita-citamu! Okelah wajar dan aku memaklumi jika kamu galau cinta tapi ya jangan lama-lama gitulah. Kalau mau dibikin prosentasenya ya galau cinta 10% dan galau cita-cita 90%.

Apa sih yang kamu harapkan dari mementingkan pacaran ketimbang cita-cita? Ini nih aku kasih tau yang sebenernya kamu sudah tau tapi aku kasih tau lagi agar kamu kembali tau.

Cinta? Okelah kamu akan merasakan namanya jatuh cinta, saling menyukai, saling mengasihi, dan saling “memiliki”. Nah ini nih yang bahayanya, saling “memiliki”. Kamu tau kan, jika kamu memiliki sepeda motor, yang pasti kamu akan menjaganya, memodifikasi sesukamu, bahkan kamu bisa dengan sesuka hatimu untuk menghancurkan dan merubah total motormu. Coba kalau diterapkan untuk orang pacaran, karena saling memiliki yang pasti akan rela dipegang tangan, akan rela dicium / dicumbu, bahkan diajakin ML masih mending engga berbadan dua ya tetapi calon suamimu nanti bukankah akan menyesal menikahmu? (khususnya cwe) atau sampai hamil diluar nikah?. Terus ujung-ujungnya yang malu siapa? Dirimu? Oh tentu bukan dirimu saja. Orangtua akan malu sejadi-jadinya, perbuatan yang baik-baik yang orangtuamu terapkan selama ini akan hancur karena perbuatanmu. Cita-citamu itu yang ingin menjadi berguna bagi agama, nusa, bangsa itu akan kandas. Karena kamu pasti akan disuruh menikah muda, membiayai anak istri, kerja serabutan yang penting ada duitnya bahkan yang harampun akan dijabanin kalau kepepet. Okelah kalau itu yang amat menakutkan, coba kalau yang tidak terjadi begitu, misalkan pacaran biasa tapi tetep otomatis pasti akan galau kan? Coba deh ambil apa manfaat dari galau cinta? Manfaatnya apa? Mungkin manfaatnya sakit hati? Hidup terasa hancur? Menangis terus menerus? Emosional? Jadi ga mood untuk beribadah? Tidak fokus belajar? Apakah itu manfaat? Apakah itu bermanfaat buat hidupmu? Mungkin kamu berpikir, itu akan bermanfaat jika nanti telah menikah terus pasanganmu berkhianat nanti kamu bakalan tahan banting karena kamu sudah pengalaman begitu? Mmh aduh duh, jadi kamu menginginkan pasanganmu akan melakukan seperti apa bayanganmu? Ingat, apa yang kamu andai-andaikan itu kemungkinan akan dikabulkan oleh Allah s.w.t hati – hati dalam berandai-andai. Sebenernya kalau urusan hati nih ya, cara ampuh untuk tidak gampang sakit hati, patah hati, emosional Cuma satu obatnya yaitu beriman kepada Allah s.w.t . jika hati atau imanmu sudah bersih dan berserah diri, kamu akan menghadapi segala musibah dan cobaan dengan penuh keikhlasan ( aku juga dalam proses untuk menjadi orang ikhlas, maka aku mengajak kamu untuk melakukan hal serupa).


Coba kalau cita-cita, sungguh sangat berbau visioner sangat masa depan banget deh. Jika kamu sudah menggali bakatmu (ingat bakat itu sudah ada didalam diri kita yang terpendam jadi kamu tidak perlu mencari tetapi gali dalam-dalam kedalam hatimu dengan cara tanyakan kepada orangtuamu kebiasan apa saja yang diajarkan oleh orangtuamu dan apa kebiasaan yang kamu maenkan ketika kamu kecil). Terus kamu memantapkan minatmu, kamu melatih bakatmu dan jadikan cita-citamu. Sepanjangan kamu sekolah atau belajar giatkan lagi apa bakat minatmu. Cita-citamu akan kesampaian jika syarat itu terpenuhi yaitu sesuai bakat, minat serta kesempatan jika Allah s.w.t menghendaki. Banyak dari orang-orang memiliki cita-cita tetapi tidak disertai bakat dan minat. Bakatnya pas-pasan tetapi memaksakan diri untuk menjadi keinginannya ya jelas ga mungkin. Ada lagi yang memiliki bakat penuh tetapi tidak memiliki minat sesuai bakat, sayang banget potensi dalam dirimu dibuang sia-sia begitu. Balik lagi ke pokok pembahasan, begitu cita-citamu terpenuhi, siapa yang akan bangga? Dirimu? Oh tentu bukan kamu saja, orang tua? Jelas sekali. Tetapi bertambah luas area kebanggaannya, sanak saudara, adik-adikmu, kakek nenek, guru-gurumu, atau bahkan mertuamu nanti kalau sudah kamu menikah. Apa manfaat seandainya kamu galau cita-cita? Banyak sekali manfaatnya. Kamu akan banyak belajar lagi untuk menggapai cita-citamu yang pernah gagal itu jika kamu konsisten, kamu akan sangat giat untuk mencari tau segala informasi untuk bisa melancarkan cita-citamu, kamu akan tahan banting sindiran-sindiran yang melukai hatimu karena banyak yang meremehkan cita-citamu jika kamu mengambil hikmahnya, kamu akan tau seandainya kamu melakukan cara ini maka hasilnya akan begitu, maka kamu akan memperbaiki kesalahan-kesalahan kemaren. Ketika kamu bersungguh-sungguh niat untuk mengejar cita-citamu, itu ada nilai tambah dari sudut pandang orangtuamu. Mereka akan bangga jika kamu berusaha konsisten untuk menggapai cita-citamu? Tapi coba kalau kamu galau cinta? Kemudian bersungguh-sungguh agar membuat pacarmu bahagia? Emangnya orangtua bangga? Bangga darimana bung? Emangnya orangtuamu dedengkot playboy atau playboy di film american pie yang bangga jika anaknya bisa mengencani semua perempuan satu kampus?


Pengalaman
Dulu waktu sekolah aku juga sempet jadi anak alay nan lebay yang berkepanjangan. Galau karena cinta pernah ditolak oleh orang yang aku sukai. Tapi balik lagi, karena dalam prinsip hidup aku tuh cinta 10% dan cita-cita 90% aku dengan mudahnya melupakan kegalauanku beralih ke galau cita-cita yang ga ujung-ujungnya. Bener-bener menghentikan pikiran liar yang tidak berkesudahan tentang cinta.

Etdah tunggu dulu, kamu mengira aku gampang melupakan cinta karena sering ditolak?. Jadi kamu menganggap aku ga laku ya? Wkwk itu semua tidak benar dan juga tidak salah. Memang benar pas waktu jamannya sekolah dulu aku ini tidak populer alias tidak mengexpose kelebihanku. Sebenarnya emang niatnya begitu dan tanpa disadari juga dulu aku pernah berdoa kepada Allah s.w.t agar aku tidak terlihat kelebihan dan kemampuan hebatku tetapi terlihat tidak meyakinkan, tidak punya kehebatan serta keinginan masa depan. Ibaratnya memang niatku seperti dari dulu, tapi sekarang aku cabut lagi doa itu dengan mengganti supaya aku benar-benar bisa berkontribusi untuk agama, budaya Indonesia, orangtua dll.

Makanya setiap kali aku menyukai perempuan, yang pasti perempuan itu tidak membalas cintaku. Karena aku nampak tidak terlalu keren dimata mereka. nah ketika aku sudah lulus sekolah, sempet kuliah terus kerja. Baru deh banyak banget cewek yang ngejar-ngejar aku bahkan cewek yang aku sukai juga menaruh rasa padaku. Tetapi kemudian, kekuatan cita-citaku melebihi keinginan cintaku. Sehingga membuatku tidak serius untuk mengajaknya pacaran. Karena aku seorang visoner, aku lebih mengedepankan cita-citaku baru cintaku.

Yang terkadang lucunya, cewek-cewek yang dulu nolak aku yang suka merendahkanku tetapi sekarang 180 derajat balik mengagumiku. Semua perencanaan yang matang telah sukses aku lakukan. Pengorbananku dari dulu, dengan menahan perasaan diinjak-injak harga diri kini terbalas manis. Perlu menunggu waktu yang lama untuk membuktikan bahwa inilah aku. Tidak populer disekolah tetapi populer di dunia luar sekolah. Tetapi tetap cita-citaku yang didahulukan. Sekarang aku juga masih galau cita-cita ini membuktikan bahwa cita-cita aku pun belum tercapai secara maksimal karena baru memasuki prosentase 40%.

---------------------------------------------------------------------------

Tambahan, toh jika kamu sukses cita-citamu anak dan keturunanmu akan bangga akan prestasimu. Negara akan bangga, jika cita-citamu itu mengharumkan nama Indonesia. Dan anak-anakmu tidak akan gampang untuk membodohimu, karena kamu memiliki pemikiran visioner. Kamu tidak akan disesali oleh anak-anakmu karena kamu berhasil dalam cita-citamu. Anak-anakmu akan bangga jika orangtuanya bisa memiliki status yang disegani tetapi tetep beriman kepada Allah s.w.t.

Coba deh seandainya, kamu hanya memikirkan cinta. Ujung-ujungnya kan ya menikah, bikin anak, udah gitu doank, bekerja keras untuk keberlangsungan hidup. Tidak ada prestasi yang diraih, terus anak-anakmu juga bakalan deh ada rasa sesal mengapa mereka memiliki orangtua yang mempunyai pemikiran konvensional yang tidak visioner atau yang lain-lainnya.

0 Response to "Kok Galau Cinta? Harusnya Cita-cita?!"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel