Keinginan Yang Tak Kesampaian

Kita terkadang suka galau ya bro, ketika keinginan dan harapan yang sudah jauh-jauh hari telah dirancang, tiba-tiba ada suatu sebab yang mengakibatkan kita enggak jadi mendapatkan keinginan itu. Kita merasa resah, gundah, gulana menyikapi keadaan tersebut. Kita merasa sudah tidak ada jalan keluar lagi bagaimana cara untuk mendapatkan keinginan yang tak kesampaian itu. Rasa-rasanya kehidupan kita benar-benar sudah diambang kehancuran. Kita merasa sang pencipta jahat kepada kita. Padahal Allah s.w.t telah merancang rancangan yang baik untuk kita. Hanya kita yang belum mengetahuinya, dan itu sangat wajar bagi kita manusia yang memiliki hawa nafsu ketidaksabaran.

Bagaimana cara kita menghadapi kejadian semacam itu? bagaimana cara melapangkan dada supaya menerima apapun yang telah digariskan oleh sang penguasa jagad raya. Mendapati keinginan yang sudah kita inginkan kemudian tidak bisa kita dapatkan, itu memang sangat menyakitkan dan sangat membuat hati jengkel. Tapi ingat, Allah s.w.t memberikan kepada kita apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Jika keinginanmu sama dengan kebutuhanmu, maka barang tentu itu pasti akan kamu dapatkan. Permasalahannya, kita tidak bisa mengetahui hal-hal mana saja yang benar-benar dibutuhkan dan mana saja hal-hal yang hanya sebatas keinginan. 

Kita terkadang suka galau ya bro, ketika keinginan dan harapan yang sudah jauh-jauh hari telah dirancang, tiba-tiba ada suatu sebab yang mengakibatkan kita enggak jadi mendapatkan keinginan itu. Kita merasa resah, gundah, gulana menyikapi keadaan tersebut. Kita merasa sudah tidak ada jalan keluar lagi bagaimana cara untuk mendapatkan keinginan yang tak kesampaian itu. Rasa-rasanya kehidupan kita benar-benar sudah diambang kehancuran. Kita merasa sang pencipta jahat kepada kita. Padahal Allah s.w.t telah merancang rancangan yang baik untuk kita. Hanya kita yang belum mengetahuinya, dan itu sangat wajar bagi kita manusia yang memiliki hawa nafsu ketidaksabaran.   Bagaimana cara kita menghadapi kejadian semacam itu? bagaimana cara melapangkan dada supaya menerima apapun yang telah digariskan oleh sang penguasa jagad raya. Mendapati keinginan yang sudah kita inginkan kemudian tidak bisa kita dapatkan, itu memang sangat menyakitkan dan sangat membuat hati jengkel. Tapi ingat, Allah s.w.t memberikan kepada kita apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Jika keinginanmu sama dengan kebutuhanmu, maka barang tentu itu pasti akan kamu dapatkan. Permasalahannya, kita tidak bisa mengetahui hal-hal mana saja yang benar-benar dibutuhkan dan mana saja hal-hal yang hanya sebatas keinginan.   Kita ambil contoh, kita memiliki cita-cita menjadi film maker. Jadi ada dua jalan untuk bisa mendapatkan keinginan itu. Pertama, lewat bekerja langsung dibidang tersebut. Kedua, lewat pendidikan. Yang dimaksud dengan lewat cara pertama itu adalah kita langsung bekerja di salah satu perusahaan perfilman. Berarti kita harus benar-benar melangkah step demi step untuk mencapai puncak teratas. Kita harus dari bawah dulu, misal jadi PU (Pembantu Umum). Dan tentu saja kita harus punya cukup link atau kenalan orang dalam untuk bisa masuk ke dunia itu. Cara kedua yaitu dengan cara jalur pendidikan. Jalur ini bener-bener terekomendasi, ya emang seharusnya begitu. Dengan para film maker berpendidikan perfilman, tau pakem-pakemnya diharapkan mampu membuat film yang berkualitas. Itu loh terkadang kita merasa bahwa perfilman Indonesia banyak yang engga bermutu, disebabkan para pembuat film adalah orang-orang yang basicnya tidak memiliki pendidikan film. Sama halnya jika seorang dokter yang tidak memiliki pendidikan kedokteran pasti akan membahayakan pasien, beda dengan kinerja dokter yang sudah wisuda dalam perkuliahannya. (Walau engga menjamin dokter berpendidikan jauh dari malpraktek, kalo kaya gitu bagaimana kalo dokter yang tanpa pendidikan?)   Karena kita tahu bahwa jalur pendidikan itu penting, jadi kita ingin rasanya bisa kuliah. Permasalahan yang muncul adalah orang tua kita tidak sanggup untuk membiayai segala keinginan kita. Entah itu karena memang orang tua kita menganggap kuliah itu tidak penting atau memang bener-bener finansial kedua orang tua kita tak memungkinkan. Jika kejadiannya semacam itu, lebih baik kita jangan paksakan keinginan kita. Mohon pengertian kepada kedua orang tua kita. Mereka tak mungkin tega melihat anak-anaknya menjadi bego serta bodoh, cuman karena masalah biaya yang mereka tidak sanggup. Dan kita meminta bantuan kepada sodara-sodara terdekat maupun terjauh kita. Namun ternyata mereka pun tak sanggup untuk sekedar memberi bantuan. Entah itu mereka masa bodoh atau memang tidak sanggup membantu (walaupun sodara kita pernah dibantu oleh kedua orang tua dan berharap balik membantu kita) ya sudah jangan paksa mereka. Wajar saja mereka juga memiliki tanggungan keluarga masing-masing.   Jadi apa yang harus kita lSayakan? jika keinginan serta harapan kita berujung pada titik kebuntuan dalam kegelapan? kemana lagi kita harus mengadu? bagaimana caranya kita mencari bantuan serta pertolongan? Kamu sudah tahu jawabannya. Jika sudah tidak ada manusia yang bisa menolong kita atas keinginan serta harapan kita, maka hanya satu-satunya yang bisa kita gantungkan hidup sepenuhnya yakni kepada Allah s.w.t. Dia maha pengasih lagi maha penyayang. Dia maha pemberi rejeki yang tak terhingga. Apapun yang ingin kita harapkan, mintalah kepada-Nya. Hanya Dia yang sanggup memberikan segala apa yang kita inginkan. Dia yang maha pemberi kenikmatan baik di dunia maupun di akherat. Dia lah tempat untuk mengadu berbagai keluh kesah. Minta, minta, dan mintalah kepada-Nya. Jangan suka berduka cita, karena Allah s.w.t masih bersama kita, orang-orang yang mengSaya dan YAKIN! terhadap keesaan Allah s.w.t! Percayalah!   Pengalaman   Saya kali ini mau ngshare pengalaman temen Saya namanya Didit. Dia sekarang udah sukses dapet pekerjaan yang diinginkan. Padahal pas beberapa bulan terakhir dia tuh susah banget nyari pekerjaan. Udah ngedaftar dimana-mana juga kaga dapet. Udah sampe ngekos di kota lain trus naruh lamaran berpuluh-puluh tumpuk kertas lamaran juga kaga ada yang diterima, dipanggil buat sekedar interview juga kaga. Tapi dia engga pantang nyerah, tiap hari dia tuh jadi rajin sholat ama dzikir. Lebih-lebih pas lagi abis sholat jumat, kalo orang lain termasuk Saya juga langsung cabut abis berdoa. Kalo Didit kaga, dia dzikir terus-terusan. Dia juga suka bawa tasbeh buat wiridan. Pokoknya kalo Saya lagi ngeliat dia pasti engga jauh-jauh dari yang namanya dzikir. Penampilannya juga jadi islami banget. Sering pake peci walaupun di luar masjid. Akhirnya dia coba dagang jualan tahu tempe goreng depan rumahnya. Nah baru beberapa hari jualan, eh tau-tau dia udah dapet kerjaan lebih baek. Dia tuh punya temen yang kerja di perusahaan lumayan bonavit. Tuh temennya mau masukin Didit buat jadi karyawan. Ibaratnya temennya Didit tuh orang dalem di perusahaan tersebut. Ya udah jelas doa yang berkali-kali dipanjatkan Didit terkabul juga. Saya salut sama dia, Saya aja engga bisa kaya gitu. Saya pengin bisa kaya dia yang bisa konsisten dalam beribadah. Saya dulunya sempet berpikir, Ah tuh bocah jadi tobat pas lagi kesusahaan. Eh taunya kaga, emang dari dulu dia udah rajin ibadah. Walaupun Saya engga tau dan engga liat secara langsung dari dulunya rajin sholat atau kaga, yang pasti kalo dilihat dari keberuntungan serta rejekinya sekarang dia termasuk orang yang konsisten dalam beribadah. Maksudnya baik susah maupun lagi seneng, Ibadah kepada Allah s.w.t tetep YES!. Kalo Saya, jujur masih suka mood-moodan, kadang naik kadang turun.   Tambahan, Temen-temen yang seperti itu tuh yang seharusnya dideketin, mintain sarannya trus pandangannya. Hidup yang selalu sumringah, tersenyum, engga mengeluh dalam semua masalah, rajin serta konsisten dalam beribadah, selalu ingat kepada Dzat yang memberikan kita cobaan dan kenikmatan, maka hidup ini akan sangat menyenangkan. Semoga kita bisa menjadi orang-orang yang sabar dan tentu saja harapan serta keinginan kita yang baik bisa segera dikabulkan oleh Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, Aamiin.

Kita ambil contoh, kita memiliki cita-cita menjadi film maker. Jadi ada dua jalan untuk bisa mendapatkan keinginan itu. Pertama, lewat bekerja langsung dibidang tersebut. Kedua, lewat pendidikan. Yang dimaksud dengan lewat cara pertama itu adalah kita langsung bekerja di salah satu perusahaan perfilman. Berarti kita harus benar-benar melangkah step demi step untuk mencapai puncak teratas. Kita harus dari bawah dulu, misal jadi PU (Pembantu Umum). Dan tentu saja kita harus punya cukup link atau kenalan orang dalam untuk bisa masuk ke dunia itu. Cara kedua yaitu dengan cara jalur pendidikan. Jalur ini bener-bener terekomendasi, ya emang seharusnya begitu. Dengan para film maker berpendidikan perfilman, tau pakem-pakemnya diharapkan mampu membuat film yang berkualitas. Itu loh terkadang kita merasa bahwa perfilman Indonesia banyak yang engga bermutu, disebabkan para pembuat film adalah orang-orang yang basicnya tidak memiliki pendidikan film. Sama halnya jika seorang dokter yang tidak memiliki pendidikan kedokteran pasti akan membahayakan pasien, beda dengan kinerja dokter yang sudah wisuda dalam perkuliahannya. (Walau engga menjamin dokter berpendidikan jauh dari malpraktek, kalo kaya gitu bagaimana kalo dokter yang tanpa pendidikan?)

Karena kita tahu bahwa jalur pendidikan itu penting, jadi kita ingin rasanya bisa kuliah. Permasalahan yang muncul adalah orang tua kita tidak sanggup untuk membiayai segala keinginan kita. Entah itu karena memang orang tua kita menganggap kuliah itu tidak penting atau memang bener-bener finansial kedua orang tua kita tak memungkinkan. Jika kejadiannya semacam itu, lebih baik kita jangan paksakan keinginan kita. Mohon pengertian kepada kedua orang tua kita. Mereka tak mungkin tega melihat anak-anaknya menjadi bego serta bodoh, cuman karena masalah biaya yang mereka tidak sanggup. Dan kita meminta bantuan kepada sodara-sodara terdekat maupun terjauh kita. Namun ternyata mereka pun tak sanggup untuk sekedar memberi bantuan. Entah itu mereka masa bodoh atau memang tidak sanggup membantu (walaupun sodara kita pernah dibantu oleh kedua orang tua dan berharap balik membantu kita) ya sudah jangan paksa mereka. Wajar saja mereka juga memiliki tanggungan keluarga masing-masing.

Jadi apa yang harus kita lSayakan? jika keinginan serta harapan kita berujung pada titik kebuntuan dalam kegelapan? kemana lagi kita harus mengadu? bagaimana caranya kita mencari bantuan serta pertolongan? Kamu sudah tahu jawabannya. Jika sudah tidak ada manusia yang bisa menolong kita atas keinginan serta harapan kita, maka hanya satu-satunya yang bisa kita gantungkan hidup sepenuhnya yakni kepada Allah s.w.t. Dia maha pengasih lagi maha penyayang. Dia maha pemberi rejeki yang tak terhingga. Apapun yang ingin kita harapkan, mintalah kepada-Nya. Hanya Dia yang sanggup memberikan segala apa yang kita inginkan. Dia yang maha pemberi kenikmatan baik di dunia maupun di akherat. Dia lah tempat untuk mengadu berbagai keluh kesah. Minta, minta, dan mintalah kepada-Nya. Jangan suka berduka cita, karena Allah s.w.t masih bersama kita, orang-orang yang mengSaya dan YAKIN! terhadap keesaan Allah s.w.t! Percayalah!

Pengalaman

Saya kali ini mau ngshare pengalaman temen Saya namanya Didit. Dia sekarang udah sukses dapet pekerjaan yang diinginkan. Padahal pas beberapa bulan terakhir dia tuh susah banget nyari pekerjaan. Udah ngedaftar dimana-mana juga kaga dapet. Udah sampe ngekos di kota lain trus naruh lamaran berpuluh-puluh tumpuk kertas lamaran juga kaga ada yang diterima, dipanggil buat sekedar interview juga kaga. Tapi dia engga pantang nyerah, tiap hari dia tuh jadi rajin sholat ama dzikir. Lebih-lebih pas lagi abis sholat jumat, kalo orang lain termasuk Saya juga langsung cabut abis berdoa. Kalo Didit kaga, dia dzikir terus-terusan. Dia juga suka bawa tasbeh buat wiridan. Pokoknya kalo Saya lagi ngeliat dia pasti engga jauh-jauh dari yang namanya dzikir. Penampilannya juga jadi islami banget. Sering pake peci walaupun di luar masjid. Akhirnya dia coba dagang jualan tahu tempe goreng depan rumahnya. Nah baru beberapa hari jualan, eh tau-tau dia udah dapet kerjaan lebih baek. Dia tuh punya temen yang kerja di perusahaan lumayan bonavit. Tuh temennya mau masukin Didit buat jadi karyawan. Ibaratnya temennya Didit tuh orang dalem di perusahaan tersebut. Ya udah jelas doa yang berkali-kali dipanjatkan Didit terkabul juga. Saya salut sama dia, Saya aja engga bisa kaya gitu. Saya pengin bisa kaya dia yang bisa konsisten dalam beribadah. Saya dulunya sempet berpikir, Ah tuh bocah jadi tobat pas lagi kesusahaan. Eh taunya kaga, emang dari dulu dia udah rajin ibadah. Walaupun Saya engga tau dan engga liat secara langsung dari dulunya rajin sholat atau kaga, yang pasti kalo dilihat dari keberuntungan serta rejekinya sekarang dia termasuk orang yang konsisten dalam beribadah. Maksudnya baik susah maupun lagi seneng, Ibadah kepada Allah s.w.t tetep YES!. Kalo Saya, jujur masih suka mood-moodan, kadang naik kadang turun.

Tambahan, Temen-temen yang seperti itu tuh yang seharusnya dideketin, mintain sarannya trus pandangannya. Hidup yang selalu sumringah, tersenyum, engga mengeluh dalam semua masalah, rajin serta konsisten dalam beribadah, selalu ingat kepada Dzat yang memberikan kita cobaan dan kenikmatan, maka hidup ini akan sangat menyenangkan. Semoga kita bisa menjadi orang-orang yang sabar dan tentu saja harapan serta keinginan kita yang baik bisa segera dikabulkan oleh Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, Aamiin.

0 Response to "Keinginan Yang Tak Kesampaian"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel