Jangan Suka Meremehkan Orang Lain

Kamu tau siapa sutradara dari film kolosal Saur Sepuh (1987-1990) yang sangat fenomenal itu? Ketika itu film tersebut mampu menggebrak perfilman tanah air. Di jaman tahun 80 – 90 an adalah keemasan perfilman Indonesia di negeri sendiri. Hadirnya film laga maupun kolosal-kolosal macam “Pasukan Berani Mati (1982)”, “Lembak Membara (1983)”, “7 Manusia Harimau (1986)”, “Siluman Serigala Putih (1987), “Soerabaia 45 (1989)”, “Fatahillah (1997)” itu benar-benar film yang sangat menggempar dan menggoncangkan perfilman tanah air waktu itu. Berjibun-jibun orang berdatangan ke bioskop untuk menonton film-film kolosal yang bener-bener gila bagusnya. Mengangkat budaya Jawa Indonesia yang kaya akan cerita maupun legenda yang baik serta bagus. Mengangkat cerita kerajaan-kerajaan Jawa, memperkenalkan kembali busana ala kerajaan jaman dahulu, dekorasi arsitektur kerajaan, dan permainan alat musik serta seni beladiri persilatan jaman dahulu. Benar-benar tontonan yang menghibur. Sang sutradara mampu membuat film-film yang Saya sebutkan diatas dengan teknik yang sangat gila bagusnya pada jamannya. Saya benar-benar memberi ‘tepukan tangan’ berkali-kali untuk sineas yang satu ini. Dia juga seorang penulis skenario film sinetron “Tukang Bubur Naik Haji The Series (2012)” yang selalu mendapatkan rating yang bagus. Kamu pasti membayangkan siapakah gerangan orang itu? siapakah dia sineas film maker yang benar-benar menggebrak tanah air? Darimana orang itu? siapakah penulis skenario dan sutradara film fenomenal itu? Siapakah dia?! Dia adalah IMAM TANTOWI !, seorang film maker senior yang sudah melalang melintang di dunia perfilman tanah air. Siapa yang tidak kenal dia? Pasti semua orang film akan mengenalnya!. 

JANGAN SUKA MEREMEHKAN ORANG LAIN Kamu tau siapa sutradara dari film kolosal Saur Sepuh (1987-1990) yang sangat fenomenal itu? Ketika itu film tersebut mampu menggebrak perfilman tanah air. Di jaman tahun 80 – 90 an adalah keemasan perfilman Indonesia di negeri sendiri. Hadirnya film laga maupun kolosal-kolosal macam “Pasukan Berani Mati (1982)”, “Lembak Membara (1983)”, “7 Manusia Harimau (1986)”, “Siluman Serigala Putih (1987), “Soerabaia 45 (1989)”, “Fatahillah (1997)” itu benar-benar film yang sangat menggempar dan menggoncangkan perfilman tanah air waktu itu. Berjibun-jibun orang berdatangan ke bioskop untuk menonton film-film kolosal yang bener-bener gila bagusnya. Mengangkat budaya Jawa Indonesia yang kaya akan cerita maupun legenda yang baik serta bagus. Mengangkat cerita kerajaan-kerajaan Jawa, memperkenalkan kembali busana ala kerajaan jaman dahulu, dekorasi arsitektur kerajaan, dan permainan alat musik serta seni beladiri persilatan jaman dahulu. Benar-benar tontonan yang menghibur. Sang sutradara mampu membuat film-film yang Saya sebutkan diatas dengan teknik yang sangat gila bagusnya pada jamannya. Saya benar-benar memberi ‘tepukan tangan’ berkali-kali untuk sineas yang satu ini. Dia juga seorang penulis skenario film sinetron “Tukang Bubur Naik Haji The Series (2012)” yang selalu mendapatkan rating yang bagus. Kamu pasti membayangkan siapakah gerangan orang itu? siapakah dia sineas film maker yang benar-benar menggebrak tanah air? Darimana orang itu? siapakah penulis skenario dan sutradara film fenomenal itu? Siapakah dia?! Dia adalah IMAM TANTOWI !, seorang film maker senior yang sudah melalang melintang di dunia perfilman tanah air. Siapa yang tidak kenal dia? Pasti semua orang film akan mengenalnya!. Imam Tantowi adalah sutradara film laga atau kolosal. Awalnya dia seorang lakon sandiwara sebagai pemain maupun sutradara di tahun 1966-1969. Pindah ke Jakarta jadi tukang pembuat poster film. Jadi Dekorator di film “Biarkan Musim Berganti (1971)”. Kemudian menjadi penata artistik di film “Si Rano (1973)”. kemudian menjadi astrada (asisten sutradara), lalu menjadi penulis skenario di film “Dang Ding Dong (1978)”. Lalu setelah tahun 1982, baru Imam Tantowi menjadi sutradara film. Penghargaannnya sudah banyak mulai dari masuk nominasi Festival Film Indonesia Di Jogjakarta sebagai penulis skenario terbaik dalam film “Lebak Membara”. Film “Carok (1985)” dapat nominasi cerita asli di ajang FFI di Bandung. Mendapat Piala Citra sebagai penulis cerita asli terbaik, penghargaan film musikal terbaik, serta film anak-anak terbaik untuk film “Si Badung (1989)” di ajang FFI Jakarta tahun 1889. Mendapat Piala Vidia sebagai penulis cerita terbaik di Festival Sinetron Indonesia tahun 1994 untuk sinetron “Madu Racun dan Anak Singkong” dan di tahun 1995 untuk sinetron “Jejak Sang Guru”. Di tahun 1996 dapat penghargaan sebagai penulis skenario dan cerita asli komedi terbaik untuk sinetron “Suami-Suami TSayat Istri” (yang kemudian sinetron itu pernah diremake ulang). Dan juga selalu mendapat rating di sinetron “Tukang Bubur Naik Haji (1996) dan Tukang Bubur Naik Haji (2012) yang episodenya sudah mencapai ribuan, serta mendapat beberapa penghargaan di ajang Festival Film Bandung dan Panasonic Gobel Awards tahun 2013. Kamu pasti bertanya-tanya, Pak Imam Tantowi itu aslinya orang mana? mengapa dia bisa menjadi sineas film yang sangat fenomenal karya serta penghargaannya. Kamu tau, Imam Tantowi lahir tanggal 13 Agustus 1946 (sekitar setahun setelah kemerdekaan Indonesia) dan dilahirkan di kota mana?? Jakarta? oh bukan Jakarta, engga semua orang pintar dari Jakarta. Trus dari mana donk? dari Bandung? wah ini nih kebiasaan. Belum tentu orang hebat dari Bandung doank. Oh berarti orang Jawa Barat, dibilangin bukan orang yang terlahir dari Jawa Barat doank yang sukses. Yang benar, ya dia dilahirkan di kota TEGAL, Jawa Tengah. Kamu pasti hanya membayangkan seandainya mendengar kata “Tegal” kamu akan berpikir seputar warteg, orang Tegal culun katrok, tak memiliki masa depan, bego tolol goblok? semua itu telah terpatahkan! Sekali lagi look, look, and look Pak Imam Tantowi. Beliau orang Tegal asli tapi lihat karyanya, bukankah mengguncang di dunia perfilman? beliau bukan cuman jadi penulis skenario dan sutradara yang ecek-ecek tapi sekali lagi liat karya-karyanya melalui film di tahun 80–90an, bukankah mengguncang perfilman tanah air waktu itu? namanya sudah sangat tersohor seantero nusantara bahkan internasional. Di buku pendidikan, dia tercatat sebagai salah satu pembangkit/penggerak film nasional. Dan sampai sekarang, film atau sinetron yang ditulisnya selalu mendapat rating bagus dan juga penghargaan. Gimana? masih meremehkan orang Tegal? itu baru Pak Imam Tantowi, masih ada lagi Pak Chaerul Umam. Dia juga sama sebagai penulis skenario dan sutradara tersohor, tentu saja orang Tegal asli. Jangan beranggapan hanya segelintir orang saja yang sukses, kita belum mengetahui semuanya. Masih banyak ternyata orang-orang Tegal sukses dalam bidang masing-masing. Hanya saja kita terlalu beranggapan orang Tegal kampungan, norak, serta katrok, dan semua itu salah besar. Sama halnya orang-orang Jakarta atau Bandung, engga mesti semua orang-orang itu hebat dan pintar. Pasti ada yang bego, katrok, kampungan. Sama dengan Tegal, belum tentu semua orangnya kampungan. Itu loh bro, kenapa kita jangan meremehkan orang lain. Itu loh alasan-alasan mengapa kita jangan menganggap teman-teman kita, sodara-sodara kita itu tidak berguna atau tidak bermanfaat. Jangan meremehkan orang pendiem atau apalah orang-orang yang ‘keliatannya’ tidak menguasai bidang tertentu. Ingat tidak semua orang mampu menguasai semua bidang. Bisa jadi dia menguasai bidang ‘ini’ tapi tidak menguasai bidang ‘itu’. Biasanya orang-orang pendiem itu memiliki tingkat sudut pandang yang tinggi. Dia akan merasa malas untuk berbicara kepada orang-orang yang dalam perkataannya terlalu jauh dari logika. Misalkan, Fulan disuruh kerja jadi sales marketing sama sodaranya. Si Fulan menolak, dan Sodaranya mengatakan bahwa Fulan terlalu pemalu menjadi orang. Tidak bisa apa-apa bahkan untuk berbicara kepada client pun susah. Mari kita tarik peristiwanya dengan mengatakan semua orang mampu melSayakan bidang “ini” belum tentu bidang “itu”. Ternyata eh ternyata Fulan emang tidak menguasai ilmu sales jadi untuk berbicara menawarkan barang juga susah. Tapi seandainya si Fulan diberikan pekerjaan sesuai kemampuannya, misalkan di perfilman. Lihat apa yang terjadi, tentu saja dia bakalan mampu untuk menyelesaikan pekerjaan. Karena apa? karena dia mampu dibidang tersebut. Stop! untuk merendahkan orang lain. Jangan langsung berasumsi hanya melihat penampilan. Ingat jangan menilai orang hanya dari penampilannya saja. Cobalah dekati, ajak bicara, minta saran serta sudut pandangnya. Dan kamu akan tahu, bahwa apa yang kamu anggap itu keliru. TSayatnya orang-orang yang selalu kita rendahkan dan remehkan itu calon orang yang cerah masa depannya. Pikirannya yang sangat visioner dan future banget. So, kalo dari dulunya kita berbuat baik, maka orang visioner itu akan mengingat kebaikan kita di masa lampau dan akan memberikan kita sebagian rejekinya baik pekerjaan maupun yang lain suatu saat nanti. CURHAT Ada tiga sutradara film favorit Saya yaitu James Cameron, Peter Jackson, dan tentu saja Imam Tantowi. Saya pengin jadi sutradara film kaya Pak Imam Tantowi. Emang itu cita-cita Saya sejak kecil bukan cuman keinginan sesaat. Saya dulunya tertarik film berawal dari ‘Titanic’ garapan James Cameron, makin memilih serta menyukai genre film laga imajinasi fantasy berkat ‘Lord of The Ring’ karya Peter Jackson, dan semakin memperkuat keinginan Saya menjadi sutradara film laga ala kerajaan berbudaya Jawa gara-gara ‘Saur Sepuh’ garapan Imam Tantowi. Saya pengin perfilman bergenre laga kolosal menggebrak tanah air lagi kaya yang dulu dilSayain ama Pak Imam Tantowi. Saya pengin jadi generasi kedua dari Pak Imam Tantowi. Ya sebagai pengganti sutradara film laga kolosal yang nantinya juga bakal menggebrak perfilman tanah  air. Saya berharap tau alamat rumahnya biar bisa maen kerumah atau malah dia yang berkunjung ke rumah Saya (hehe). Kamu tau, karena Saya juga lahir di kota yang sama dengan kota kelahiran Imam Tantowi.

Imam Tantowi adalah sutradara film laga atau kolosal. Awalnya dia seorang lakon sandiwara sebagai pemain maupun sutradara di tahun 1966-1969. Pindah ke Jakarta jadi tukang pembuat poster film. Jadi Dekorator di film “Biarkan Musim Berganti (1971)”. Kemudian menjadi penata artistik di film “Si Rano (1973)”. kemudian menjadi astrada (asisten sutradara), lalu menjadi penulis skenario di film “Dang Ding Dong (1978)”. Lalu setelah tahun 1982, baru Imam Tantowi menjadi sutradara film. Penghargaannnya sudah banyak mulai dari masuk nominasi Festival Film Indonesia Di Jogjakarta sebagai penulis skenario terbaik dalam film “Lebak Membara”. Film “Carok (1985)” dapat nominasi cerita asli di ajang FFI di Bandung. Mendapat Piala Citra sebagai penulis cerita asli terbaik, penghargaan film musikal terbaik, serta film anak-anak terbaik untuk film “Si Badung (1989)” di ajang FFI Jakarta tahun 1889. Mendapat Piala Vidia sebagai penulis cerita terbaik di Festival Sinetron Indonesia tahun 1994 untuk sinetron “Madu Racun dan Anak Singkong” dan di tahun 1995 untuk sinetron “Jejak Sang Guru”. Di tahun 1996 dapat penghargaan sebagai penulis skenario dan cerita asli komedi terbaik untuk sinetron “Suami-Suami TSayat Istri” (yang kemudian sinetron itu pernah diremake ulang). Dan juga selalu mendapat rating di sinetron “Tukang Bubur Naik Haji (1996) dan Tukang Bubur Naik Haji (2012) yang episodenya sudah mencapai ribuan, serta mendapat beberapa penghargaan di ajang Festival Film Bandung dan Panasonic Gobel Awards tahun 2013.

Kamu pasti bertanya-tanya, Pak Imam Tantowi itu aslinya orang mana? mengapa dia bisa menjadi sineas film yang sangat fenomenal karya serta penghargaannya. Kamu tau, Imam Tantowi lahir tanggal 13 Agustus 1946 (sekitar setahun setelah kemerdekaan Indonesia) dan dilahirkan di kota mana?? Jakarta? oh bukan Jakarta, engga semua orang pintar dari Jakarta. Trus dari mana donk? dari Bandung? wah ini nih kebiasaan. Belum tentu orang hebat dari Bandung doank. Oh berarti orang Jawa Barat, dibilangin bukan orang yang terlahir dari Jawa Barat doank yang sukses. Yang benar, ya dia dilahirkan di kota TEGAL, Jawa Tengah. Kamu pasti hanya membayangkan seandainya mendengar kata “Tegal” kamu akan berpikir seputar warteg, orang Tegal culun katrok, tak memiliki masa depan, bego tolol goblok? semua itu telah terpatahkan! Sekali lagi look, look, and look Pak Imam Tantowi. Beliau orang Tegal asli tapi lihat karyanya, bukankah mengguncang di dunia perfilman? beliau bukan cuman jadi penulis skenario dan sutradara yang ecek-ecek tapi sekali lagi liat karya-karyanya melalui film di tahun 80–90an, bukankah mengguncang perfilman tanah air waktu itu? namanya sudah sangat tersohor seantero nusantara bahkan internasional. Di buku pendidikan, dia tercatat sebagai salah satu pembangkit/penggerak film nasional. Dan sampai sekarang, film atau sinetron yang ditulisnya selalu mendapat rating bagus dan juga penghargaan. Gimana? masih meremehkan orang Tegal? itu baru Pak Imam Tantowi, masih ada lagi Pak Chaerul Umam. Dia juga sama sebagai penulis skenario dan sutradara tersohor, tentu saja orang Tegal asli. Jangan beranggapan hanya segelintir orang saja yang sukses, kita belum mengetahui semuanya. Masih banyak ternyata orang-orang Tegal sukses dalam bidang masing-masing. Hanya saja kita terlalu beranggapan orang Tegal kampungan, norak, serta katrok, dan semua itu salah besar. Sama halnya orang-orang Jakarta atau Bandung, engga mesti semua orang-orang itu hebat dan pintar. Pasti ada yang bego, katrok, kampungan. Sama dengan Tegal, belum tentu semua orangnya kampungan.

Itu loh bro, kenapa kita jangan meremehkan orang lain. Itu loh alasan-alasan mengapa kita jangan menganggap teman-teman kita, sodara-sodara kita itu tidak berguna atau tidak bermanfaat. Jangan meremehkan orang pendiem atau apalah orang-orang yang ‘keliatannya’ tidak menguasai bidang tertentu. Ingat tidak semua orang mampu menguasai semua bidang. Bisa jadi dia menguasai bidang ‘ini’ tapi tidak menguasai bidang ‘itu’. Biasanya orang-orang pendiem itu memiliki tingkat sudut pandang yang tinggi. Dia akan merasa malas untuk berbicara kepada orang-orang yang dalam perkataannya terlalu jauh dari logika. Misalkan, Fulan disuruh kerja jadi sales marketing sama sodaranya. Si Fulan menolak, dan Sodaranya mengatakan bahwa Fulan terlalu pemalu menjadi orang. Tidak bisa apa-apa bahkan untuk berbicara kepada client pun susah. Mari kita tarik peristiwanya dengan mengatakan semua orang mampu melSayakan bidang “ini” belum tentu bidang “itu”. Ternyata eh ternyata Fulan emang tidak menguasai ilmu sales jadi untuk berbicara menawarkan barang juga susah. Tapi seandainya si Fulan diberikan pekerjaan sesuai kemampuannya, misalkan di perfilman. Lihat apa yang terjadi, tentu saja dia bakalan mampu untuk menyelesaikan pekerjaan. Karena apa? karena dia mampu dibidang tersebut.

Stop! untuk merendahkan orang lain. Jangan langsung berasumsi hanya melihat penampilan. Ingat jangan menilai orang hanya dari penampilannya saja. Cobalah dekati, ajak bicara, minta saran serta sudut pandangnya. Dan kamu akan tahu, bahwa apa yang kamu anggap itu keliru. TSayatnya orang-orang yang selalu kita rendahkan dan remehkan itu calon orang yang cerah masa depannya. Pikirannya yang sangat visioner dan future banget. So, kalo dari dulunya kita berbuat baik, maka orang visioner itu akan mengingat kebaikan kita di masa lampau dan akan memberikan kita sebagian rejekinya baik pekerjaan maupun yang lain suatu saat nanti.

CURHAT

Ada tiga sutradara film favorit Saya yaitu James Cameron, Peter Jackson, dan tentu saja Imam Tantowi. Saya pengin jadi sutradara film kaya Pak Imam Tantowi. Emang itu cita-cita Saya sejak kecil bukan cuman keinginan sesaat. Saya dulunya tertarik film berawal dari ‘Titanic’ garapan James Cameron, makin memilih serta menyukai genre film laga imajinasi fantasy berkat ‘Lord of The Ring’ karya Peter Jackson, dan semakin memperkuat keinginan Saya menjadi sutradara film laga ala kerajaan berbudaya Jawa gara-gara ‘Saur Sepuh’ garapan Imam Tantowi. Saya pengin perfilman bergenre laga kolosal menggebrak tanah air lagi kaya yang dulu dilSayain ama Pak Imam Tantowi. Saya pengin jadi generasi kedua dari Pak Imam Tantowi. Ya sebagai pengganti sutradara film laga kolosal yang nantinya juga bakal menggebrak perfilman tanah air. Saya berharap tau alamat rumahnya biar bisa maen kerumah atau malah dia yang berkunjung ke rumah Saya (hehe). Kamu tau, karena Saya juga lahir di kota yang sama dengan kota kelahiran Imam Tantowi.

0 Response to "Jangan Suka Meremehkan Orang Lain"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel