Harapan Yang Tidak Sesuai Kenyataan

Harapan maupun ekspektasi yang sering kita bangun terkadang sangat berlebihan sehingga membuatnya tidak sesuai kenyataan. Kita membayangkan mendapatkan sesuatu, justru kenyataannya kita mendapatkan sebaliknya. Jujur saja sebagai manusia, kita pasti sering merasa kecewa jika dalam keadaan seperti itu.


Nah kali ini saya akan langsung membagikan pengalaman saya sendiri mengenai satu peristiwa sebagai pendukung argumen saya kali ini.

--------------

Pengalaman

Waktu itu, saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan mengenai bagaimana saya harus menjemput cita-cita dan keinginan saya. Berkali-kali Doa serta Usaha saya membuahkan hasil yang sia-sia.

Kemudian saya memiliki pemikiran, mengapa saya tidak mencari seorang ustad ataupun kyai yang mampu membantu saya menggapai keinginan duniawi. Dengan segera saya berselancar di dunia internet mencari informasi tersebut. Dan akhirnya ketemu sebuah artikel yang di dalamnya menjelaskan berbagai banyak ustad atau pun kyai yang mampu memberikan doa ataupun amalan yang mampu mendatangkan rezeki serta mengabulkan cita-cita.

Saya catat alamat kyai tersebut, sekaligus juga saya mengkontak admin dari penulis artikel tersebut untuk mendapatkan detail nama ustad atau kyai tersebut. Namun dia tidak mau memberikan secara lengkap, hanya memberikan kisi-kisi atau petunjuk-petunjuk saja.

Singkat cerita, saya mengajak satu teman saya menuju lokasi tersebut. Kami berangkat dari Kota Solo menuju sekitaran Magelang Jawa Tengah.

Berbekal sedikit informasi, pun pula kami dibuat kebingungan. Kami sudah berada di depan sebuah gerbang Akmil yang ada di daerah tersebut sesuai petunjuk. Kami putuskan untuk berhenti di arah sebrang jalan sambil jajan sepiring sate ayam.

Saya menyuruh teman saya untuk bertanya kepada penjual tentang adakah seorang kyai atau ustad hebat di daerah sini. Dengan sigap penjual itu lalu bertanya pula dengan pedagang sebelahnya, yang akhirnya didapatkan kesimpulan bahwa ada seorang kyai hebat yang dimaksud.

Setelah makan dan membayar tentunya, kami bergegas menuju lokasi, kira-kira 1 km meter dari titik berhenti kami.

Ada sebuah masjid warna hijau lalu di sebelahnya terdapat  2 rumah, dan itu adalah tempat kediaman kyai yang dimaksud.

Kami memberanikan diri mengetok pintu salah satu rumah besar, namun berkali-kali tak ada jawaban. Kemudian muncullah seorang bapak-bapak terbilang masih muda, keluar dari rumah lainnya. Kami dipersilahkan masuk ke dalam rumah yang kami ketok tadi.

Setelah perkenalan awal, kami segera mengetahui bawah seorang bapak tersebut adalah seorang menantu dari kyai yang kami cari. Yang tentu saja sebelumnya dia juga sudah memanggilkan pak kyai. Nah ternyata Pak Kyai sedang sakit, jadi kami disuruh nunggu sebentar lagi.

Saya serta teman mengobrol dengan menantu dari pak Kyai yang ternyata juga seorang Ustad di kursi tamu. Disana justru teman saya yang lebih banyak berbicara. Karena apa? karena teman saya itu memiliki saudara jauh yang memiliki pesantren, jadi pembicaraan dari keduanya sangat nyambung, ngobrol seputar kehidupan santri.

Sekitar 20-30 menitan, keluarlah Pak Kyai yang kami cari. Dan alangkah terkejutnya kami mendapati bahwa Pak Kyai tersebut sedang sakit Stroke. Sehingga beliau berjalan dari kamar ke kursi tamu dengan tertatih-tatih sembari dibantu oleh menantunya.

Baiklah, singkatnya, dengan perasaan berkecamuk hebat dalam diri saya sekaligus malu. Saya memberanikan diri untuk mengutarakan maksud kedatangan saya. Saya benar-benar malu mengungkapkannya disebabkan hal yang ingin saya sampaikan sifatnya pribadi. Sedangkan disana juga ada Pak Ustad menantunya Pak Kyai. Saya rasa kurang etis pak Ustad berada di sana. Dan soal teman, saya tak malu, karena dia sudah tahu tujuan saya, bahkan dia juga memiliki maksud yang sama seperti saya.

Berat hati saya menyampaikan bahwa saya meminta doa atau amalan agar diberikan kemudahan dan kelancaran rejeki dari Pak Kyai dengan begitu terbata-bata.

Hasilnya? ya tentu saja sesuai dengan judul dan pembahasan dalam artikel ini. Ekspektasi saya tidak sesuai kenyataan. Pak Kyai tidak jelas dalam berbicara, bahkan menggerakan bibirnya serta anggota badan lainnya pun kesusahan karena penyakit stroke. Dalam hati saya, saya menyesal jauh-jauh datang, batin saya kala itu.

Tapi sempat juga Pak Kyai mendoakan saya walau saya tidak tahu apa yang beliau doakan. Dan setelah itu, saya dan teman dikasih wejangan atau nasihat lebih banyak dari Pak Ustad menantunya Pak Kyai.

Pak Ustad itu menjelaskan kalau banyak orang mengejar dunia melalui akherat. Maksudnya adalah banyak yang ingin menjadi kaya raya tetapi dengan cara shalat ini itu, berpuasa dan melakukan ibadah lainnya dengan niat duniawi. Sebenarnya Pak Ustad itu menyindir saya secara tidak langsung, namun apa yang beliau ucapkan memang benar adanya.

Jadi intinya kami kesana justru kami lebih banyak diberi nasihat dari Pak Ustad, bukan dari Pak Kyai yang kami cari selama ini. Ada rasa kekecewaan kami yang begitu mendalam. Kami berharap dapat amalan doa yang ingin kami lakukan sesuai perintah, namun justru kami hanya mendapatkan wejangan - yang mana memang bermanfaat juga sih. Hanya saja bukan itu yang kami kehendaki.

Setelah obrolan kami selesai, kami mohon pamit untuk pulang. Sepanjang perjalanan, saya tidak munafik, saya merasa sedikit kecewa namun sedikit terobati dengan nasihat Pak Ustad.

-------------

Coba renungkan kawan, saya memiliki ekspektasi ingin berbicara secara personal dengan seorang Kyai (Dalam bayanga saya, seorang Kyai sepuh sehat), yang dimana saya akan diberikan beberapa doa yang bisa saya amalkan. Justru yang saya dapatkan hanyalah didoakan, dimana doanya saja tidak begitu jelas, karena beliau terkena penyakit stroke. Malahan saya lebih banyak dinasehati untuk tidak mengejar duniawi dengan amalan ibadah. Karena ibadah itu tujuannya adalah untuk mendapatkan cintanya Allah swt bukan target dunia, kata Pak Ustad menantu Pak Kyai.

Begitu pula pengalaman-pengalaman saya yang lainnya, dan tentu saja pengalaman-pengalaman yang sering kamu alami.

Terus bagaimana cara menyikapinya jika mengalami kenyataan tidak sesuai harapan?

Saya akan mengutip apa yang dikatakan oleh Pak Ustad
Hiduplah mengalir apa adanya, mau kemana pun jalannya, ikuti saja. Dan jangan jadikan ibadahmu untuk mengejar dunia, tapi jadikan target akherat.
Silahkan kamu ambil kesimpulan dari penjelasan saya di atas. Jika setuju ikuti saja, jika tidak, maka ikuti kata hatimu saja. Bahkan, nasihat dari Pak Ustad tersebut belum sepenuhnya cocock dengan pemahaman saya. Maksudnya, saya sedikit setuju dengan cara pandang hidup mengalir saja. Namun saya juga percaya kalau manusia itu harus mengejar dunia, bukan hanya akherat. Dan kita diperbolehkan untuk meminta menjadi orang kaya raya kepada Allah swt. Karena dengan harta, kita bisa lebih mudah menjalankan ibadah apapun, termasuk sikap bersyukur.

Kenyataan tidak sesuai harapan itu menyakitkan, saya setuju untuk hal itu. Namun bukan berarti kita harus menderita selamanya akan hal itu. Dan bukan berarti kita tidak pernah sama sekali merasakan apa yang kita inginkan menjadi kenyataan, ya kan?

0 Response to "Harapan Yang Tidak Sesuai Kenyataan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel