Contoh Naskah Skenario Film Seri 21 Scene Durasi 30 Menit (Genre Komedi)


Contoh Naskah Skenario Film Seri 21 Scene Durasi 30 Menit (Genre Komedi)

SKENARIO FILM SERI
KAMPUNG HOROK
Oleh Jeffri Ardiyanto

1. EXT. SAWAH JUNAEDI – PAGI
Cast : Junaedi

Establish : Pemandangan alam sekitar pesawahan desa Horok.

Seorang petani sedang mencangkul ladang sawahnya dan membelakangi sapinya. Tiba-tiba terdengar suara orang berbicara kepadanya.
OS X
“Hei bang!”

Petani itu kaget mendengar suara dari belakangnya.

V.O PETANI
“Perasaan cuma aku disini”

Ketika Petani itu mulai menoleh ke belakang dia amat gemetaran. Lalu dia hanya melihat seekor sapi miliknya.

Tetapi ketika dia akan melanjutkan aktifitas mencangkul, sapinya berbicara bahasa manusia.

SAPI
“Hei bang! Selow dulu bang, istirahat dulu bang!”

Petani itu sontak kaget dan melototkan matanya.

PETANI
“horok!”

BACK TO

Petani itu terperanjak bangun dari tidurnya di gubuk tengah sawah. Ternyata dia bermimpi bukan kenyataan.

Lalu tiba-tiba dari belakangnya muncul seorang perempuan berpakaian puteri raja membawa piring berisi nasi jagung. Disodorkan sepiring nasi jagung ke Petani itu.





PETANI
“Kamu siapa?”

PUTRI
“Aku ini Dewi Sri, sang penjaga padi.
“Nama Bapak siapa?”

Petani itu tampak bengong sebentar.

PETANI
“Saya Junaedi”

Putri lalu menyodorkan sepiring jagung ke Junaedi.

PUTRI
(senyum)
“Makanlah ini, sebagai tanda terima kasihku. Karena engkau telah menumbuhkan sebegitu banyaknya padi di sawahmu”

Junaedi mengambil sepiring nasi jagung itu lalu mulai mencicipinya.

PUTRI Cont’D
(senyum)
“Makanlah yang banyak, tidak perlu takut”

Junaedi mulai tersenyum senang sambil mengunyah nasi jagung dengan antusias. Dilihatnya nasi itu beberapa lama, lalu dia menyadari ada yang salah.

Junaedi memandangi Putri dengan sedikit mengkerutkan dahinya.

JUNAEDI
“Kalo kamu itu Dewi Sri, kenapa kamu ngasih saya nasi jagung??”

Kemudian putri tertawa terbahak-bahak.

JUNAEDI Cont’D
(teriak)
“Horok!!!”

BACK TO
Sontak kaget Junaedi terbangun lagi dari tidurnya. Dia ternyata mimpi dalam mimpi. Dia masih agak bingung akan kejadian yang dialaminya.

Tiba-tiba datang orang lain berpakaian ala petani menghampirinya sambil sedikit ngos-ngosan (nafas berat).
ORANG
(lirih)
“Pak Junaedi, Anuuu....”

Hembusan nafas orang itu begitu kenyang membuat Junaedi tidak nyaman.

JUNAEDI
“Ada apa Dul ? ada apa? (berpikir sejenak)
“Bentar-bentar. Coba tarik nafas dalam-dalam dari hidung lalu hembuskan lewat mulut. Baru nanti kamu cerita”

Adul melakukan sesuai perintah Junaedi.

JUNAEDI Cont’D
“Udah lega kan?. Jadi sekarang coba ceritakan,ada apa?”

Adul mengernyitkan dahinya dan menunjukkan ekspresi serius.

ADUl
“Anu pak gini ceritanya...”

Adul mulai menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dua kali, lalu melanjutkan ceritanya.

ADUL
“Warga disuruh ngumpul di balaidesa, karena anu pak...”

Adul lagi-lagi menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.

Junaedi mulai agak kesal dengan mengernyitkan dahinya.

ADUL
“Katanya Pak Lurah itu pak anu pak...”

Adul melakukan tarikan nafas berat, saat itu juga Junaedi jengkel.

JUNAEDI
(kesal)
“Horok, bukan berarti setiap mau cerita harus tarik nafas buang nafas dalam-dalam. Dul Adul”

ADUL
(malu)
“Oh maaf pak hehe”



JUNAEDI
(kesal)
“Cepetan cerita! Ada apa?”

Junaedi menatap tajam mata Adul, membuat Adul jadi agak ketakutan.

ADUL
“Ya pak maaf-maaf. Gini Pokoknya kita disuruh ke balaidesa sekarang juga. Pak Lurah bakal ngasih tau informasi penting katanya.

Junaedi mulai berpikir sejenak sambil melihat sawah di belakangnya.

V.O JUNAEDI
“Kalo urusannya sama Pak Lurah itu, pasti ada hal yang gak beres ini”

Junaedi lalu menatap Adul sambil menganggukan kepala.

JUNAEDI
“Ayo kesana sekarang juga”

ADUL
“Baik pak”

Mereka bergegas meninggalkan tempat.

CUT TO
 
2. EXT. DEPAN BALAIDESA KAMPUNG HOROK – PAGI
Cast : Junaedi, Adul, Pak RT,Pak Lurah, Bu Lurah, Asisten, dan warga

Balaidesa yang sangat sederhana. Di depannya ada dua buah meja dan kursi masing-masing disebelah kanan dan kiri pintu masuk ruangan balaidesa. Di depannya terdapat pendopo yang sedang dalam tahap pembangunan. Banyak karung semen berjejer, pasir yang masih menggunung. Dan peralatan tukang bangunan masih tergeletak agak rapi.

Sebagian besar warga desa sudah berkumpul di depan balai desa dengan sibuk berbicara satu sama lain. Ada ibu yang sedang menggendong bayinya sambil mengobrol dengan ibu lainnya, ada bapak-bapak merokok sambil berbicara dengan sesamanya, dan ada juga yang menunduk bermain hape.

Tiba-tiba lewat mobil yang berjualan tahu goreng dadakan.


OS SPEAKER
“Tahu tahu bulat, digoreng dadakan, lima ratusan, gurih-gurih nyoi...”

Serentak semua warga desa berhenti dari aktifitasnya masing-masing lalu melihat ke arah mobil tahu bulat yang berjalan pelan.

Setelah mobil itu pergi menjauh, warga kembali ke aktifitasnya masing-masing.

Junaedi dan Adul datang ke depan balaidesa. Junaedi mulai bingung melihat banyak warga kumpul. Lalu dia menghampiri Pak RT yang juga hadir.

JUNAEDI
(mengernyitkan dahi)
“Pak, Ini sebenarnya ada apa to?”

Pak RT memandang Junaedi yang berada di sebelah kirinya.

PAK RT
(senyum)
“Anu pak, aku juga tidak tahu ini. Tapi yang jelas ada informasi penting yang bakal disampaikan”

Pak RT lalu menghadapkan pandangannya ke arah depan melihat kerumunan warga.

PAK RT Cont’D
“Semoga sih, kabar baik ya pak Junaedi”

Lalu Pak RT menoleh ke kirinya, ternyata Junaedi tidak ada.

PAK RT Cont’D
“Loh?! Horok!”

JUNAEDI
“Saya disini pak”

Pak RT terperanjak kaget segera menoleh ke arah sumber suara.Ternyata Junaedi berada di sisi kanan sambil menepuk pundak Pak RT.

PAK RT
“Horok, ngagetin aja Pak Jun”

JUNAEDI
(ketawa)
“Maaf pak hehe”

Kemudian datang Pak Lurah didampingi Asisten dan Pegawai PNS lainnya di beranda Balaidesa. Warga serentak terdiam dan mulai fokus memandang Pak Lurah beserta jajarannya.

Pak Lurah membenarkan posisi kerahnya serta menyapu debu yang menempel di bagian pundak menggunakan tangan.

PAK LURAH
(tegas)
“Assalamualaikum warga kampung Horok. Hari ini saya akan memberikan kabar gembira. Apa itu? Yaitu...”

Pak Lurah merasa gatal dibagian tenggorokkannya. Lalu dia menyuruh asistennya untuk menngambilkan segelas air putih yang berada di atas meja sebelahnya.

Pak Lurah meminum seteguk demi seteguk lalu berdehem.

PAK LURAH
“Okey, baiklah, saya lanjutkan lagi”

Pak Lurah berpikir sejenak lalu menoleh ke asistennya.

PAK LURAH
(berbisik)
“Tadi sampe mana ya?”

ASISTEN
“Anu pak tadi saya sampe solo trus balik lagi ke sini. Jadi maaf kalo agak terlambat tadi datang”

Pak lurah mengernyitkan dahi sambil melototi asistennya. Kemudian dia melihat ke arah kerumunan warganya.

PAK LURAH
“Oya, jadi bapak ibu, mas mbak. Sesuai peraturan pemerintah pusat yang ingin membangun infrastuktur. Alhamdulillah kampung Horok terpilih untuk dibangun jalan tol”

Warga mulai panik dan resah, terlebih Junaedi.

JUNAEDI
“Semisal beneran dibangun jalan tol, banyak rumah warga bakal digusur dan ladang sawah akan semakin menyempit”

Semua warga mendukung dan menyetujui pendapat Junaedi.

PAK LURAH
“Tenang, tenang saudara-saudara. Memang itu...”

Kembali Pak Lurah merasa tenggorakannya gatal. Secara spontan asistennya mengambil gelas air minum lalu memberikan kepada Pak Lurah. Pak Lurah menghabiskan segelas air.
PAK LURAH
(berbisik)
“Tambah lagi”

Asistennya menuangkan air botol kemasan 1 liter ke gelas. Tetapi tiba-tiba, Pak Lurah mengambil sebotol air itu lalu meminumnya sampai habis.

Warga melihat itu agak terheran dan diantara mereka sedikit menelan air ludah masing-masing.

Pak Lurah menaruh botol itu di meja, lalu dia membersihkan sisa air yang menempel di mulutnya.

PAK LURAH
“Jadi gini, bapak ibu, mas mbak. Bukankah terbangunnya jalan tol, ekonomi desa kita akan lebih maju? Banyak yang akan lewat berdatangan. Maka disitu lah lahan emas bagi bapak ibu mas mbak, semisalnya...”

Tiba-tiba datang lagi mobil tahu bulat lewat sambil mengeluarkan suara speaker khasnya. Warga dan termasuk Pak Lurah memandangi mobil itu. Sambil sesekali Pak Lurah menirukan suara tahu bulat dengan sedikit lirih.

Setelah mobil itu pergi, warga kembali menyimak Pak Lurahnya.

PAK LURAH
“Bapak ibu mas mbak kan bisa jualan apa aja. Dijamin laku keras karena desa kita bakal banyak mobil melewati jalan tol. Otomatis banyak diantara itu yang akan mampir di desa kita. Mungkin sekedar makan minum atau mencari penginapan”

Beberapa warga mulai berpikir positif, tetapi tidak dengan Junaedi.

JUNAEDI
“Horok, Itu akal-akalanmu aja Pak Lurah. Memangnya bisa jualan di pinggir jalan tol? Ya gak mungkinlah. Paling juga yang bisa menyewa lahan buat jualan di area pinggir jalan tol itu orang-orang berduit doang Pak”

Warga menyetujui pendapat Junaedi karena dirasa logis.

Pak Lurah tidak mampu menjawab lalu meminta pendapat asistennya. Mereka berbisik-bisik sebentar, lalu kemudian Pak Lurah memandang Junaedi.

PAK LURAH
“Karena ini amanah dari pemerintah pusat, saya akan tetap melanjutkan menyetujui pembangunan jalan tol di sini. Mau atau tidak mau. Yang perlu diingat pak Junaedi. Saya yakin Jalan tol disini akan membawa dampak yang positif untuk masyarakat banyak. Terima Kasih”

Pak Lurah beserta jajarannya meninggalkan tempat.

Warga mulai gaduh sendiri, memikirkan nasib rumah dan ladang sawah akan hilang.

JUNAEDI
“Ini gak bisa dibiarkan, kita harus melakukan sesuatu”

PAK RT
“Apa itu pak Jun?”

Lalu Lewat lagi mobil tahu bulat sambil mengeluarkan suara khasnya.

Tiba-tiba mobil itu dilempar satu sendal dari warga. Si sopir menurunkan kaca mobilnya.

SUPIR
(marah)
“Woy! Tadi siapa yang ngelempar?!”

Mendengar bentakan itu, warga kesal lalu memandangi sopir itu dengan mata melotot. Sopir merubah wajahnya dari kesal menjadi tersenyum sambil menundukkan kepala.

SOPIR
“Te sate te sate, ini bukan tahu bulat, ini te sate te sate”

Mobil itu melaju agak cepat lalu pergi menghilang.

Junaedi menggaruk-garuk kepalanya lalu wajahnya mulai sumringah.

JUNAEDI
“Ah oiya, aku inget, pasti ini mimpi kan? Horok, tak kuduga selama ini, pasti ini mimpi kan? Hahaha”

Adul, Pak RT, dan warga terheran-heran melihat Junaedi.

JUNAEDI
(berpikir sejenak)
“Sebelumnya udah kali saya ngimpi aneh. Dan pasti ini juga mimpi. Haha horok, ketipu saya, bener-bener nyata banget mimpi yang satu ini”

Junaedi lalu menampar-nampar pipinya sambil tersenyum.

JUNAEDI
“Bangun.. bangun...bangunn”

Adul, Pak RT, dan warga melongo melihat itu.

JUNAEDI
“Dul, tampar aku, Dul”

Adul heran sekaligus ragu untuk melakukan itu. Tetapi Junaedi semakin menyuruh dia untuk melakukannya. Sedikit ragu dan ketakutan, Adul menampar pipi kiri Junaedi.

JUNAEDI
(tertawa)
“Yang satunya Dul, satunya, haha”

Adul semakin sedikit ketakutan dengan tangannya gemetaran. Lalu dia mencoba menampar Junaedi sedikit lebih keras dari sebelumnya.

Junaedi masih tertawa dan menyuruh Adul untuk menampar beberapa kali. Karena Adul merasa aman, maka Adul dengan berani menambar beberapa kali pipi Junaedi sambil tertawa.

Lama-kelamaan Junaedi merasa ada yang janggal. Dia menyadari ternyata dia tidak bermimpi. Dari tertawa berubah menjadi amarah emosi kepada Adul.

JUNAEDI
(kesal)
“Adul! Sialan kamu ya? Berani-beraninya nampar aku!”

ADUL
(heran)
“Horok, lah tadi kan anu... kabuuuuurrrr”

Adul melarikan diri lalu dikejar oleh Junaedi sambil teriak-teriak.

Pak RT dan Warga melongo memandangi kejar-kejaran antara Adul dan Junaedi.

CUT TO



3. EXT. GERBANG DESA KAMPUNG HOROK – SIANG
Cast : Feby, Boy, Sopir angkot

Sebuah mobil angkot berhenti di depan gerbang desa. Keluar dari angkot seorang cewek dan cowok berpenampilan anak kuliahan yang masing-masing membawa tas punggung.

Si penumpang cewek membayar uang kepada sopir.

CEWEK
“Mas, rumahnya Pak Lurah Horok dimana ya?”

Lalu sopir menghitung uang dan mengembalikan uang kembalian ke penumpang cewek itu.

SOPIR
(menunjukkan ujung jari)
“Oh itu mbak, mbaknya jalan lurus mentok, trus belok kanan”

CEWEK
“Oh itu rumahnya?”

SOPIR
(senyum)
“Itu rumah saya mbak, hehe”

Cowok yang bersama cewek itu menampakkan wajah heran.

CEWEK
(senyum)
“Ah masnya bisa aja, yang bener yang mana nih?”

SOPIR
(tertawa)
“Haha, itu lurus mentok belok kiri, ntar disitu ada pintu warna ijo. Nah disitu”

COWOK
(ketus)
“Jangan bilang itu rumah orang lain”

Cewek itu memberikan isyarat kepada cowok yang bersamanya untuk tidak marah.

CEWEK
“Jadi itu rumah Pak Lurah kan?”
SOPIR
(senyum)
“Rumah saudara saya, hahaha”

Cowok itu langsung marah karena dipermainkan.

COWOK
“Sialan kamu ya?!”

Cewek itu menarik mundur teman cowoknya yang akan menghampiri si supir.

CEWEK
“Boy!, jangan boy! Sabar napa sih?!

BOY
“Iya ya, selow kali feb”

FEBY
(ketus)
“Ya kan harusnya kamu lah!”

Si sopir melihat itu semakin tertawa terbahak-bahak.

SOPIR
“Iya itu rumahnya Pak Lurah. Pak Lurah kan ya saudara kita. Saudara mbak sama masnya juga. Kita semua kan bersaudara, sama-sama manusia, sama-sama makan nasi”

FEBY
“Oh iya juga ya mas hehe”

SOPIR
“Yaudah mbak, aku narik lagi ya mbak mas”

Sopir mengegaskan mobilnya pergi menjauh.

BOY
“Horok, sopir aneh”

Kemudian mobil penjual tahu bulat lewat di depan mereka.

SPEAKER MOBIL
“Tahu bulat tahu bulat digoreng dadakan. Ada cewek cantik lewat, bersama manusia jadi-jadian”

Feby ketawa mendengar itu tetapi Boy menampakkan emosi.

BOY
(jengkel)
“Woy sialan! Horok!”
Mobil penjual tahu bulat itu semakin pergi menjauh. Feby dan Boy berjalan ke dalam kampung horok.

CUT TO

4. EXT/INT. WARUNG KOPI (HIK)-SIANG
Cast : Junaedi, Juleha, Adul

Adul berlari kencang melewati warung kopi disusul Junaedi yang berhenti mendadak di depan warung.

Junaedi berhenti dalam keadaan ruku, bernafas berat serta menghela nafas. Lalu dia menyekat keringat di dahinya sambil berdiri tegap.

JUNAEDI
“Horok, kenceng banget larinya”

Junaedi menarik nafas lalu membuang nafas. Lalu dia menoleh ke arah warung kopi. Kemudian dia berjalan ke warung.

Warung kopi itu terdapat berbagai macam gorengan, yaitu tempe goreng, tahu goreng, pisang goreng yang berjejer rapi di atas meja kayu warung. Berderet juga beberapa sachet kopi siap saji tergantung di dinding warung yang terbuat dari anyaman bambu. Terdapat satu meja panjang dan satu kursi panjang serta satu kursi pendek.

Junaedi duduk lalu mengambil satu pisang goreng lalu dilahapnya dengan nikmat.

JUNAEDI
“Mpok Julehah, pesen es kopinya satu”

Julehah lalu mengambil gelas, dibersihkannya menggunakan kain lalu mengambil satu sachet kopi instan, ditaruhkan ke dalam gelas.

JULEHAH
“Bentar pak, nunggu aku ngrebus air dulu”

Junaedi mengambil lagi satu pisang goreng lalu menggigitnya. Julehah sibuk membereskan dan membersihkan mejanya.

JULEHAH
“Ngomong-ngomong, kenapa pak Jun kejar-kejaran sama mas Adul?”


JUNAEDI
(tawa)
“Hahaha, gak apa apa mpok. Becanda aja, biasa”

Julehah mengambil teko air dari kompor lalu menuangkan sedikit ke gelas kopi. Menaruh kembali teko diatas kompor, lalu mematikan kompor.

JULEHAH
“Denger-denger kampung kita bakal dibangun jalan tol ya pak?”

JUNAEDI
“Ya mpok, itu masalah besar. Kalo sampe dibangun, habislah riwayat kampung kita. Bakal banyak yang kehilangan rumah sama tanah”

Julehah mengambil beberapa es batu, dimasukan ke dalam gelas, lalu mengaduk menggunakan sendok.

JULEHAH
“Wah ya itu pak, jangan sampai dibiarin, bahaya nanti kita. Jangan sampai kita tergusur dari tanah kelahiran kita sendiri”

Julehah memberikan segelas es kopi ke Junaedi. Lalu Junaedi meneguk sedikit demi sedikt minumannya.

JUNAEDI
“Makanya mpok, tadi di balaidesa, aku juga protes keras. Apalagi belum ada musyawarah sebelumnya. Tiba-tiba pak Lurah memutuskan secara sepihak pembangunan itu”

JULEHAH
(jengkel)
“Dasar tuh Lurah gendeng, emang wong edan, herannya kok dulu banyak yang milih dia. Dia itu kan...”

Tiba-tiba!

ADUL
“Stop!”

Adul datang dengan nafas berat dan keringatnya bercucuran.

ADUL
“Pesen es tehnya satu, mpok”

Julehah sedikit emosi.

JULEHAH
“Horok, dateng-dateng motong pembicaraan orang”

Adul lalu menoleh ke arah Junaedi sambil duduk di sebelahnya.

ADUL
“Maaf pak maaf”

JUNAEDI
“Ya ya ya, gak papa, gak papa. Tadi kesalahanku juga”

Julehah memberikan segelas es teh kepada Adul.

JULEHAH
“Lah iya tuh dasar Pak Lurah edan, kerasukan setan, suka seenaknya sendiri. Memutuskan keputusan kok secara sepihak, tak pake musyawarah dulu”

Junaedi mengernyitkan dahinya.

JUNAEDI
“Lah itu kan omonganku”

Julehah tersenyum merenges.

JULEHAH
“Lah gak papa to pak. Sebel aku tuh pak, heran saja aku ini. Kok bisa manusia yang satu itu kepilih jadi Pak Lurah. Udah tau gak bener, masih dipilih aja”

Adul dan Junaedi sibuk makan minum sambil mendengarkan Julehah.

JULEHAH Cont’D
“Eh ya juga ya, biasa kan kalo pas sebelum dipilih, pasti harus terlihat baik di mata orang, obral janji ini itu, jadinya warga juga milih dia. Kaya orang politik, sukanya pake cara kaya gitu. Ya gak pak Jun, mas Adul?”

Adul dan Junaedi makan gorengan sambil mengangguk-angguk.

JULEHAH Cont’D
“Tapi pas udah jadi, janji-janjinya sekedar janji. Omong kosong semua. Tak ada realisasinya. Duh kita sebagai rakyat miskin, dibodohi oleh orang-orang yang punya duit mulu ya. Bisa gak sih kalo dibalik, hehe. Yang kaya dibodohi sama yang miskin.”

Julehah mencoba berpikir sesuatu.

JULEHAH Cont’D
“Oh iya, kenyataannya ada juga orang miskin bodohin orang kaya?”

Adul dan Junaedi menghentikkan aktifitasnya. Lalu mereka serempak berkata.

ADUL & JUNAEDI
(mengernyitkan dahi)
“Apa tuh mpok?”

Julehah mengeluarkan gorengan lalu menaruh di piring yang hampir kosong karena banyak dimakan oleh Adul dan Junaedi.

JULEHAH
“Lah masa kalian gak tau?. Itu loh orang-orang yang suka minta-minta dipinggir jalan. Kadang mereka kan berpenampilan aneh-aneh. Ada yang pura-pura kakinya pincang, ada yang pura-pura buta”

Adul & Junaedi bilang, “Oooowwwhhh”

JULEHAH
“Ada juga tuh, kasus yang baru itu tiang listrik yang”

Adul dan Junaedi mendengarkan dengan seksama.

CUT TO

5. EXT. PERSIMPANGAN JALAN – SIANG
Cast : Feby, Boy, Pak RT

Feby dan Boy berjalan hingga mereka bingung harus kemana lagi mereka berjalan. Karena sampai di perempatan jalan.

FEBY
“Tadi katanya lurus mentok belok kiri. Lah ini gak ada mentoknya”

BOY
“Horok, kita udah ngelewatin perempatan jalan 3 kali tadi, jadi ini yang ke 4”

FEBY
“Duuh gimana nih”

Mereka berdua kebingungan hingga akhirnya mereka melihat orang mendekati mereka.


PAK RT
“Mau nyari apa ya adik-adik?”

Feby mencoba lebih mendekat dan mengatupkan kedua telapak tangan di depan sebagai tanda sopan santun.

FEBY
(senyum)
“Gini Pak, saya dan teman saya bermaksud ingin menemui Pak Lurah di rumahnya. Tapi kami sekarang kesasar. Apa bapak mau nemein kami?”

Pak RT mengernyitkan dahi dan mencuatkan kedua alisnya.

PAK RT
(menelisik)
“Perlu apa dek sama Pak Lurah?”

FEBY
“Saya sama teman saya ini diberi tugas kuliah membuat film dokumenter tentang kehidupan seorang petani pak”

PAK RT
“Kalo gitu lebih baik adik-adik bertemu Pak Junaedi saja. Beliau seorang petani sukses di kampung ini”

Feby dan Boy semakin antusias mendengarnya.

BOY
“Dimana kami bisa menemuinya pak? Kalo bisa secepatnya”

Pak RT berpikir sejenak lalu tersenyum.

PAK RT
“Mari ikut saya”

Kemudian mereka akan berjalan bersama tetapi Feby teringat akan sesuatu.

FEBY
“Oya, Boleh kenal bapak siapa?”

PAK RT
“Saya ketua RT disini”

FEBY
“Saya Feby, dan ini....”

Feby menunjuk Boy.


BOY
“Saya Boy, Pak RT”

PAK RT
“Mari dik Feby dan Boy, ikut saya”

Feby dan Boy mengangguk setuju kemudian mereka pergi meninggalkan tempat.

CUT TO

6. EXT/INT. WARUNG KOPI (HIK) – SIANG
Cast : Junaedi, Adul, Julehah, Pak RT, Feby, Boy

Junaedi kembali melahap pisang goreng lalu menyeruput es kopinya.

JUNAEDI
“Gimanapun juga, saya bakal di pihak warga. Saya akan mewakili suara warga buat melawan keputusan Pak Lurah yang secara sepihak akan membangun jalan tol tanpa mengajak kita berdiskusi”

Adul mendengar ketegasan Junaedi sepakat mengangguk setuju.

ADUL
“Saya juga setuju Pak, saya akan mendukungnya”

Junaedi heran mendengar omongan Adul.

JUNAEDI
“Kamu ini ngomong po? Kamu itu setuju apa dan mendukung apa??”

ADUL
“Ya anu pak pembangunan, (menutup mulut) eh, mendukung penentangan pembangunan jalan tol pak”

JUNAEDI
(senyum)
“Nah gitu dong jelas ngomongnya, good good”

Junaedi menepuk-nepuk pundak Adul. Lalu Adul tertawa sambil mengunyah tempe goreng.

ADUL
“Guk ... Guk ...”

Junaedi melototi Adul.

JUNAEDI
“Kamu bilang apa tadi?!”

Adul diam lalu dia mengambil smartphone dari celananya. Junaedi melihat itu sambil terpana.

JUNAEDI
“Wey, hape baru nih. Haha kamu ngapain beli hape mahal-mahal?”

Adul hanya tersenyum lalu mencoba berselfi. Dia melakukan pose duck face. Junaedi dan Julehah melongo melihat itu.

Tiba-tiba dari belakang mereka muncul Pak RT bersama Feby dan Boy.

PAK RT
“Wah pak Jun, Gak nyangka ketemu disini haha”

Junaedi menoleh ke belakang.

JUNAEDI
“Emangnya ada apa?”

PAK RT
“Tadi rencanya saya mau ke rumah Pak Jun. Ini mau nganterin anak kuliahan. Katanya mau ngeliput tentang petani di kampung kita”

JUNAEDI
“Oya, siapa?”

Feby dan Boy menghampiri dan menyalami Junaedi, Adul, dan Julehah.

FEBY
“Perkenalkan saya Feby”

BOY
“Saya Boy”

Adul mulai mencuri-curi pandang kepada Feby. Ada rasa jatuh cinta Adul kepada Feby. Julehah sadar akan hal itu, Julehah hanya tersenyum sambil memandangi Adul sesekali memandangi Feby.

FEBY
“Saya rencananya mau merekam aktifitas petani Pak. Dari awal sampai akhir yang berhubungan sama bertani”


JUNAEDI
“Oh gitu...”

Junaedi berpikir sambil menganggukkan kepalanya.

JUNAEDI
“Yasudah ke rumah saya saja. Nanti dibicarakan disana lebih detilnya”

FEBY & BOY
“Baik pak”

Junaedi mengeluarkan uang dan memberikannya kepada Julehah.

JUNAEDI
“Sisanya ambil aja”

Julehah menghitung uang yang diberikan Junaedi, lalu dia mengernyitkan dahinya.

JULEHAH
“Hooorok, sisa darimana pak, ini aja kurang seribu”

JUNAEDI
(tertawa)
“Hahaha, besok saya lunasin”

Junaedi memandang kedua anak kuliah itu lalu bergegas berjalan pergi.

JUNAEDI
“Ayo ikut saya”

Mereka bertiga berjalan meninggalkan tempat. Hanya Adul, Pak RT yang tidak ikut.

PAK RT
“Yasudah, saya juga mau pergi. Ada urusan pribadi”

Pak RT meninggalkan tempat lalu Adul kembali meminum es tehnya. Julehah tersenyum melihat Adul.

JULEHAH
“Hey Dul, kesempatan itu tidak datang dua kali loh”

ADUL
(heran)
“Maksud mpok?”

Adul melanjutkan minum segelas es teh nya.
JULEHAH
“Kamu suka cewek tadi kan?”

Adul menyemburkan air dari mulutnya ke arah samping.

ADUL
“Ngomong apa sih mpok?”

JULEHAH
“Jujur aja sih, gak usah malu. Udah sana, kamu ikut gabung ke rumah Pak Jun”

Adul berpikir sejenak lalu tersenyum menganggukkan kepala.

ADUL
(senyum)
“Oh gitu ya mpok, baiklah”

Adul akan bergegas pergi meninggalkan warung tetapi tangannya dipegang Julehah.

JULEHAH
“loh loh, bayar dulu”

ADUL
(tersipu malu)
“Oh iya mpok, aku lupa, ehehe”

Adul mengeluarkan uangnya lalu memberikannya kepada Julehah. Kemudian Adul berlari pergi menjauh.

JULEHAH
“Horok, baru disemangatin gitu aja langsung lupa bayar”

Julehah geleng-geleng kepala sambil membereskan sisa gelas minum.

CUT TO

7. INT.RUANG TAMU RUMAH JUNAEDI – SIANG/SORE
Cast : Junaedi, Mimin, Feby, Boy

Ruang tamu yang rapi dan bersih. Terdapat satu meja bundar. Empat buah kursi melingkari meja yang semuanya terbuat dari kayu jati. Junaedi, Feby, dan Boy duduk di kursi masing-masing.

Mimin (istri Junaedi) membawakan 4 gelas teh melati hangat di atas nampan, lalu menaruh satu per satu gelas ke atas meja tamu.
JUNAEDI
(senyum)
“Silahkan-silahkan diminum dulu”

Feby dan Boy sama-sama saling pandang memandang, lalu mengangguk setuju untuk mengambil masing-masing segelas teh hangat kemudian meminumnya.

Mimin duduk di kursi dekat Junaedi.

JUNAEDI Cont’D
“Baik,sekarang jelaskan lebih detilnya nak Feby dan Boy”

Boy membuka tas ranselnya lalu mengambil beberapa lembar kertas kemudian diserahkan kepada Junaedi.

BOY
“Itu rencana kita pak. Jadi nanti kita akan meliput merekam pake kamera kami selama Pak Jun beraktifitas bertani. Misalnya menanam benih padi, memupuk, menyiram dan lain-lain”

Junaedi membaca kertas pertama, lalu menjilat jari telunjuknya yang kemudian untuk membuka kertas kedua.

FEBY
“Jadi di kertas itu susunan kegiatan yang akan kami ambil gambarnya Pak Jun. Jadi semisal ada kegiatan yang keberatan kami rekam, mohon beritahu kami”

Junaedi membolak-balik kertas-kertas di tangannya lalu menyerahkannya kepada Mimin. Dia memandangi Feby dan Boy secara bergiliran.

JUNAEDI
“Baiklah, nanti saya baca lagi, dimana hal-hal yang privasi yang tidak boleh direkam dan yang terbuka yang boleh direkam”

Feby memandang Boy yang terlihat senang. Feby menoleh ke arah Junaedi.

FEBY
“Jadi, kapan kita bisa mulai merekam pak?”

JUNAEDI
“Besok Insya Allah bisa”

Tiba-tiba handphone di saku celana Junaedi berdering lalu diangkat panggilan telepon itu.

JUNAEDI
“Halo, ada apa?”

Ekspresi wajah Junaedi mulai terlihat kesal dan marah.

JUNAEDI
“Horoook, baiklah saya sekarang kesana”

Mimin menyipitkan kedua kelopak matanya.

MIMIN
“Ada apa pak?

JUNAEDI
“Si itu, udah mulai ngukur-ngukur tanah”

Junaedi memandang Feby dan Boy sambil senyum yang dipaksakan.

JUNAEDI
“Saya tinggal dulu ya nak Feby, nak Boy”

Junaedi pergi meinggalkan mereka berdua.

Boy penasaran melihat Junaedi pergi dengan terburu-buru.

BOY
“Bu, tuh Pak Junaedi mau kemana ya? Kok tergesa-gesa?”

Mimin berpindah kursi lebih mendekat ke Boy.

MIMIN
“Bapak mau liat orang-orangnya Pak Lurah yang lagi ngukur tanah di sawah. Rencananya mau dibikin jalan tol”

BOY
“Wah bagus dong bu”

Mimin mengernyitkan dahinya.

MIMIN
“Bagus apanya? Yang ada bakal banyak penggusuran rumah dan ladang sawah bakal menyempit. Lapangan pekerjaan kami bakal hilang”

Boy merasa bersalah. Lalu Feby memandangi Boy lalu memandang Mimin.

FEBY
“Maaf bu, kami tidak tahu kalo pembangunan jalan tol di kampung ini bakal berujung masalah”
MIMIN
“Tidak apa-apa”

Mimin merubah posisi duduknya.

MIMIN Cont’D
“Ini semua gara-gara keegoisan Pak Lurah. Ingin membuat jalan tol tapi tidak mengadakan musyawarah terlebih dahulu sama penduduk kampung”

Boy sedikit ragu, dia ingin memberikan pendapatnya.

BOY
“Bukannya projek pembangunan jalan tol itu memang diwajibkan pemerintah pusat?”

Mimin menyipitkan matanya. Dan Feby memberi tanda kecewaannya pada Boy.

FEBY
(berbisik)
“Boy, jangan kaya gitu”

Mimin menundukkan pandangannya.

MIMIN
“Jika pembangunan jalan tol itu bener-bener dibangun, sudah dipastikan tanah sawah, tanah warisan orangtua kami akan hilang. Padahal kami sudah berjanji untuk merawatnya hingga kami bisa mewariskan ke anak cucu kami”

Mimin mengusap airmatanya yang sedikit keluar.

Tiba-tiba terdengar suara tangisan kencang dari luar rumah. Semuanya melihat ke arah pintu keluar.

FEBY
“Siapa itu tadi bu?”

MIMIN
“Si Adul, dia orang aneh emang”

Mimin memandangi feby dan Boy secara bergantian.

MIMIN Cont’D
“Apalagi denger-denger Pak Lurah itu korupsi. Kemungkinan projek pembangunan jalan tol itu ada sogokan uangnya”

Mimin memandangi atap langit-langit rumah.


MIMIN Cont’D
“Ya Ya Ya, pantes aja Pak Lurah itu ngebet banget pengin segera terealisasikan”

BOY
(menelisik)
“Ada buktinya?”

Mimin memandang Boy lalu tersenyum.

MIMIN
“Hanya spekulasi, hehe”

Boy mengancing tasnya lalu menoleh ke arah Feby, kemudian menatap Mimin.

BOY
“Boleh gak bu, kami nyusul Pak Junaedi, sekarang?”

Feby menatap Boy, Boy menoleh ke Feby.

FEBY
(bisik)
“Mau ngapain?”

BOY
(bisik)
“udah,ikut aja sih”

Boy dan Feby berpamitan kepada Mimin.

BOY
“Boleh gak bu?”

Mimin berdiri dari tempat duduknya.

MIMIN
“Yaudah ayo, saya juga ingin nyusul bapak”

Mereka mengangguk setuju lalu mereka keluar rumah.

INTERCUT
Dibalik semak-semak Adul melihat Feby, Boy, dan Mimin pergi berjalan. Lalu Adul mengikuti mereka.

CUT TO
8. EXT. SAWAH – SORE
Cast : 2 PNS, Junaedi

Establish pemandangan sawah ladang yang menguning disiram cahaya senja orange.
Dua orang petugas atau PNS muda sedang mengukur tanah dengan menggunakan meteran secara terpisah dalam jarak 5 meter. Lalu satu orang menghampiri satunya lagi.

PNS 1
“Gimana, ukurannya udah pas?”

PNS 2 lalu menatap PNS 1 dengan mengusap wajahnya yang penuh keringat.

PNS 2
“Kurasa cukup, kira-kira satu bulan lagi kita bisa melaporkan hasil riset ke pemerintah pusat”

PNS 1
“Semoga berjalan dengan lancar”

PNS 2 menebarkan pandangannya ke arah kiri kanan keadaan sawah yang sedang menguning berlatar belakang matahari senja.

PNS 2
“Tapi, kamu inget gak sih? Dulu tempat ini adalah tempat bersejarah bagi kita”

PNS 1 menoleh ke arah PNS 2 dengan wajah penuh telisik.

PNS 1
“Emangnya disini peninggalan kerajaan apa? Ada candinya kah?”

PNS 2 menatap heran PNS 1.

PNS 2
(jengkel)
“Horook, bukan itu maksudku. Masa kamu lupa, dulu kita rame-rame sama anak-anak kampung lainnya main lumpur di sawah ini”

Tiba-tiba PNS 2 terkena lemparan lumpur di wajahnya dari PNS 1.

PNS 1
“Lagi?”

PNS 2 menoleh dengan tatapan tajam kepada PNS 1. Wajah PNS 1 nampak datar tanpa sedikit menunjukkan penyesalan.

PNS 2
(kesal)
“Horoook, kamu ini!!!”
PNS 2 mengambil segenggam lumpur lalu akan melemparkan kepada PNS 1, tapi tiba-tiba Junaedi datang.

JUNAEDI
(teriak)
“Woy ngapain kalian? Horook, kaya anak kecil aja”

PNS 2 menaruh lumpur dari genggaman tangannya. Lalu dia menunjuk PNS 1.

PNS 2
“Dia yang mulai pak, bukan aku”

JUNAEDI
“Buktinya kamu yang pegang lumpur tadi”

PNS 2
“Pak Jun ga liat ada lumpur di muka saya?. Mana mungkin saya melempar ke diri sendiri?”

Junaedi merasa kalah dalam berdebat. Lalu dia melihat alat meteran yang dibawah kedua PNS itu.

JUNAEDI
“Kalian sudah berani ya? Main ngukur-ngukur tanah tanpa bilang saya dulu”

PNS 1
“Maaf pak, kami disuruh Pak Lurah”

Junaedi semakin geram.

JUNAEDI
“Perlu diberi pelajaran tuh Pak Lurah”

PNS 1
“Gak perlu pak. Pak lurah kan lulusan sarjana, tidak butuh pelajaran dari pak Jun”

PNS 2 menginjak kaki PNS 1 dengan kencang.

PNS 2
“Maafin teman saya Pak”

Junaedi menghela nafas, lalu pergi meninggalkan kedua PNS.

Kemudian Feby, Boy, dan Mimin datang dengan sedikit tergesa-gesa.

Mimin menatap PNS 1 dan 2.
MIMIN
“Suamiku tadi kemana?”

PNS 1
“Ke rumah Pak Lurah kayaknya”

Dari balik pohon Adul mengamati Feby, Boy, Mimin, dan dua PNS.

OS MIMIN
“Ngapain kamu disitu Dul?”

Adul kaget Mimin mengetahui keberadaannya. Tak disangka ternyata pohon itu dekat dengan keberadaan Mimin.

ADUL
(tersipu malu)
“Hehe, ketahuan deh”

MIMIN
“Horook”

Mimin, Feby, Boy, 2 PNS geleng-geleng kepala.

CUT TO

9. INT. KAMAR TIDUR PAK LURAH – SORE
Cast : Pak Lurah, Bu Lurah, Junaedi

Kamar tidur yang rapi dengan kasur empuk ala kasur hotel. Terdapat meja rias dengan cermin besar.

Pak Lurah yang dalam keadaan berpakaian PNS rapi sedang bercermin sembari menyisir rambut kepala dan kumis dengan sisir merah miliknya.

PAK LURAH
“Bu, apa dua pegawaiku udah dateng?”

OS BU LURAH
“Belum ada pak”

PAK LURAH
“Horook, ngukur tanah aja pake lama. Gak becus kerja mereka”

Bu Lurah menghampiri Pak Lurah sambil memandangi dari kaki sampai ujung rambut Pak Lurah.

BU LURAH
“Ngapain rapi amat Pak? Kan udah sore”
Pak Lurah sibuk membetulkan kerah bajunya dan meluruskan lengan bajunya.

PAK LURAH
“Kharismatik seorang pegawai negara harus tetap terjaga Bu. Supaya kita tetap dihormati oleh warga. Apalagi ini bapak mau survey lokasi buat bikin laporan”

BU LURAH
“Bapak kan udah ngasih tugas ke pegawai bapak to?”

Pak Lurah memandang Bu Lurah melalu refleksi cermin.

PAK LURAH
“Iya Bu, tapi buktinya sampai sekarang aja mereka gak ngirim laporan apa-apa”

Tiba-tiba terdengar suara terikana Junaedi dari luar rumah.

OS JUNAEDI
“Woy Pak Lurah gendeng! Cepat keluar”

BU LURAH menggeleng-geleng kepala sambil menghela nafas.

BU LURAH
“Horook, Bener-bener gak berpendidikan”

CUT TO

10.         EXT. BERANDA RUMAH PAK LURAH
Cast : Junaedi, Pak Lurah, Bu Lurah

Junaedi mengambil beberapa ranting kecil lalu melemparkan ke pintu rumah.

JUNAEDI
“Woy, jangan ngumpet dalem rumah!”

Pak Lurah dan Bu Lurah keluar dengan wajah kesal.

PAK LURAH
“Hey hey apa-apaan ini?! Dateng-dateng marah”

BU LURAH
“Kok orang gak punya sopan santun sih?! Ketuk pintu dulu kek, salam dulu kek? Maen teriak aja”

Junaedi merasa kesal mendengar itu tetapi lalu dia tertawa.

JUNAEDI
(tertawa)
“Nah itu kalian tahu, kalo ke rumah orang tanpa salam itu gak sopan. Itu sama halnya kaya kalian mengukur sawah warga, maen pasang patok kayu,tanpa meminta ijin terlebih dahulu”

Pak Lurah dan Bu Lurah terdiam.

JUNAEDI Cont’D
“Aku heran sama kalian, terutama kamu Pak Lurah!”

Junaedi memandang tajam Pak Lurah.

JUNAEDI Cont’D
“Begitu ngebetnya pengin ngebangun jalan tol. Kenapa sih? Ada apa? Jangan-jangan anda dikasih sogokan dana segar? Jangan-jangan anda korupsi?”

Pak Lurah marah mendengar itu. Dia Melototi Junaedi.

PAK LURAH
“Kalo ngomong jangan asal njeplak aja Pak Jun! Mana buktinya saya korupsi? Jangan fitnah! Ini pure keinginan dari pemerintah pusat. Yang pengin ngebangun jalan tol melewati kampung kita”

JUNAEDI
“Halah! Pasti anda punya kepentingan pribadi kan?! Makanya berani tetap melanjutkan projek yang mayoritas ditentang sama wargamu sendiri”

Bu Lurah mulai agak jengkel lalu dia menghela nafas.

BU LURAH
“Menurut anda, anda memperjuangan tanah sawah dan rumah warga itu tidak ada kepentingannya? Anda yakin gak memiliki kepentingan menentang projek ini? Anda yakin?!

JUNAEDI
“Saya yakin, saya tidak memiliki kepentingan apapun. Saya berusaha melindungi tanah sawah dan rumah warga yang akan digusur oleh kalian”

BU LURAH
“Sekarang saya mau tanya, anda punya sawah kan? Sawah anda juga termasuk yang akan dibangun jalan tol kan?”

Junaedi terdiam membisu namun matanya sedikit melotot merah.

BU LURAH
“Anda kira anda tidak memiliki kepentingan? Yang pasti anda memiliki kepentingan pribadi juga. Anda membela sawah anda juga. Kemungkinan, saya yakin, seandainya sawah dan rumah anda tidak kena gusur, mungkin anda tidak terlalu vokal menentang projek ini”

Junaedi marah dan emosi mendengar itu.

JUNAEDI
(kesal)
“Ah! Kepentingan kalian jauh lebih jahat. Saya menduga kalian melakukan kejahatan korupsi. Saya akan cari buktinya dan akan saya bawa ke meja pengadilan!”

Pak Lurah mengusap-usap kumisnya yang lebat.

PAK LURAH
“Mmh siapa takut. Mari kita buktikan di pengadilan minggu depan!”

Junaedi lalu pergi dengan sedikit kesal. Pak dan Bu Lurah hanya memandanginya.

DISSOLVE

11.         ESTABLISH MASJID BERLATAR BELAKANG LANGIT SENJA

Terdengar suara adzan magrib

DISSOLVE

12.         EXT. BERANDA RUMAH JUNAEDI – MAGRIB/MALAM
Cast : Junaedi, Mimin

Junaedi membuka gerbang rumah lalu menatap Mimin yang menunggu di depan pintu.

JUNAEDI
“Dua mahasiswa tadi kemana?”

MIMIN
“Sudah pulang pak. Besok pagi katanya mau kesini lagi”

Mimin lalu menatap tajam Junaedi.
MIMIN Cont’D
“Tadi ngapain di rumah Pak Lurah?”

JUNAEDI
“Nanti bapak jelasin. Sekarang, ayo kita sholat dulu”

Mereka berjalan masuk ke dalam rumah.

FADE OUT

FADE IN

13.         ESTABLISH PEMANDANGAN SAWAH

Pemandangan alam dan Sawah yang berlatar belakang langit fajar. Matahari yang sedikit muncul dengan sinar kuning/orange menyinari padi yang sudah menguning juga. Beberapa embun menempel di daun-daun padi, lalu beberapa diantaranya meneteskan air jatuh ke tanah.

DISSOLVE

14.         EXT. SAWAH – PAGI
Cast : Junaedi

Junaedi menebar pandangannya mengelilingi hamparan sawah. Dia lalu menghirup nafas dan menghembuskannya secara pelan.

JUNAEDI
“Tidak terbayang seandainya sawah ini berubah menjadi jalan tol. Betapa malunya aku kepada almarhum bapak”

Dia menundu lesu kepalanya lalu memejamkan mata.

FLASHBACK TO

15.         EXT. SAWAH – PAGI
Cast : Junaedi kecil, Ayah Junaedi

Ayah Junaedi berpakaian ala petani kampung serta memakai caping. Dia menyilangkan kedua tangannya di punggungnya. Ayah Junaedi sedang memandangi padi yang sudah menguning di hadapannya. Sinar matahari fajar sedikit menyilaukan matanya.

Dari belakang Junaedi kecil polos berlari mendekat.

JUNAEDI KECIL
“Bapak-bapak”

Ayah Junaedi melepas silang tangan lalu menghadapkan tubuh dan pandangannya ke Junaedi kecil.

AYAH
“Eh anakku”

Ayah Junaedi menurunkan lutut kaki kanan ke tanah dan menekuk kaki kiri sehingga matanya dengan mata anaknya sejajar. Dia mengusap-usap rambut Junaedi kecil dengan amat senang.

AYAH JUNAEDI
“Ada apa anakku?”

Wajah polos Junaedi kecil menatap ayahnya penuh riang gembira.

JUNAEDI KECIL
“Pak, bolehkah aku mencicipi sesuatu?”

AYAH
(senyum)
“Apa itu anakku?”

JUNAEDI KECIL
(polos)
“Mencicipi air liur”

Ayah Junaedi mengangkat kedua alisnya dengan wajah penuh keheranan. Lalu dia mengangguk pelan sedikit ragu.

AYAH
“Ba,baiklah”

Junaedi kecil mengecap-ecap mulutnya lalu menjilat bibirnya sendiri berulang kali. Dan Ayah Junaedi membuka mulutnya sambil menampakkan muka keheranan.

JUNAEDI KECIL
“Boleh aku mencicipi yang lain lagi?”

AYAH JUNAEDI
“Apa itu anakku?”

JUNAEDI
“Lendir hidungku pak”

Ayah Junaedi naik pitam, matanya melotot dan ingin menampar. Junaedi kecil ketakutan.

AYAH
“Jangan, dasar anak bod...”

Dia tidak jadi menampar anaknya, lalu emosinya menurun.

AYAH
“Gak boleh anakku, itu jorokm jangan ngelakuin itu. Lebih enak ngemut su... eh minum susu”

Junaedi kecil mulai tersenyum kembali.

JUNAEDI
“Baik ayah”

Ayah Junaedi lalu melihat sawah / padi berpikir sejenak lalu menatap anaknya. Kemudian kedua tangannya masing-masing memegang kedua bahu / lengan anaknya.

AYAH
“Nak, bapak ingin kasih tahu sesuatu yang amat penting”

JUNAEDI KECIL
“Apa tuh pak?”

AYAH
“Rawatlah sawah kita, jangan dijual, dan wariskan ke anak cucu”

JUNAEDI
“Baik pak”

AYAH
“Sayangilah sawah kita jangan sampai berpindah tangan. Apa kamu sanggup berjanji?”

Junaedi kecil menganggukan kepalanya.

AYAH Cont’D
“Coba ucapkan janjimu nak”

JUNAEDI KECIL
“Aku berjanji akan merawat nisa, tidak akan menjualnya, dan akan mewarisi ke anak cucu”

Ayah Junaedi kaget dan marah.
AYAH
“Apa-apaan kamu??”

JUNAEDI KECIL
“Saya sayang nisa juga pak, anaknya Pak RW kampung sebelah”

Ayah Junaedi menghirup nafas lalu menghembuskannya.

AYAH
“Ya tapi maksud bapak, kamu janji sayangi sawah kita bukan nisa. Cepat ucapin janji sekarang”

JUNAEDI
“Saya berjanji seperti apa yang dikatakan bapak tadi”

Ayah Junaedi marah tetapi dia menahannya.

AYAH
“Yasudah yasudah, udah sana pulang ke rumah. Suruh ibumu masak air...”

JUNAEDI POLOS
“...biar mateng”

Ayah Junaedi agak kesel.

AYAH
(ketus)
“Sana sana sana”

Junaedi kecil berlari riang meninggalkan ayahnya.

CUT BACK TO

16.         EXT. SAWAH – PAGI
Cast : Junaedi

Junaedi memandangi sawah ladang.

JUNAEDI
“Iya, kusudah berjanji. Harus kutepati”

Dia kemudian berpikir sejenak sambil mengelus-elus dagunya.

JUNAEDI
“Tapi, ngomong-ngomong gimana kabarnya si nisa ya?. Kenapa malah aku nikah sama mimin ya? Haha.. jadi kangen dia, duh”
Disaat itu juga terdengar suara memanggil dari belakang.

OS FEBY & BOY
“Pak Jun, Selamat Pagi

Junaedi membalikkan badannya ke sumber suara. Dia melihat Feby dan Boy yang masing-masing membawa tas punggung.

JUNAEDI
“Eh nak Feby, nak Boy”

Feby dan Boy menyalami dan mencium tangan Junaedi setelah itu saling menatap penuh senyuman.

BOY
“Gimana pak? Boleh saya rekam sekarang juga?”

JUNAEDI
“Baiklah”

Feby dan Boy mengeluarkan kamera DSLR di tas mereka masing-masing. Mereka memasang Mic eksternal masing-masing.

BOY
“Inget, setingannya samain, FULL HD 1080p sama 25 Fps”

FEBY
“Oke”
Mereka menyetting kamera milik masing-masing.

BOY
“Dan shutter speednya minimal 50 detik. Tapi kalo nanti kita banyak gerak, usahain 125 detik. Biar gerakannya tidak ngeblur”

Junaedi memandangi Boy dan Feby dengan tatapan kebingungan karena tidak mengerti apa yang dua mahasiswa itu obrolkan.

BOY
“Oya, bukaan lensa atau diafragma nya nyesuain angle. Kalo pas mau ambil wide shot, pake bukaan 8 biar semua jelas, gak ngeblur dibagian belakang objek gambar. Kalo medium shot atau close up coba pake bukaan 5.6. Dan kalo kamu pengin dapetin awan di langit, bukaannya 11”

Feby mengangguk setuju.

BOY
“Pokok usahakan meteran exposurenya berada di tengah. Jangan terlalu over atau low exposure. Biar nanti diedit, gambarnya gak jumping warnanya”

Mereka lalu menatap Junaedi.

FEBY
“Ayo pak, kita sudah siap”

JUNAEDI
“Baik”

Junaedi lalu melakukan aktifitanya bertani. Feby dan Boy merekam segala kegiatan Junaedi.

Tapi Junaedi berhenti dari aktifitasnya lalu dia memandangi ke seberang kirinya. Dilihatnya Pak Lurah dan dua pns sedang mengobrol di tengah tegalan sawah.

JUNAEDI
“Lagi-lagi”

Junaedi menghampiri Pak Lurah dan Feby serta Boy mengikuti.

BOY
“Tetap rekam apapun yang terjadi. Kamu ambil gambar Pak Junaedi, aku ambil pak Lurah”

FEBY
“Oke”

Junaedi dengan wajah geramnnya meneriaki Pak Lurah.

JUNAEDI
“Anda ini benar-benar nyari masalah ya?”

PAK LURAH
“Saya nyari lahan bukan nyari mas salah”

Lalu Pak Lurah menoleh ke 2 pns sambil berbicara berbisik.

PAK LURAH ContD
“Emangnya ada warga kita yang namanya Mas Saleh?”


PNS 1 & 2
“Tidak ada pak”

Junaedi menatap Pak Lurah lalu menatap 2 PNS secara bergantian.

JUNAEDI
“Kalian ini!”

Pak Lurah ikut geram melihat tingkah Junaedi.

PAK LURAH
“Anda ini kenapa sih? Yang sedang kami survey ini juga bukan tanah dan sawah anda. Kenapa anda marah?”

JUNAEDI
“Anda tidak meminta ijin sama Pak Edi pemilik tanah itu”

PAK LURAH
“Hoorrok!”

Pak Lurah menatap 2 PNS nya.

PAK LURAH
“Ambilkan surat persetujuannya Pak Edi”

PNS 2 mengeluarkan surat tersebut dari tas nya lalu menyerahkannya kepada Lurah.

PAK LURAH
“Ini anda baca”

Lurah menyerahkan surat itu kepada Junaedi lalu Junaedi membacanya. Junaedi sedikit agak malu membaca itu lalu melihat kammera dari FEBY yang tetap merekamnya. Kemudian dia menatap Pak Lurah dan menyerahkan surat itu.

JUNAEDI
“Aku yakin, Pak Edi tidak punya niat menjual tanahnya. Kalian pasti sudah membujuknya secara licik”

Tiba-tiba Junaedi terkena lemparan lumpur di dadanya. Dia langsung mengarahkan pandangannya ke 2 PNS.

PNS 2
(takut)
“Bukan aku pak bukan aku”

PNS 2 yang mengibas-ibaskan tangannya tanda menolak dituduh lalu menunjukkan tangannya ke arah PNS 1.

PNS 2 Cont’D
“Dia pak”

Junaedi lalu mengambil lumpur di bawahnya lalu melemparkannya ke PNS 1. Tetapi Cipratannya mengenai wajah Pak Lurah. Akhirnya Pak Lurah ikut mengambil lumpur lalu melemparkannya ke Junaedi. Begitu juga dengan PNS 2 juga ikut-ikutan.

Feby dan Boy melihat kejadian itu dengan terheran-heran.

BOY
“Hoorook, bener-bener kekanak-kanakan”

Boy Menatap Feby.

BOY
“Tetap rekam”

FEBY
“Baik”

Junaedi, Pak Lurah, 2 PNS, lama kelamaan mereka menikmati lempar-lemparan lumpur itu sambil senyum tertawa bahagia.

JUNAEDI
“Ingat tidak Pak, dulu kita sering melakukan ini”
Junaedi mengajak obrol Lurah sambil melemparkan lumpur ke Lurah lalu Lurah pun membalasnya.

PAK LURAH
“Iya ya, masa-masa paling indah, saat kita kecil. Anak jaman Now, mana mungkin ngerasain kaya gini”

PNS 1 dan 2 juga ikut saling serang lumpur.

PNS 1
“Walaupun kita masih muda dan termasuk anak jaman now, pada kenyataannya kami suka begini”

PNS 2
(tertawa)
“Iya bener pak, kami menikmati ini”

Mereka nampak asik melakukan permainan lempar-lemparan lumpur sampai wajah dan badan mereka hampir tertutup lumpur.

Junaedi lama-lama menyadari ada yang salah lalu berhenti.

JUNAEDI
“Tunggu-tunggu, kita ini ngapain sih?! Horrook!”

PNS 1 dan 2 yang awalnya berguling-guling di lumpur langsung berdiri. Semuanya berhenti melempar lumpur.

Lurah lalu merapikan pakaiannya dan mengibas-ibaskan lumpur. Dan membersihkan lumpur yang menempel di kumisnya.

LURAH
“Urus saja dirimu. Jangan campuri urusan kami Pak Jun. Dan oya, saya tidak akan menggusur dan memakai tanah sawah milik anda untuk pembangunan jalan tol. Karena rencananya jalan tol akan melewati sawah Pak Edi. Jadi jangan ganggu kami”

Junaedi terdiam seribu bahasa. Dia tidak dapat memberi pendapatnya lagi.

Boy yang melihat itu semua lalu berbisik kepada Feby.

BOY
“Aku pikir, justru Pak Jun yang lebih egois daripada Pak lurah”

Feby berpikir sejenak dan hanya memandangi Junaedi melalui display monitor kameranya.

Junaedi mengambil lumpur yang berada di atas kepalanya lalu mengibasnya dengan keras.

JUNAEDI
“Persidangan minggu depan tetap berlanjut!. Saya yakin anda melakukan tindakan korupsi!”

Junaedi lalu pergi meninggalkan tempat.

Feby dan Boy bingug karena ditinggal begitu saja.

BOY
“Horok. Ya malah pergi gitu aja”

Feby dan Boy mematikan kameranya masing-masing.

FEBY
“Kita ke warung mpok Julehah aja yuk. Aku laper juga, pengin makan”

Lurah memandangi dua mahasiswa itu.

LURAH
“Kalian ini tidak sopan ya? Merekam seorang Lurah tidak meminta ijin”

FEBY
“Maaf pak, kami tidak bermaksud”

LURAH
(kesa)
“Cepat hapus yang tadi”

Boy menoleh kearah Feby lalu menariknya untuk lari.

BOY
“Ayo cepetan!”

FEBY
“Hey kita gak sopan tau!”

BOY
“Peduli amat”

Boy dan Feby melarikan diri tinggal Lurah dan kedua PNS di tempat.

LURAH
“Horrook...”

Lalu Lurah menoleh ke arah dua pns yang terlihat akan kabur.

LURAH Cont’D
“Woy! Kalian mau ikut-ikutan kabur?”

2 Pns membatalkan rencana mereka sambil senyum malu lalu geleng-geleng kepala.

2 PNS
“Ndak pak, hehe”

Lurah geleng-geleng kepala dengan ketusnya.


LURAH
“Horok”

CUT TO

17.         EXT/INT. WARUNG KOPI (HIK) – PAGI
Cast : Mimin, Julehah, Feby, Boy

Mimin sibuk mengambil beberapa gorengan di atas meja warung lalu memasukkannya ke kantong plastik.

MIMIN
“Ini berapaan mpok?”

JULEHAH
“Yang pisang goreng 1500an, yang tempe tahu 1000an”

Julehah lalu berpikir sejenak.

JULEHAH Cont’D
“Oh ya bu Mimin. Gimana, sawahmu jadi ikut ke gusur sama Pak Lurah gak?”

MIMIN
“Gak tau mpok, belum ada kabar”

JULEHAH
“Kemaren suamimu bener-bener marah sama Pak Lurah”

MIMIN
“Aku sih setuju aja, kan Pak Lurah kita juga terlalu arogan. Ada projek apa-apa gak pernah warganya diajak musyawarah”

Julehah sambil membereskan piring-piring yang berserakan di atas meja.

JULEHAH
“Aku nyesel milih dia jadi lurah dulu”

MIMIN
“Owalah mpok, kamu milih dia?”

JULEHAH
“Iya i, lah bu Mimin gak mili dia ya? Syukurlah”

MIMIN
(senyum)
“Aku juga milih dia kok”

Julehah menghentikan aktifitasnya.
JULEHAH
“Lah, bukannya waktu pemilihan lurah, Pak Jun tim sukses kandidat lain ya? Kok ibu milih Lurah kita sekarang”

Mimin mengikat kantong plastiknya dengan sedikit kesusahan karena banyak minyak.

MIMIN
“Ya abisnya gak tega sama mantan, ups”

Mimin menutup mulutnya lalu malu.

JULEHAH
“Wah wah, gosip baru ini. Ternyata Pak Lurah dulu mantan pacarmu to bu Min?”

Mimin menganggukan kepalanya sambil malu.

JULEHAH
“Pantesan dari dulu kebijakan yang diambil Pak Lurah, pasti Pak Jun menolak dengan keras. Kemungkinan Pak Jun cemburu kali ya”

MIMIN
“Ya tapi sekarang aku sudah tidak ada rasa lagi. Pak Junaedi yang sekarang ada di hatiku. Ga ada tempat selain dia”

JULEHAH
“Cieee.. “

Kemudian Boy dan Feby datang ke warung.

MIMIN
“Lah kok kalian kesini? Bukannya kalian janji ketemu Pak Jun di sawah?”

FEBY
“Anu bu, Pak Jun pergi, tidak tahu kemana”

MIMIN
“Kok bisa?”

BOY
“Tadi abis main lumpur bu”

Feby memandang Boy dengan memberi isyarat untuk menutup mulut.


FEBY
“Tadi Pak Jun kecipratan lumpur pas lagi nyangkul tegalan sawah. Mungkin beliau pulang ke rumah buat mandi”

MIMIN
“Wah, ya kah? Aku harus buru-buru pulang, aku belum nyiapin kopi”

Mimin mengeluarkan dompet lalu membayar beberapa lembar uang ke Julehah. Kemudian dia pergi meninggalkan tempat.

CUT TO

18.         INT. RUANG TAMU RUMAH JUNAEDI – SIANG
Cast : Junaedi, Mimin, Feby, Boy, Adul

Junaedi sudah berganti pakaian kasual dan duduk di kursi tamu. Dia mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.

JUNAEDI
“Horok tuh Lurah sialan, selalu menang selangkah. Tapi dia tetep kalah. Nyatanya Mimin ada didekapanku, hahaha”

Junaedi tertawa keras sambil mulutnya terbuka lebar. Tak disangka seekor lalat masuk ke dalam mulutnya. Dia kelabakan tak menentu hingga handuknya melingkar seakan terlihat melilit lehernya. Mulutnya dibuka lebar-lebar untuk mengeluarkan lalat yang masuk sambil tangan dan kakinya bergerak kesana kemari.

Akhirnya Mimin pulang ke rumah. Dia kaget melihat keadaan Junaedi.

MIMIN
“Astagfirullah”

Mimin menghampiri Junaedi lalu menarik handuk di leher Junaedi kemudian memeluk Junaedi.

MIMIN
(menangis)
“Sabar pak, mbok ya yang sabar, jangan kaya gitu. Emang kalo gak ada solusi, yasudah gak apa-apa. Jangan bunuh diri. Nanti kalo kita punya uang, kita juga bisa beli sawah lagi”

Junaedi melepaskan pelukan Mimin.
JUNAEDI
“Hus hus, siapa juga yang mau bunuh diri. Tadi ini ada lalat masuk ke mulut, niatku mau ngeluarin eh malah gak bisa”

Mimin merubah posisi duduknya.

MIMIN
“Gimana tadi, kok pulang duluan? Kok dua mahasiswa tadi ditinggalin gitu aja?”

JUNAEDI
Eh anu, gini.  Pak Lurah makin gila dia. Dia udah bujuk Pak Edi tanda tanganin surat perjanjian sawahnya dibangun jalan tol”

MIMIN
(penuh telisik)
“Tanahnya dibeli berapa?”

JUNAEDI
“Gak tau, tapi gak mungkin Pak Edi begitu saja mau. Yang jelas Pak lurah pasti mbujuk dengan cara pemaksaan. Hal ini tidak bisa dibiarin. Kita harus bertindak, sebelum sawah kita kena penggusuran juga. Aku yakin Pak Lurah melakukan tindak korupsi, aku yakin itu”

Tiba-tiba Feby dan Boy memberi salam lalu masuk ke dalam ruang tamu.

FEBY
“Akan kami bantu untuk mencari bukti Pak Lurah melakukan kecurangan Pak”

Junaedi mendengar itu langsung senang.

BOY
“Tadi kami dikasih tau cerita lengkapnya dari Mpok Julehah dan kami tadi juga dengar sedikit dari obrolannya Pak Jun sama Bu Mimin. Kami siap membantu kalo begitu”

JUNAEDI
“Wah iyakah, gimana caranya?”

FEBY
“Nanti kami akan merekam secara sembunyi-sembunyi kegiatan mencurigakan dari Pak Lurah. Hasil rekaman itu sebagai bahan bukti nantinya”

BOY
“Tapi butuh didampingi satu warga sini Pak. Biar kalo ada apa-apa, ada yang bisa bantu jelasin. Soalnya nanti kita ngumpet-ngumpet. Kan bisa ketuduh maling pak, haha”

Tiba-tiba Adul datang masuk ke ruang tamu.

ADUL
“Aku aja yang dampingin”

JUNAEDI
(tertawa)
“Nah pas, yaudah mas Adul aja”

Boy merasa agak kecewa karena Adul yang dipilih mendampinginya. Tetapi Adul senang lalu memandangi Feby.


DISSOLVE

19.         MONTAGE

EXT. DEPAN RUMAH LURAH – MALAM
Cast : Lurah, Feby, Boy, Adul

Feby, Boy, Adul bersembunyi dibalik semak depan rumah Lurah dengan memegang kamera masing-masing. Lalu mereka melihat Lurah keluar dari rumah membawa plastik hitam besar sambil menoleh kiri kanan dengan sangat mencurigakan dan dia menghilang di kegelapan. Mereka merekam aktifitas itu.

INSERT : Adul lebih banyak memandangi Feby. Dan Boy menyadari akan hal itu.

DISSOLVE

EXT. BELAKANG RUMAH LURAH – PAGI
Cast : Feby, Boy, Lurah, Adul

Feby, Boy, Adul melihat lurah itu ke keluar rumah lalu pergi ke suatu tempat dan hilang disemak-semak. Mereka merekam aktifitas mencurigakan Lurah itu.

INSERT : Boy semakin menyadari Adul memandangi terus menerus Feby.

DISSOLVE

EXT. DEPAN RUMAH LURAH – SIANG
Cast : Feby, Boy, Lurah, Adul, Orang misterius

Feby, Boy, Adul yang bersembunyi di balik semak-semak siap dengan kamera masing-masing. Mereka melihat seseorang masuk ke dalam rumah Lurah. Lalu beberapa menit kemudian Orang itu dan Lurah keluar bersama. Terdengar Lurah mengucapkan, “Nanti ketemu disawah aja sore ini” kepada orang misterius itu. Lalu orang itu pergi dan Lurah masuk ke dalam rumah.

INSERT : Adul memandangi Feby, lalu Feby menyadari itu. Feby berbalik menatap Adul, lalu Adul salah tingkah malu. Boy sedikit kesal sambil mengepalkan genggaman tangannya.

DISSOLVE

20.         EXT. SAWAH KAMPUNG HOROK – SORE
Cast : Feby, Boy, Adul

Feby, Boy, Adul duduk menunggu kedatangan Lurah dan Orang misterius itu gubuk tengah sawah.

Feby sibuk melihat isi folder kameranya, Adul terus memandangi Feby sambil tersenyum. Boy semakin lama semakin jengkel. Lalu Boy mendorong Adul hingga jatuh tersungkur.

BOY
“Apa-apan sih kamu ini?”

Feby segera menghentikan aktifitasnya dan menampakkan wajah keheranan kepada Boy.

FEBY
“Horoook, kamu yang apa-apan Boy. Gak ada angin gak ada hujan, main labrak mas Adul”

Feby menolong membangunkan Adul. Lalu Adul menatap Boy dengan heran.

ADUL
“Apa salahku?”

BOY
(kesal)
“Apa katamu?! Apa salahmu?! Harusnya kamu sadar diri! Kamu ini siapa? Berani-beraninya ngeliatin Feby mulu! Pake senyum-senyum segala!”

ADUL
“Lah emang kenapa? Hak-hakku kok”

BOY
“Horok, pengin kutampol ya hah?!”

Boy akan menampar Adul tapi dihalangi Feby.

FEBY
“Apa-apaan si kamu. Kaya gitu aja dipermasalahin”

BOY
“Tau gak, tuh Adul suka sama kamu tau”

Feby memandangi Adul yang salah tingkah.

FEBY
“Kamu suka aku ya mas?”

Sedikit malu Adul menatap Feby.

ADUL
(senyum)
“I,i,iya”

FEBY
“Oh, makasih ya mas, udah suka sama aku”

ADUL
“Kamu suka aku gak?”

FEBY
“Ya mas, suka kok”

Adul girang mendengar itu lalu sujud syukur lalu bangun menatap Feby.

ADUL
“Kapan kuajak kamu kenalan sama ibu bapakku?”

Feby sedikit bingung mendengar itu. Dan Boy heran dengan mengernyitkan dahinya.

FEBY
(tertawa kecil)
“Oh ahahahaha, bukan gitu mas. Maksudku aku suka mas bukan karena cinta. Tapi aku suka mas yang lucu, masnya asik buat diajak ngobrol, gitu-gitu mas”

Adul kaget mendengar penjelasan itu dan Boy tertawa riang.
ADUL
“Jadi, kamu bukan suka ? jatuh cinta sama aku?”

FEBY
(tertawa kecil)
“Hahaha, ya gak lah mas”

Adul menundukkan kepalanya, lalu dia berjalan pergi menjauh dengan masih menundukkan kepalanya.

Feby merasa bersalah dan Boy malah tertawa riang.

FEBY
“Mas kok pergi?”

BOY
“Woy! Galau ya haha. Makanya sadar diri, dasar horook”

Feby memandang sinis Boy.

FEBY
“Apaan sih kamu itu? Bukannya bantuin biar mas Adul gak marah, tapi malah kamu manas-manasin”

BOY
“Oke, oke, tapi kamu yakin kamu mau dikejar-kejar orang kaya Adul itu?”

Feby terdiam sejenak lalu berpikir.

FEBY
“yasudah, lupain itu, sekarang kita fokus tugas kita”

Boy menganggukan kepala sambil tersenyum.

FEBY Cont’D
“Eh kamu ngerasa gak sih, kalo Pak Lurah itu keliatannya gak melakukan aktifitas yang menuju kasus tindak korupsi”

BOY
“Lah iya, makanya kemaren kubilang, justru lebih egois Pak Jun timbang lurah. Tapi yang kemaren-kemaren itu cukup misterius juga loh. Kita juga gak tau Pak Lurah ngapain aja kemaren keluar rumah sambil nunduk-nunduk. Kan cukup mencurigakan”

FEBY
“Ya juga sih”
Mereka cukup lama menunggu kedatangan Lurah dan orang misterius itu hingga hampir petang.

FEBY
“Ayo kita pulang”

BOY
“Ya, bentar lagi kali, sabar dulu tunggu”

FEBY
“Mau nunggu sampe kapan i? Aku ada janji abis magrib sama temen”

Boy menyanggah dagunya lalu berpikir sejenak.

BOY
“Yaudah kamu pulang bawa motorku aja, tar aku pulang pake OJOL”

Feby sedikit berpikir lalu mengangguk setuju.

FEBY
“Yaudah, aku pulang duluan ya”

Feby pergi meninggalkan tempat dan hanyalah Boy sendirian.

Boy lalu mengeluarkan kameranya lalu mensetting. Tapi dia merasa ada tiupan angin berhembus di daun telinga kanannya. Dia dengan ketakutan menoleh ke belakang.

FEBY
“Doorrr!”

Feby mengagetkan Boy dari belakang sambil tertawa.

BOY
“Horook, asem kamu Feb”

Boy menghela nafas lalu mengelus-elus dadanya.

BOY Cont’D
“kenapa balik lagi?”

FEBY
“Lah kunci motornya mana?”

BOY
(tertawa)
“Oh iya, nih”
Boy mengambil kunci di kantongnya lalu memberikannya ke Feby. Lalu Feby senyum lalu meninggalkan Boy sendirian.

FADE OUT

FADE IN

21.         EXT. BALAIDESA – PAGI
Cast : Junaedi, Lurah, Mimin, Bu Lurah, Pak RT, Adul, 2 PNS, Feby, Boy, Warga.

Semua warga telah berkumpul di persidangan yang diadakan di depan balaidesa. Beberapa meja dan kursi disusun rapi menyerupai tempat persidangan nyata.

Boy melihat pemandangan itu agak terheran-heran.

BOY
“Kirain sidangnya di tempat persidangan asli. Eh malah di depan balaidesa, diset kaya sidang beneran”

Boy tertawa lepas, Feby melihat itu langsung menginjak kaki Boy lalu Boy kesakitan.

Ketua RT menjadi hakim duduk di kursi yang ada meja panjang. Di sisi kanan, kursi dan meja penuntut umum yang diisi oleh Junaedi dan Adul. Di sisi sebelah kiri, kursi dan meja pembela atau pengacara yang diisi oleh 2 PNS.

RT/HAKIM
“Ya sidang dimulai”

RT mengetukkan palu bangunan ke meja, lalu meja itu agak goyang.

Kemudian Lurah datang dan duduk di kursi paling tengah menghadap Hakim / RT.

HAKIM/RT
“Apakah nama anda Pak Lurah?”

LURAH
“Ya”

HAKIM/RT
“Apakah Pak Lurah pekerjaanya menjadi Lurah?”

LURAH
“Ya”
Boy semakin tidak bisa menahan tawanya melihat hal itu. Tapi Feby menutup mulut Boy agar tidak terdengar suara tertawa Boy.

HAKIM/RT
“Apakah anda...”

Lurah langsung berdiri lalu sedikit berteriak.

LURAH
“Ah sudahlah! Basa basinya. Langsung ke intinya saja”

Lurah Menoleh dan menatap ke arah Junaedi.

LURAH Cont’D
“Tunjukin buktinya kalo emang aku melakukan korupsi?”

Junaedi bangkit dari duduknya lalu menatap Feby dan Boy.

JUNAEDI
“Nak, keluarkan hasil rekamannya”

FEBY
“Baik Pak”

Feby mengambil flashdisk dari tasnya, lalu menghampiri Junaedi kemudian menyerahkannya.

Junaedi bingung benda apa yang dipegangnya. Melihat itu Lurah tertawa.

LURAH
“Horook, dari dulu masih gaptek aja”

Lurah menoleh ke PNS nya.

LURAH Cont’D
“Ambilkan laptop di dalem kantor”

PNS 1 langsung lari ke dalam kantor lalu keluar menyerahkan tengtop perempuan.

LURAH Cont’D
“Beg... horook kamu ini, laptop! Bukan itu”

PNS 1 langsung masuk ke dalam kantor lalu keluar menyerahkan laptop.

Lurah menaruh laptop di atas meja hakim.

LURAH
“Pak Jun, coba masukan flashdisknya”

Junaedi menghampiri laptop, lalu berusaha memasukkan. Tetapi dia bingung.

Lurah lama-lama kesal lalu merebut flashdisk dari tangan Junaedi kemudian menancapkan ke port laptop. File video dari flashdisk diputar, lalu muncul audio video.

Semuanya kaget karena video itu menampilkan si Boy sedang menggoda beberapa perempuan di kampung dengan omongan cabulnya.

Si Boy merasa malu lalu perlahan demi perlahan lari meninggalkan tempat. Feby tidak berbuat banyak, dia masih bingung dengan kejadian itu.

Lurah semakin tertawa terbahak-bahak beserta jajarannya.

Junaedi semakin bingung, kenapa malah yang muncul video itu. Lalu dia menatap Feby dengan kesal.

JUNAEDI
“Kamu main-main sama saya ya?”

Feby ketakutan dengan menggenggam tangannya erat-erat.

FEBY
“Saya gak tau pak, bukan saya yang ngelakuin itu. Jujur saya gak bohong. Sebelumnya di flashdisk itu isinya rekaman aktifitasnya Pak Lurah”

Tiba-tiba, Adul langsung berdiri kemudian menghampiri Junaedi.

ADUL
“Jangan salahkan dia Pak Jun...karena...”

Kemudian mobil penjual tahu bulat lewat depan jalan sambil mengeluarkan bunyi speaker.

SPEAKER MOBIL
“Ini bukan tahu bulat, ini sateeee, ini bukan tahu bulat, ini sateeee!”

Semua orang yang hadir memandangi dan mengikuti pergerakan mobil itu. Setelah mobil itu pergi jauh. Semua mata terfokus ke Adul.

ADUL
“karena...”

Terdengar suara petir menyambar. Ternyata PNS 1 menyalakan musik hapenya yang berbunyi petir. Semua mata memandanginya, PNS 1 malu, lalu semua mata memandangi Adul lagi.

ADUL Cont’D
“Karena aku lah yang mengganti video di flashdisk itu”

Mobil penjual tahu bulat lewat lagi. Lalu semua warga langsung melemparinya dengan sandal masing-masing. Mobil itu langsung melaju cepat.

Kembali semua mata memandangi Adul dan Junaedi.

JUNAEDI
(kesal)
“Apppaaaaaaaaa! Suer lu bro?!!”

Adul lalu menepuk pundak Junaedi satu kali.

ADUL
(bisik)
“Biasa aja kali, gausah alay”

Junaedi mengambil nafas lalu membuangnya secara pelan.

JUNAEDI
“Alasanmu apa? Kok kamu berkhianat?”

ADUL
“Bukan gitu Pak. Menurutku tak sepenuhnya Lurah itu salah. Setelah aku ikut mengamati Pak Lurah, semakin aku tahu dia tidak bersalah. Justru si Boy anak kuliahan itu yang lebih cocok ditampilkan video cabulnya biar orang-orang tahu kelakuan anak itu”

HAKIM/RT
“Diam semuanya. Kenapa pembahasannya semakin melebar”

Adul menatap Hakim /RT

ADUL
“Boleh saya cerita bentar?”

HAKIM/RT
“Silahkan”


ADUl
“Gini, waktu itu aku sedang iseng-iseng main hape. Mau selfi di atas pohon. Tapi aku lihat si Boy lagi godain cewek pake kata cabul, yaudah kurekam sekalian. Aku rekam itu tujuannya biar kalian tahu kelakukan boy seperti apa?”

HAKIM/RT
“Tapi apa hubungannya dengan kasus ini?”

ADUl
“Hubungannya adalah dari kelakuannya saja begitu, sudah dipastikan dia juga main cara curang juga”

Hakim menggaruk-garuk kepala. Dan semua orang tak percaya Adul bisa berbicara selancar serta sehebat itu.

Feby lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

FEBY
(marah)
“Halah itu Cuma akal-akalanmu aja mas. Kamu ngelakuin itu paling gara-gara aku nolak cinta kamu kan mas?!”

Semua orang semakin tambah bingung. Tidak dengan Julehah yang tahu Adul suka Feby.

FEBY
“Kamu membalas dendam ke Boy kan? Itu motivasimu sebenarnya kan?! Jawab jujur!”

Adul menggeleng-gelengkan kepalanya.

ADUL
“Coba kita tonton video di flashdisk ini”

Dia menunjukkan jenis dan warna flashdisk yang mirip dengan flashdisk sebelumnya.




FEBY
“Horoook! Oh itu tadi kamu tukerin flashdisku pas aku lagi ke kamar mandi rumah Pak Jun ya?! Pas Boy juga belum dateng?! Dasar licik!”

Adul mencabut flashdisk sebelumnya lalu memasang flashdisk satunya ke port Laptop.

Video itu menampilkan Lurah keluar malem membawa kantong kresek hitam dengan mencurigakan.

Kemudian menampilkan lurah keluar pagi-pagi ke belakang pekarangan rumah.

Kemudian menampilkan Lurah bertemu dengan seseorang di sawah dengan pengambilan jarak jauh sehingga orang misterius itu tidak terlihat wajahnya.

Kemudian muncul Lurah berbicara :

LURAH
“Ya saya korupsi..., ya jika saya korupsi...”

Video itu sedikit terpotong-potong.

Junaedi dan warga semakin yakin bahwa Lurah melakukan kecurangan. Tetapi Lurah malah tertawa melihat itu.

JUNAEDI
“Bukti udah jelas, tak terbantahkan lagi!”

Semua warga yang hadir ribut sendiri mengobrol satu sama lain.

RT dan Hakim langsung mengetokkan palu ke mejanya. Hingga mejanya makin miring lalu ambruk. Semuanya hanya melihat sambil melongo.

HAKIM
“Tolong diam!. Sidang sudah diputuskan kalo Pak Lurah terbukti bersalah!”

Lurah langsung mengangkat tangannya tanda protes.

LURAH
“Tunggu dulu!. Boleh aku beri penjelasan”

HAKIM
“Silahkan”

Lurah lalu menghadap warganya dan secara bergantian menatap Junaedi.

LURAH
“Pas saya keluar malam-malam bawa kantong kresek itu, sebenarnya saya mau buang makanan jengkol. Saya malu jika orang lain tahu saya makan jengkol”

Semua warga berdesas desus sendiri dan Junaedi tak percaya.

JUNAEDI
“Tidak mungkin, omong kosong”

Lalu Julehah mengangkat tangannya.

JULEHAH
“Oh pantes, tiap malem dekat rumah Pak Lurah pasti bau jengkol”

Semua warga kembali berdesas desus dan Junaedi agak percaya.

LURAH
“Terus yang video nampilin saya keluar pagi-pagi ke pekarangan, itu sebenarnya saya mau buang hajat. WC saya mampet, jadi saya harus nyari alternatif lain”

HAKIM/RT
“Walah horrok, pantes kemaren aku pas ke pekarangan nginjek itu”

Semua warga memandangi hakim / RT dengan wajah mual.

LURAH
“Yang ketemu sama orang, itu kan Pak Edi. Dia kan emang sudah menjual sawahnya ke saya dengan syarat dijadikan lahan pjalan tol”

Edi muncul dari balik kerumunan warga lalu menganggukan kepalanya.

LURAH Cont’D
“Untuk video terakhir, itu dipotong-potong. Sebenarnya itu masih ada kata-kata lain”

Junaedi semakin emosi dan marah.

JUNAEDI
“Hoorrok, itu sudah jelas anda mengakui sendiri kalo anda korupsi, mau bantah apalagi?”
LURAH
(jengkel)
“Secara logika, mana ada maling teriak maling hah?!”

JUNAEDI
“Mana buktinya, kalo itu dipotong-potong?!”

Hakim / RT lalu berdiri dari kursinya.

HAKIM
“Sudah-sudah jangan bertengkar terus. Coba kita tanyakan ke nak Feby”

Feby bingung ingin menjawab apa.

FEBY
“Jujur saja, saya tidak tahu mengenai video yang terakhir. Karena saya tidak ikut waktu itu. Saya pulang duluan pas boy mau mengambil video yang terakhir tadi. Tapi kukasih tau, menurut saya itu video emang terlihat sudah diedit sudah tidak utuh lagi”

Adul lalu mengambil hapenya lalu menyetel sebuah video.

ADUL
“Kamu inget Feb, setelah aku ditolak kamu, sebenarnya aku gak benar-benar pergi jauh. Aku sembunyi dibalik semak-semak, ngeliat kegiatan kalian”

Di video itu menampilkan :

Boy menghampiri Lurah.
BOY
“Pak, bolehkah saya rekam anda sedang berbicara tentang anti korupsi. Nanti videonya akan saya putar di kampus saya sebagai contoh Lurah yang bersih dari korupsi?”

LURAH
“Baik”

Boy mempersiapkan bidikan kameranya, lalu Lurah membetulkan pakaiannya.

LURAH
“Sudah siap? Oh oke. Ya, jika saya orang jahat, ya saya korupsi. Jika saya korupsi, saya akan menghancurkan negara ini. Maka marilah jauhkan dari tindak korupsi mari hidup jujur dan bersih!”

Semuanya semakin berdesas desus. Dan Junaedi sudah tak bisa membantah lagi.

HAKIM / RT
“Sidang telah diputuskan bahwa Lurah tidak bersalah. Oke terima kasih”

Adul lalu menyetel video lagi di laptop itu.

ADUL
“Coba tonton dulu yang satu ini lagi”

Video itu menampilkan Lurah, Junaedi, 2 pns saling asik melempar lumpur sawah.

Semua warga menonton dengan sangat terheran-heran.

Lurah menghampiri Junaedi lalu mengajaknya salaman. Junaedi agak tidak mau, tetapi terpaksa dia akhirnya mau salaman.

Feby lalu menghampiri Adul lalu meminta maaf. Adul senyum lalu memaafkan.

Junaedi lalu memeluk Lurah lalu dia membisikan sesuatu di dekat telinga Lurah.

JUNAEDI
“Ini tidak akan berakhir begitu saja. Saya akan tetap menjegal setiap langkah projekmu itu”

Junaedi melepas pelukannya lalu pergi menjauh. Dan Lurah hanya memandangi kepergian Junaedi dengan senyuman.


TAMAT


1 Response to "Contoh Naskah Skenario Film Seri 21 Scene Durasi 30 Menit (Genre Komedi)"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel