Cara Meredam Kemarahan Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Pada dasarnya marah itu adalah hal yang sangat manusiawi. Setiap manusia pasti akan marah jika mendapatkan sesuatu yang tidak diinginkannya. Wajar saja orang pasti memiliki sifat marah atau emosi, karena dalam diri setiap manusia diberi sifat seperti itu.

Tapi adakalanya, kemarahan itu bisa mendatangkan kerugian. Ya benar, marah yang melampaui batas dapat menyebabkan kerusakan bagi si pemarah maupun bagi orang disekitarnya. Lingkungan di sekelilngnya pun mungkin dapat kena imbasnya.
Pada dasarnya marah itu adalah hal yang sangat manusiawi. Setiap manusia pasti akan marah jika mendapatkan sesuatu yang tidak diinginkannya. Wajar saja orang pasti memiliki sifat marah atau emosi, karena dalam diri setiap manusia diberi sifat seperti itu.   Tapi adakalanya, kemarahan itu bisa mendatangkan kerugian. Ya benar, marah yang melampaui batas dapat menyebabkan kerusakan bagi si pemarah maupun bagi orang disekitarnya. Lingkungan di sekelilngnya pun mungkin dapat kena imbasnya.   Amarah itu wajar, jika digunakan dalam situasi dan kondisi yang pas. Sebagai contoh bagi seorang suami yang istrinya diganggu orang lain, maka wajiblah sang suami marah. Bagi seorang pekerja, bolehlah dia marah jika hak upahnya tidak sesuai dengan perjanjian awal dari bosnya.   Yang tidak boleh adalah ketika kita marah pada hal-hal yang sebenarnya sepele. Misalnya, oranglain mendapat keberuntungan, kita merasa iri lalu marah, kemudian menganggap oranglain curang atau menuduh yang tidak baik.   Mengapa sih kita mudah sekali merasa marah? Pertanyaan semacam itu pasti selalu terbayang-bayang di pikiran kita, ya kan?. Saya pun selalu penasaran akan hal itu, kenapa bisa diri ini gampang sekali meledak-ledak dalam amarah.   Saya mencoba untuk membaca artikel-artikel yang banyak bertebaran di internet, termasuk saya juga membuka video di youtube. Lalu saya menemukan sebuah video kajian dari seorang Kyai atau Ustad yang menjelaskan, mengapa orang gampang sekali marah atau mudah tersinggung. Beliau menjawab, “Karena kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan”. Begitulah jawaban beliau, dan membuatku tersadar bahwa memanglah demikian adanya.   Kita akan marah jika orang lain tidak hormat pada kita, karena kita INGIN dihargai dan dihormati. Kita pasti marah jika barang kesayangan kita rusak, karena kita INGIN barang kita awet tahan lama. Itulah penyebab kenapa kita gampang sekali marah, karena kita mengalami keadaan situasi kondisi dimana hal itu yang tidak kita inginkan. Tidak seperti itu yang kita harapkan, bukan kemauan kita.   Saya akan berbagi pengalaman yang tidak menyenangkan, hingga membuat saya marah besar. Dan sekaligus bagaimana cara saya meredam kemarahan itu dengan cara saya sendiri.   Bisa saya katakan secara jujur, saya mungkin bisa dibilang korban bullying atau mungkin oranglain merasa iri terhadap kehidupan saya ini.   Sejak kecil, orang mudah sekali meremehkan dan menghina saya. Kok bisa? Ya mungkin karena badanku yang cukup dibilang kurus. Yo know lah, anggapan stereotip yang menyatakan bahwa orang kurus itu identik dengan lemah, tidak berdaya, rapuh, dan gampang dikalahkan. Anggapan itu tidak seluruhnya benar, namun tidak salah juga. Bahkan diriku sendiri sedikit setuju dengan hal itu, hehe.   Pernah saya diberi harapan palsu (php) oleh guru olahraga sewaktu SD. Jadi, saat itu ada lomba gerak jalan antar sekolah sekecamatan. Nah, di kelas saya, semua murid laki-laki dilatih selama beberapa minggu untuk mengikuti lomba tersebut oleh guruh olahraga. Singkatnya, ketika acara lomba itu berlangsung, saya dan satu teman bertubuh kecil tidak boleh mengikuti lomba itu oleh guru olahraga saya. Dan kamu tau, apa yang dia katakan waktu itu, “Jef, jagain tas temen-temenmu ya”. Derrr! Sakit hati saya saat itu juga (bahkan saat saya mengingat dan menulis ini, saya merasa jengkel). Marah? Ya jelaslah. Gimana tidak marah? Buat apa saya ikut latihan, ikut rombongan, tapi ujungnya disuruh jagain tas. Malu? Jelaslah, ibarat saya sudah latian untuk perang. Di medan perang, malah disuruh jagain tas. Mana waktu itu ada cewek satu kelas yang kutaksir lagi, duh malunya hehe. Dan apa yang kuperbuat untuk meredam itu? Yes, saya Cuma bisa berharap, guru itu akan menyesal suatu hari nanti, karena menyia-nyiakan manusia hebat ini, wkwk.   Bagaimana dengan teman-teman sekolah? Ya sama saja. Disamping saya diremehkan karena tubuhku kurus, pun juga mereka iri pada kehidupan saya yang dianggap orang berada.   Sekali lagi, saya pernah lagi merasakan diperlakukan tidak menyenangkan oleh guru. Saat itu saya dan teman saya dapat giliran tempat duduk di depan meja guru (jadi setiap seminggu sekali tempat duduk siswa bergilir berpindah-pindah secara rotasi). Waktu itu, pelajaran matematika, guru sedang memberi soal dan harus dikerjakan saat itu juga. Yes, boleh dibilang jujur, saya tidak pandai sekali matematika. Tapi entah kenapa waktu itu saya bisa mengerjakan walau agak lola sedikit, hehe. Nah, teman sebangku saya meminta saya mengambil buku contekan milik teman di meja lain. Apa yang terjadi? Yes, guru saya lalu melihat itu dan mengira saya mencontek. Apa yang guru saya katakan? Dia bilang, “Jef, jef, kamu besok mau jadi apa sih? Tukang pacul (mencangkul sawah)?”. Jeder jeder!!! Mantab jiwa. Sakit gais hati saya. Padahal saya berusaha mati-matian untuk menjadi ‘pintar’, tetapi malah dibegitukan. Ya ya, saya pasrah dan meredam marah dengan berharap guru itu akan menyesal dikemudian hari, wkwk.   Termasuk juga, saya juga sering diremehkan, dihina, bahkan diminta duit sama anak-anak preman sekolah. Karena apa? Yes, inget, saya ini kurus, dan sekolah itu deket daerahnya mereka (kandang mereka).   Bagaimana dengan kehidupan SMA? Tidak begitu jauh masalahnya.   Ku singkat ya, gimana kehidupanku saat kuliah? Wkw sekali lagi, malu rasanya bahwa masalahnya pun sama saja. Saya masuk kuliah di jurusan yang ‘gue’ banget. Yes, saya ambil jurusan perfilman (cita-cita sejak dulu pengin jadi penulis skenario dan sutradara). Nah, ada tradisi di kampus kalau setiap mahasiswa angkatan baru harus bentuk kelompok dan membuat masing-masing satu film, dan panitianya adalah mahasiswa kakak tingkat.   Oke, terbagilah kami menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok dibebaskan mengatur siapa yang menjadi produsernya, sutradara, kameramen, dan lain-lain. Oke saya ajukan diri sebagai penulis skenario (gue ahli disitu).   Saat brainstroming untuk menentukan ide cerita, semua diskusi dan yes, saya punya ide cerita yang akhirnya dikembangkan menjadi naskah. Dalam penggodokan pertama yang jadi kameramen (laki-laki), berdiskusi dengan saya.   Pertemuan pembahasan pembuatan film menjadi sedikit melambat karena tugas kuliah mulai berdatangan. Dan iya, saya jatuh hati sama yang jadi produsernya (cewek). Saya sempat minta nomer WA, mengenal akrab, dan mengajaknya makan dua kali.   Nah suatu hari, produser mengajak rapat pembahasan film di perpustakan kampus. Yang hadir tiga orang, yaitu saya, produser, kameramen. Oke, singkatnya, saat itu saya marah besar. Lah kok bisa? Kami kan duduk lesehan di karpet perpus. Nah si kameramen (cowok) tiduran tapi kepalanya ditaruh di paha produser yang sedang duduk. Dan menjengkelkannya, si produser itu mengelus-elus rambutnya si kameramen itu. Duk duk jedar jedar halilintar asyiap!!!. Marah? Ya iyalah, sakit hati bertubi-tubi. Dan ya sejak saat itu, saya jarang mau diajak kumpul kelompok.   Nah, yang jadi sutradara, tidak mau menggarap film dari skenario itu. Dia ingin mengganti alur ceritanya tapi ide cerita masih tetap. Karena menurut dia, alurnya terlalu seperti sinetron (bagian pengembangan bukan saya yang buat, karena proses development naskah nya, saya tidak diajak). Sutradara ingin memasrahkan pembuatan filmnya kepada saya, karena dia tahu, ide cerita itu saya yang bikin dan dia tahu kalau saya punya pengalaman kerja di perusahaan film di jakarta dulunya.   Dan apa yang dibilang oleh produser waktu itu? Dia bilang, “Jangan, jangan jefri, dia kaya gitu og, dia gak bisa”. Dia ngomong dengan sedikit cengengesan menghina di depan saya. What the hell gais? Dia anak bau kencur baru lulusan smk dan saya juga sempet jatuh cinta sama dia. Berani-beraninya ngomong seperti itu? Wkwk.   Singkatnya, pada proses film dibuat, yes saya dijadikan boom operator (yang pegang microphone) oleh produser itu. What? Saya Cuma megang microphone doang, yang semua orang juga bisa. Oke, sakit hati, syuting hari berikutnya, saya tidak ikut.   Dan yes, singkatnya, pemutaran film di studio kampus, semua kelompok telah tiba. Saya ikut hadir menonton itu walau sedikit kesal kalau harus melihat produser itu.   Nah, film dari kelompok saya diputar dan mendapat apresiasi bagus. Jadi pas credit title akhir, ketika muncul nama produser, sutradara, dan lain-lain, semua mendapat tepuk tangan. Dan giliran saya, yes saya ditulis sebagai boom operotor doang! Wkwk. Tidak ada satupun tepuk tangan, karena ya semua orang bisa pegang mic doang.   Terus siapakah yang salah? Kenapa saya tidak ditulis sebagai pembuat ide cerita maupun penulis naskah? Apakah salah editornya? Nah, Setelah kutelisik, editornya sudah memberitahu saya bahwa bukan keinginan dia. Bahkan proses dalam pembuatan poster film sebelum acara diputar, dia berinisiatif menambahkan tulisan ide cerita nama saya. Padahal si produsernya hanya mengirimkan list atau daftar credit title nya, saya hanya sebagai boom operator.   Yes, masalahnya sekali lagi dari produser. Dia sangat merendahkan dan menghina saya. Bagaimana bisa dianggap wajar dia berpikir seperti itu, sedangkan baru semester satu, dia langsung menyimpulkan saya bodoh dalam film?   Terus apasih dampak signifikan dari kejadian itu? Mau tahu? Dampaknya adalah saya tidak mendapatkan nama baik. Lah kok bisa? Sebagaimana diketahui para film maker, mereka mengandalkan personal branding.   Jadi gini, dari semua kelompok, kan ada bagiannya masing-masing tuh. Misal yang jadi sutradara, maka otomatis, dia akan diberi label bisa menyutradarai. Yang pegang kameramen, maka dia dianggap pintar kamera. Nah ketika nantinya tugas-tugas kuliah berikutnya, ada pembagian tugas kelompok film. Pasti anak-anak akan memberi posisi sesuai labelnya. Dan kamu sudah tahukan? Jika ada tugas bikin film, saya pasti disuruh jadi apa?, haha.   Oke, kalau cerita di kos gimana? Oke gini. Saya di kos punya kawan akrab inisial B. Selama dua tahun ngekos, sering nyari makan bareng dan bahkan bertukar pikiran.   Nah, di kos saya, untuk urusan listrik, kami patungan 10 ribu setiap abis (kami pakai pulsa listrik). Yes, kadang saya bahkan anak lainnya, agak terlambat membayar iurannya. Jadi biasanya ada satu anak yang membelikan 50 ribu listrik, nanti uangnya diganti sama anak-anak.   Suatu hari, seperti biasa saya pulang ke kos sehabis kerja sore hari (saya kuliah sambil kerja). Betapa kaget dan marahnya saya melihat tulisan di depan pintu kamar kos saya saja.   Saya capek kerja pengin tidur malah disuguhi tulisan, “Cuk, bayar listrik cuk, otakmu dipake”. Kamu tahu saya terlambat bayar berapa hari? Yes, seingatku sekitar 4-5 hari. Kok bisa terlambat? Yes, saya sambil kerja di Event Organizer. Terkadang saya beberapa hari tidak pulang ke kos karena biasanya acaranya di luar kota berhari-hari. Atau memang terlambat karena lupa, dan yang jelas bukan saya saja. Dan juga saya ngekos sudah 2 tahun disitu.   Saya tidak habis pikir, karena 10 ribu terlambat 4-5 hari, dan saya jarang pakai listriknya, bisa dikasih tulisan semacam itu di kamar kos saya saja. Bagaimana jika saya hutang 1 juta dan terlambat seminggu???   Siapakah pelakunya? Kamu sulit membayangkan, karena pelakunya adalah si B teman akrab saya.   Saat itu juga, saya foto tulisan itu, lalu saya bagikan ke grub WA kos. Saya minta maaf sambil sedikit menyindir halus. Dan tak lupa bayar 10 juta, eh 10 ribu, yang kutaruh di kotak bayar iuran.   Kamu penasaran tidak sama anak-anak kos lain? Apa yang mereka perbuat? Kalian pasti tidak habis pikir. Yes, mereka bodo amat akan kejadian itu, haha.   Lebih parahnya, ada satu anak kos berinisial H, yang dulunya tidak akrab dengan si B, tiba-tiba langsung berteman baik. Makan sering bareng, ngegame bareng, dan lain-lain. Haha benar-benar mengambil kesempatan dalam kesempitan.   Semakin parahnya lagi, kejadian itu kan beberapa hari sebelum bulan puasa ramadhan. Nah, masuklah bulan puasa. Ketika sahur pertama, si B ini mengajak teman-teman kos lain nyari warung bareng. You know, saya doang yang tidak dibangunin dan tidak diajak. Pantes marah tidak saya gais?   Saya bingung, kenapa anak-anak lain juga ikut-ikutan membenci saya? Kenapa tidak salah satu orang waras diantara mereka yang menjadi mediatornya? Penengahnya? Seorang netral. Kenapa tidak ada? Apakah saya sangat pantas untuk dimusuhi? Apakah saya racun? Hehe.   Yes jawabannya adalah karena saya kurus, gampang dikalahkan.   Ah begitulah kemarahan yang menyertai kehidupan saya. Sehingga saya lebih mudah meledak-ledak dalam kemarahan, walau hal sepele sekalipun.   Saya masih belum bisa membedakan mana marah yang diperbolehkan dan mana yang dilarang. Karena kebanyakan saya marah karena hak saya dirampas dan harga diri saya dilecehkan.   Saya banyak berdiskusi dengan beberapa orang penyabar maupun para orang yang memiliki banyak ilmu. Dan dapat saya simpulkan dan saya kemas adalah sebagai berikut.   Kunci untuk meredam amarah, marah, maupun emosi berlebihan adalah berwudhu (bagi muslim) dan atau mandi. Karena marah itu mengandung energi panas, maka cara paling ampuh adalah dengan air.   Dan berpikirlah bahwa tidak semua yang kita inginkan, akan kita dapatkan. Kita dihina, dicaci, tidak diberi respek, padahal kita ingin dihormati. Yasudahlah, anggap saja itu pahit nya kehidupan. Pasti akan ada balasan untuk para penghina itu. Karena kemungkinan kita dihina, karena kita mungkin juga pernah dan sering menghina orang lain. Maka dari itu, mari kita menjadi orang baik.   Dan satu kali, salah satu doa mustajab dan pasti dikabulkan oleh Allah adalah doa nya orang teraniaya (baik lahir maupun batin). Orang yang dihina, lalu bersabar, kemudian berdoa yang baik, Insya Allah terkabul.   Contoh, ketika saya dihina dan diremehkan, saya berdoa, “Ya Allah, berilah hamba pekerjaan di film dan jadikanlah saya artis”. Ya doa saya dikabulkan waktu itu, walau tidak sesempurna itu. Di tahun 2012 saya sempet kerja di rumah produksi film Jakarta dan sempet juga disuruh beberapa kali nongol di frame kamera (figuran tambahan, hehe, mayan numpang terkenal). Yes, waktu itu saya kenal banyak film maker dan artis profesional. Dan di desa ku, malah saya dianggap artis karena beberapa kali muka saya nongol di tv. Padahal kan saya film maker bukan artis (hanya sekedar figuran tambahan).

Amarah itu wajar, jika digunakan dalam situasi dan kondisi yang pas. Sebagai contoh bagi seorang suami yang istrinya diganggu orang lain, maka wajiblah sang suami marah. Bagi seorang pekerja, bolehlah dia marah jika hak upahnya tidak sesuai dengan perjanjian awal dari bosnya.

Yang tidak boleh adalah ketika kita marah pada hal-hal yang sebenarnya sepele. Misalnya, oranglain mendapat keberuntungan, kita merasa iri lalu marah, kemudian menganggap oranglain curang atau menuduh yang tidak baik.

Mengapa sih kita mudah sekali merasa marah? Pertanyaan semacam itu pasti selalu terbayang-bayang di pikiran kita, ya kan?. Saya pun selalu penasaran akan hal itu, kenapa bisa diri ini gampang sekali meledak-ledak dalam amarah.

Saya mencoba untuk membaca artikel-artikel yang banyak bertebaran di internet, termasuk saya juga membuka video di youtube. Lalu saya menemukan sebuah video kajian dari seorang Kyai atau Ustad yang menjelaskan, mengapa orang gampang sekali marah atau mudah tersinggung. Beliau menjawab, “Karena kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan”. Begitulah jawaban beliau, dan membuatku tersadar bahwa memanglah demikian adanya.

Kita akan marah jika orang lain tidak hormat pada kita, karena kita INGIN dihargai dan dihormati. Kita pasti marah jika barang kesayangan kita rusak, karena kita INGIN barang kita awet tahan lama. Itulah penyebab kenapa kita gampang sekali marah, karena kita mengalami keadaan situasi kondisi dimana hal itu yang tidak kita inginkan. Tidak seperti itu yang kita harapkan, bukan kemauan kita.

Saya akan berbagi pengalaman yang tidak menyenangkan, hingga membuat saya marah besar. Dan sekaligus bagaimana cara saya meredam kemarahan itu dengan cara saya sendiri.

Bisa saya katakan secara jujur, saya mungkin bisa dibilang korban bullying atau mungkin oranglain merasa iri terhadap kehidupan saya ini.

Sejak kecil, orang mudah sekali meremehkan dan menghina saya. Kok bisa? Ya mungkin karena badanku yang cukup dibilang kurus. Yo know lah, anggapan stereotip yang menyatakan bahwa orang kurus itu identik dengan lemah, tidak berdaya, rapuh, dan gampang dikalahkan. Anggapan itu tidak seluruhnya benar, namun tidak salah juga. Bahkan diriku sendiri sedikit setuju dengan hal itu, hehe.

Pernah saya diberi harapan palsu (php) oleh guru olahraga sewaktu SD. Jadi, saat itu ada lomba gerak jalan antar sekolah sekecamatan. Nah, di kelas saya, semua murid laki-laki dilatih selama beberapa minggu untuk mengikuti lomba tersebut oleh guruh olahraga. Singkatnya, ketika acara lomba itu berlangsung, saya dan satu teman bertubuh kecil tidak boleh mengikuti lomba itu oleh guru olahraga saya. Dan kamu tau, apa yang dia katakan waktu itu, “Jef, jagain tas temen-temenmu ya”. Derrr! Sakit hati saya saat itu juga (bahkan saat saya mengingat dan menulis ini, saya merasa jengkel). Marah? Ya jelaslah. Gimana tidak marah? Buat apa saya ikut latihan, ikut rombongan, tapi ujungnya disuruh jagain tas. Malu? Jelaslah, ibarat saya sudah latian untuk perang. Di medan perang, malah disuruh jagain tas. Mana waktu itu ada cewek satu kelas yang kutaksir lagi, duh malunya hehe. Dan apa yang kuperbuat untuk meredam itu? Yes, saya Cuma bisa berharap, guru itu akan menyesal suatu hari nanti, karena menyia-nyiakan manusia hebat ini, wkwk.

Bagaimana dengan teman-teman sekolah? Ya sama saja. Disamping saya diremehkan karena tubuhku kurus, pun juga mereka iri pada kehidupan saya yang dianggap orang berada.

Sekali lagi, saya pernah lagi merasakan diperlakukan tidak menyenangkan oleh guru. Saat itu saya dan teman saya dapat giliran tempat duduk di depan meja guru (jadi setiap seminggu sekali tempat duduk siswa bergilir berpindah-pindah secara rotasi). Waktu itu, pelajaran matematika, guru sedang memberi soal dan harus dikerjakan saat itu juga. Yes, boleh dibilang jujur, saya tidak pandai sekali matematika. Tapi entah kenapa waktu itu saya bisa mengerjakan walau agak lola sedikit, hehe. Nah, teman sebangku saya meminta saya mengambil buku contekan milik teman di meja lain. Apa yang terjadi? Yes, guru saya lalu melihat itu dan mengira saya mencontek. Apa yang guru saya katakan? Dia bilang, “Jef, jef, kamu besok mau jadi apa sih? Tukang pacul (mencangkul sawah)?”. Jeder jeder!!! Mantab jiwa. Sakit gais hati saya. Padahal saya berusaha mati-matian untuk menjadi ‘pintar’, tetapi malah dibegitukan. Ya ya, saya pasrah dan meredam marah dengan berharap guru itu akan menyesal dikemudian hari, wkwk.

Termasuk juga, saya juga sering diremehkan, dihina, bahkan diminta duit sama anak-anak preman sekolah. Karena apa? Yes, inget, saya ini kurus, dan sekolah itu deket daerahnya mereka (kandang mereka).

Bagaimana dengan kehidupan SMA? Tidak begitu jauh masalahnya.

Ku singkat ya, gimana kehidupanku saat kuliah? Wkw sekali lagi, malu rasanya bahwa masalahnya pun sama saja. Saya masuk kuliah di jurusan yang ‘gue’ banget. Yes, saya ambil jurusan perfilman (cita-cita sejak dulu pengin jadi penulis skenario dan sutradara). Nah, ada tradisi di kampus kalau setiap mahasiswa angkatan baru harus bentuk kelompok dan membuat masing-masing satu film, dan panitianya adalah mahasiswa kakak tingkat.

Oke, terbagilah kami menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok dibebaskan mengatur siapa yang menjadi produsernya, sutradara, kameramen, dan lain-lain. Oke saya ajukan diri sebagai penulis skenario (gue ahli disitu).

Saat brainstroming untuk menentukan ide cerita, semua diskusi dan yes, saya punya ide cerita yang akhirnya dikembangkan menjadi naskah. Dalam penggodokan pertama yang jadi kameramen (laki-laki), berdiskusi dengan saya.

Pertemuan pembahasan pembuatan film menjadi sedikit melambat karena tugas kuliah mulai berdatangan. Dan iya, saya jatuh hati sama yang jadi produsernya (cewek). Saya sempat minta nomer WA, mengenal akrab, dan mengajaknya makan dua kali.

Nah suatu hari, produser mengajak rapat pembahasan film di perpustakan kampus. Yang hadir tiga orang, yaitu saya, produser, kameramen. Oke, singkatnya, saat itu saya marah besar. Lah kok bisa? Kami kan duduk lesehan di karpet perpus. Nah si kameramen (cowok) tiduran tapi kepalanya ditaruh di paha produser yang sedang duduk. Dan menjengkelkannya, si produser itu mengelus-elus rambutnya si kameramen itu. Duk duk jedar jedar halilintar asyiap!!!. Marah? Ya iyalah, sakit hati bertubi-tubi. Dan ya sejak saat itu, saya jarang mau diajak kumpul kelompok.

Nah, yang jadi sutradara, tidak mau menggarap film dari skenario itu. Dia ingin mengganti alur ceritanya tapi ide cerita masih tetap. Karena menurut dia, alurnya terlalu seperti sinetron (bagian pengembangan bukan saya yang buat, karena proses development naskah nya, saya tidak diajak). Sutradara ingin memasrahkan pembuatan filmnya kepada saya, karena dia tahu, ide cerita itu saya yang bikin dan dia tahu kalau saya punya pengalaman kerja di perusahaan film di jakarta dulunya.

Dan apa yang dibilang oleh produser waktu itu? Dia bilang, “Jangan, jangan jefri, dia kaya gitu og, dia gak bisa”. Dia ngomong dengan sedikit cengengesan menghina di depan saya. What the hell gais? Dia anak bau kencur baru lulusan smk dan saya juga sempet jatuh cinta sama dia. Berani-beraninya ngomong seperti itu? Wkwk.

Singkatnya, pada proses film dibuat, yes saya dijadikan boom operator (yang pegang microphone) oleh produser itu. What? Saya Cuma megang microphone doang, yang semua orang juga bisa. Oke, sakit hati, syuting hari berikutnya, saya tidak ikut.

Dan yes, singkatnya, pemutaran film di studio kampus, semua kelompok telah tiba. Saya ikut hadir menonton itu walau sedikit kesal kalau harus melihat produser itu.

Nah, film dari kelompok saya diputar dan mendapat apresiasi bagus. Jadi pas credit title akhir, ketika muncul nama produser, sutradara, dan lain-lain, semua mendapat tepuk tangan. Dan giliran saya, yes saya ditulis sebagai boom operotor doang! Wkwk. Tidak ada satupun tepuk tangan, karena ya semua orang bisa pegang mic doang.

Terus siapakah yang salah? Kenapa saya tidak ditulis sebagai pembuat ide cerita maupun penulis naskah? Apakah salah editornya? Nah, Setelah kutelisik, editornya sudah memberitahu saya bahwa bukan keinginan dia. Bahkan proses dalam pembuatan poster film sebelum acara diputar, dia berinisiatif menambahkan tulisan ide cerita nama saya. Padahal si produsernya hanya mengirimkan list atau daftar credit title nya, saya hanya sebagai boom operator.

Yes, masalahnya sekali lagi dari produser. Dia sangat merendahkan dan menghina saya. Bagaimana bisa dianggap wajar dia berpikir seperti itu, sedangkan baru semester satu, dia langsung menyimpulkan saya bodoh dalam film?

Terus apasih dampak signifikan dari kejadian itu? Mau tahu? Dampaknya adalah saya tidak mendapatkan nama baik. Lah kok bisa? Sebagaimana diketahui para film maker, mereka mengandalkan personal branding.

Jadi gini, dari semua kelompok, kan ada bagiannya masing-masing tuh. Misal yang jadi sutradara, maka otomatis, dia akan diberi label bisa menyutradarai. Yang pegang kameramen, maka dia dianggap pintar kamera. Nah ketika nantinya tugas-tugas kuliah berikutnya, ada pembagian tugas kelompok film. Pasti anak-anak akan memberi posisi sesuai labelnya. Dan kamu sudah tahukan? Jika ada tugas bikin film, saya pasti disuruh jadi apa?, haha.

Oke, kalau cerita di kos gimana? Oke gini. Saya di kos punya kawan akrab inisial B. Selama dua tahun ngekos, sering nyari makan bareng dan bahkan bertukar pikiran.

Nah, di kos saya, untuk urusan listrik, kami patungan 10 ribu setiap abis (kami pakai pulsa listrik). Yes, kadang saya bahkan anak lainnya, agak terlambat membayar iurannya. Jadi biasanya ada satu anak yang membelikan 50 ribu listrik, nanti uangnya diganti sama anak-anak.

Suatu hari, seperti biasa saya pulang ke kos sehabis kerja sore hari (saya kuliah sambil kerja). Betapa kaget dan marahnya saya melihat tulisan di depan pintu kamar kos saya saja.

Saya capek kerja pengin tidur malah disuguhi tulisan, “Cuk, bayar listrik cuk, otakmu dipake”. Kamu tahu saya terlambat bayar berapa hari? Yes, seingatku sekitar 4-5 hari. Kok bisa terlambat? Yes, saya sambil kerja di Event Organizer. Terkadang saya beberapa hari tidak pulang ke kos karena biasanya acaranya di luar kota berhari-hari. Atau memang terlambat karena lupa, dan yang jelas bukan saya saja. Dan juga saya ngekos sudah 2 tahun disitu.

Saya tidak habis pikir, karena 10 ribu terlambat 4-5 hari, dan saya jarang pakai listriknya, bisa dikasih tulisan semacam itu di kamar kos saya saja. Bagaimana jika saya hutang 1 juta dan terlambat seminggu???

Siapakah pelakunya? Kamu sulit membayangkan, karena pelakunya adalah si B teman akrab saya.

Saat itu juga, saya foto tulisan itu, lalu saya bagikan ke grub WA kos. Saya minta maaf sambil sedikit menyindir halus. Dan tak lupa bayar 10 juta, eh 10 ribu, yang kutaruh di kotak bayar iuran.

Kamu penasaran tidak sama anak-anak kos lain? Apa yang mereka perbuat? Kalian pasti tidak habis pikir. Yes, mereka bodo amat akan kejadian itu, haha.

Lebih parahnya, ada satu anak kos berinisial H, yang dulunya tidak akrab dengan si B, tiba-tiba langsung berteman baik. Makan sering bareng, ngegame bareng, dan lain-lain. Haha benar-benar mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Semakin parahnya lagi, kejadian itu kan beberapa hari sebelum bulan puasa ramadhan. Nah, masuklah bulan puasa. Ketika sahur pertama, si B ini mengajak teman-teman kos lain nyari warung bareng. You know, saya doang yang tidak dibangunin dan tidak diajak. Pantes marah tidak saya gais?

Saya bingung, kenapa anak-anak lain juga ikut-ikutan membenci saya? Kenapa tidak salah satu orang waras diantara mereka yang menjadi mediatornya? Penengahnya? Seorang netral. Kenapa tidak ada? Apakah saya sangat pantas untuk dimusuhi? Apakah saya racun? Hehe.

Yes jawabannya adalah karena saya kurus, gampang dikalahkan.

Ah begitulah kemarahan yang menyertai kehidupan saya. Sehingga saya lebih mudah meledak-ledak dalam kemarahan, walau hal sepele sekalipun.

Saya masih belum bisa membedakan mana marah yang diperbolehkan dan mana yang dilarang. Karena kebanyakan saya marah karena hak saya dirampas dan harga diri saya dilecehkan.

Saya banyak berdiskusi dengan beberapa orang penyabar maupun para orang yang memiliki banyak ilmu. Dan dapat saya simpulkan dan saya kemas adalah sebagai berikut.

Kunci untuk meredam amarah, marah, maupun emosi berlebihan adalah berwudhu (bagi muslim) dan atau mandi. Karena marah itu mengandung energi panas, maka cara paling ampuh adalah dengan air.

Dan berpikirlah bahwa tidak semua yang kita inginkan, akan kita dapatkan. Kita dihina, dicaci, tidak diberi respek, padahal kita ingin dihormati. Yasudahlah, anggap saja itu pahit nya kehidupan. Pasti akan ada balasan untuk para penghina itu. Karena kemungkinan kita dihina, karena kita mungkin juga pernah dan sering menghina orang lain. Maka dari itu, mari kita menjadi orang baik.

Dan satu kali, salah satu doa mustajab dan pasti dikabulkan oleh Allah adalah doa nya orang teraniaya (baik lahir maupun batin). Orang yang dihina, lalu bersabar, kemudian berdoa yang baik, Insya Allah terkabul.

Contoh, ketika saya dihina dan diremehkan, saya berdoa, “Ya Allah, berilah hamba pekerjaan di film dan jadikanlah saya artis”. Ya doa saya dikabulkan waktu itu, walau tidak sesempurna itu. Di tahun 2012 saya sempet kerja di rumah produksi film Jakarta dan sempet juga disuruh beberapa kali nongol di frame kamera (figuran tambahan, hehe, mayan numpang terkenal). Yes, waktu itu saya kenal banyak film maker dan artis profesional. Dan di desa ku, malah saya dianggap artis karena beberapa kali muka saya nongol di tv. Padahal kan saya film maker bukan artis (hanya sekedar figuran tambahan).

0 Response to "Cara Meredam Kemarahan Berdasarkan Pengalaman Pribadi "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel